Adab Hubungan Guru dan Anak Didik

by
foto:istimewa

Kali ini Dr Adian membahas tentang pentingnya murid diajar adab dulu sebelum diberi ilmu. Simak penuturannya :

Wartapilihan.com, Depok –Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pemirsa selamat berjumpa kembali di forum KLIPIK : Klinik Pendidikan kita. Apa yang kita bahas sekarang mas Indra? Kali ini kita membahas tentang Guru Budi di Sampang.

Memang banyak ya komentar-komentar di media sosial yang cukup dramatis yang tidak terimadengan perlakuan si murid ini terhadap gurunya . Itu guru Budi ya, seorang guru seni di Sampang. Sebenarnya kalau kita perhatikan kasus ini, itu harus menyadarkan kita akan makna guru. Jadi, kita harus mereview kembali konsep guru dan konsep murid, kembalilah kita pada konsep adab itu.

Sebetulnya seperti istilah Guru Budi yang disini disebut guru honorer, seolah olah ada istilah guru honorer dan guru tetap. Jadi, guru honorer ini biasanya guru yang beberapa kali menuntut untuk menjadi pegawai negeri supaya dianggap sebagai guru tetap, jadi seolah-olah guru honorer ini guru tidak tetap.

Yang namanya guru tidak tetap itu sepertinya bukan guru karena dia bukan tetap guru, jadi kalau guru tetap dia tetap guru tapi kalau guru honorer seakan-akan dia jadi guru karena dikasih honor artinya kalau dia tidak digaji dia bukan guru dong.

Istilah ini menurut saya tidak tepat, jadi filosofi guru itu siapapun yang mengajar itu kan guru dan guru itu wajib dihormati. Dimana dalam tradisi pendidikan islam seorang murid itu wajib beradab terhadap guru dan wajib menghormati guru. Jangankan memukul, guru itu kan pengganti orang tua, guru itu sebagai pengganti orang tua, membentak saja tidak boleh, berlaku tidak sopan, membuat guru kecewa itu tidak boleh. Itu menjadikan ilmu tidak bermanfaat.

Jadi, membuat guru sedih saja tidak boleh, bahkan kisah klasik Khalifah Harun Al-rasyid dalam Ta’lim Muta’alim itu menegur guru anaknya karena dia tidak menyuruh anaknya khalifah itu mencuci kakinya, ketika menuangkan air wudhu anaknya ini hanya menuangkan saja dengan satu tangan dan satu tangannya lagi nganggur. Itu Harun Al-Rasyid menegur gurunya dia bilang, “Kamu salah didik anak saya, anak saya tidak kamu suruh tangan yang satunya lagi mencuci kakinya bagi gurunya itu.”

Kita dididik dalam dunia pesantren , kita belajar kitab-kitab adab dari adabul insan, ta’limul muta’alim, bidayatul hidayah dan sebagainya itu selalu menekankan betapa pentingnya beradab kepada guru itu.

Tapi disini dua sisi mas Indra, jadi pada sisi gurunya juga, jadi adab guru dan murid. Kalau kita belajar adab bukan hanya adab murid dan guru, tapi juga adab guru terhadap muridnya. Guru itu harus mencintai muridnya , guru itu harus serius dalam mengajar, menyiapkan diri sebaik-baiknya lahir dan batin , menyiapkan materi, menyiapkan jiwa dan raganya, memulai pelajaran dengan niat yang ikhlas dan dengan membaca Al-Qur’an, menekankan bahwa ilmu itu harus benar-benar diamalkan, dan guru selalu mendoakan muridnya.

Jadi dua sisi, nah inilah mengapa ta’adaabu tsumma ta’allamu, pola pendidikan Islam yang dirumuskan oleh Umar bin Khattab RA “beradablah kamu, maka berilmulah kamu”.

Jadi, anak ini jangan seperti kasus di Sampang ini, yang anak tidak beradab terhadap guru. Dan dia belum beradab, jadi jangan dia dikasih ilmu, apalagi ilmu yang kifayah dan ilmu yang mubah, ilmu yang fardhu ain yaitu beradab pada gurunya belum bisa, itu belum dia kuasai dan jalankan. “Taaddabu tsumma ta’allamu” beradablah kamu lalu berilmulah kamu, inilah yang harus kita tegakkan dalam dunia pendidikan kita.

Di Sampang ini meskipun kita sedih, kecewa, dan marah tapi ini harus menyadarkan kita bahwa itu sesuatu yang harus kita pikirkan secara mendasar tentang masalah adab, sopan santun, budi pekerti pada anak- anak ini. Dan itu basis yang harus ditanamkan yaitu basis keimanan “taaddabu tsumma taallamu”. Demikian mas Indra semoga peristiwa ini menjadi hikmah bagi kita semua. Wa billahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr. wb. II