Beda Biologis, Beda Psikologis

0
9
foto:https://www.rayapos.com

Seringkali orangtua terheran-heran melihat anak lelaki yang cenderung lebih aktif, sedangkan perempuan terkesan lebih kalem dan manut. Mengapa demikian?

Wartapilihan.com, Jakarta –Menurut psikolog Hilman Al Madani, tidak hanya perbedaan keaktifan dan kepatuhan yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, tapi juga dalam prestasi akademis. Anak perempuan seringkali dinilai lebih rajin dan lebih cerdas di kelas.

“Laki-laki punya berat otak 1400 gram, sedangkan wanita hanya 1250 gram meskipun kerapatan sel otak perempuan melebihi otak laki-laki. Artinya, anak laki-laki tidak bisa dikatakan peluang prestasi akademisnya lebih rendah dari pada perempuan,” terang Hilman.

“Meskipun, potensi otak tidak hanya di ukur dari beratnya saja. Jadi, apa yang salah dong?” Tanya dia, dalam Fanpage Facebook Yayasan Kita dan Buah Hati, Rabu, (29/11/2017).

Menurutnya, adalah sebuah fakta bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki otak yang beda, kecenderungan yang berbeda, dan tentu saja kebutuhan yang berbeda pula. Ia menerangkan, Michael Gurian dalam bukunya, “Boys and Girls Learn Differently!” menuturkan perbedaan keduanya.

Pertama, area korteks anak laki-laki lebih banyak dimanfaatkan sebagai fungsi spasial mekanis. Hal ini menyebabkan anak laki-laki akan lebih suka bergerak, atau bahkan menggerakkan sesuatu. Contohnya, anak laki-laki lebih suka main bola, berlari dan melompat, atau paling tidak menggerak-gerakkan tangan dan kakinya sendiri.

“Jadi, jangan aneh, dan kurangi menyuruh mereka untuk diam duduk manis. Kenapa? Itu kebutuhannya! Satu hal lagi, kadar testosteron yang 20 kali lipat daripada perempuan membuat mereka lebih agresif dan lebih mudah fokus pada satu tujuan,” imbuh Trainer di Yayasan Kita dan Buah Hati itu.

Kedua, anak laki-laki memiliki kadar serotonin (zat kimia di otak yang berkaitan dengan ketenangan) dan oxytocin (berkaitan dengan ikatan) yang lebih sedikit. Hal ini menyebabkan anak laki-laki kebanyakan akan lebih bersikap impulsif (mudah terdorong atau terstimulasi) dibandingkan wanita.

“Jadi, jangan aneh kalau anak laki-laki kita mudah terlibat masalah karena sifatnya yang impulsif, jadi gampang atau cepat bosan, agak sulit menjadi pendengar yang baik, dan kurang mampu untuk berlama-lama menekuni tugas perintil-perintilan secara telaten,” tandasnya.

Ketiga, anak lelaki cenderung lebih familiar dalam hal mengenali simbol, bentuk-bentuk abstraksi, diagram, gambar, dan obyek bergerak ketimbang kata-kata yang monoton.

“Hal ini membuat mereka akan lebih unggul dalam pelajaran Matematika dan Fisika, lebih tertarik pada permainan-permainan (games), daripada diminta menjadi pendengar yang baik atau belajar secara verbal,”

Maka dari itu, Hilman mengungkapkan, orangtua perlu waspada. Dengan testosteron yang berlipat serta lebih suka gambar dan visual, anak laki-laki kita rentan terkena paparan pornografi dan games.

“Saya jadi tahu alasannya kenapa para produsen porno banyak menyasar anak laki-laki kita dan memasukkannya lewat games. Ternyata mereka mempelajari ini juga untuk menyasar anak laki-laki kita. Lalu kenapa kita ngga belajar juga?” Imbuhnya.

Dalam dunia pendidikan, ia menuturkan, beberapa sekolah di luar sana sudah menerapkan “Segregation” atau pemisahan antara kelas laki-laki dengan kelas perempuan. “Bukan hanya soal muhrim atau non muhrim (sebagaimana aturan dalam islam), tapi soal otak yang memang Allah jadikan berbeda dan tentu saja membutuhkan perlakuan, penanganan, pendidikan, dan pengasuhan yang berbeda pula,” tukas Hilman.

Ia menekankan agar anak laki-laki tidak dibandingkan dengan anak perempuan; serta memberi perlakuan sebagaimana fitrahnya.

“Laki-laki itu imam. Persilahkan mereka belajar menjadi pemimpin, belajar mengatur dan mengambil keputusan, belajar menghadapi dan memaknai kegagalan dan bangkit lagi, karena mereka nantinya akan menjadi pemimpin, paling tidak dalam lingkup keluarganya sendiri,”

Kedua, ia menyarankan, dalam pembelajaran dapat merubah pola kegiatan dan pembelajaran untuk anak laki-laki menjadi lebih banyak gerakan dan variasi.

“Lebih banyak kolaborasi, banyak permainan dan tantangan; belajar dari kesukaan mereka terhadap games karena kadar adrenalin dan testosteron mereka yang tinggi,” tandasnya.
Eveline Ramadhini

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here