Adakah Keuntungan Kartu Kredit Syariah?

by

Kepemilikan kartu kredit di Indonesia masih terbilang rendah. Sampai kuartal I 2017, mengutip data Bank Indonesia, jumlah kartu kredit yang diterbitkan perbankan sebanyak 17,59 juta kartu, dengan nilai transaksi sebesar Rp 72,01 triliun dari 80,74 juta transaksi.

Wartapilihan.com, Jakarta — Bandingkan dengan penduduk Indonesia yang memiliki rekening tabungan sekitar 60 juta orang maupun jumlah rekening perbankan mencapai 173,56 juta rekening, data LPS akhir tahun lalu.

Sebagian masyarakat masih ragu, bahkan takut untuk terjebak utang jika menggunakan kartu kredit. Padahal kartu plastik itu Anda bisa berbelanja dengan mudah, kapan dan di mana saja. Makan di restoran hingga jalan-jalan dan bertamasya.

Apa fungsi kartu kredit?

Sebenarnya apa defisini kartu kredit? Dan bagaimana fungsinya? Sebagian besar nasabah perbankan belum mengetahui cara memperlakukan kerja kartu kredit yang benar dan fungsinya sehingga mereka takut memiliki kartu kredit.

Definisi kartu kredit adalah kartu transaksi yang dapat digunakan oleh pemiliknya. Kartu kredit hanya sebuah alat bantu transaksi, bukan kartu untuk mencari utang.

Bank akan menalangi dulu kebutuhan dana dalam transaksi tersebut. Selanjutnya, pada tanggal yang disepakati, disebut tanggal jatuh tempo, nasabah harus membayar dana talangan dari bank yang telah nasabah gunakan.

Jika nasabah membayar kartu kredit sebelum tanggal jatuh tempo, maka akan bebas bunga. Sedangkan jika nasabah membayar setelah jatuh tempo, maka akan terkena bunga. Begitu juga jika nasabah membayar tagihan dengan pembayaran minimal, bank akan mengenakan bunga dari tagihan berjalan.

Di sinilah muncul banyak masalah pembayaran tagihan selalu dengan pembayaran minimal sehingga nasabah terkena bunga dan utang nasabah tak ada habisnya. Bunga kartu kredit saat ini cukup besar 2,95 persen per bulan dan akan turun pada awal Juni 2017 menjadi 2,25 persen.

Namun, selama nasabah masih memperlakukan kartu kredit sebagai alat memudahkan transaksi, nasabah tidak perlu takut memiliki dan menggunakan kartu kredit. Sebab transaksi yang dilakukan masih sesuai dengan kemampuan finansialnya. Bagaimana solusinya secara keuangan syariah?

General Manager Card Bussiness Division BNI Syariah Endang Roswati menjelaskan, BNI Syariah sejak tahun 2009 telah menerbitkan bagi nasabah yang ingin menggunakan kartu kredit, yaitu BNI iB Hasanah Card.

BNI iB Hasanah Card adalah kartu yang berfungsi seperti Kartu Kredit yang hubungan hukum antara para pihak berdasarkan prinsip syariah. Dengan produk ini, BNI Syariah menjamin transaksi yang dilakukan oleh nasabah dan menyediakan fasilitas jaringan baik yang disediakan oleh BNI Syariah maupun MasterCard.

“Kita usahakan semua aspek kehidupan halal. Tidak hanya soal makanan. Tapi juga soal tourism, halal fashion, halal pharmaceutical, halal media, dan juga halal perbankan,” ujar Endang di Jakarta.

Endang mengatakan, sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), BNI IB Hasanah Card terdiri dari tiga akad. Yaitu akad Kafalah, akad Qard, dan akad Ijarah. Akad kafalah yaitu enerbit Kartu adalah penjamin (kafil) bagi Pemegang Kartu terhadap Merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara Pemegang Kartu dengan Outlet, dan atau penarikan tunai selain bank atau ATM bank Penerbit Kartu.

“Sedangkan Akad Qard yaitu berlaku pada saat Pemegang Kartu (muqtaridh) melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank Penerbit Kartu. Dalam hal ini, atas penggunaan ATM sebagai media penarikan tunai maka pemegang kartu dikenakan biaya tarik tunai tanpa dikaitkan dengan jumlah yang ditarik,” katanya.

Adapun Akad Ijarah, kata Endang, penerbit Kartu adalah penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan serta penjaminan terhadap Pemegang Kartu. Atas akad ijarah ini, penerbit kartu dapat menerima fee (ujrah).

“Program kami tidak boleh mendorong konsumerisme berlebihan. BNI iB Hasanah Card mendukung Halal Lifestyle dan Halal ekosistem, serta menjadi alternatif solusi menghijrahkan transaksi ribawi,” ujarnya.

Sementara, CEO ZAP Finance Prita Ghozie menuturkan, pengelolaan keuangan secara syariah sangat baik untuk dijalankan sebagian orang. Sebab, pengelolaan keuangan syariah merupakan ikhtiar mengelola rezeki dengan sebaik-baiknya.

“Pengelolaan keuangan secara syariah memiliki beberapa pos yang diprioritaskan. Yaitu harus mengeluarkan rezeki untuk hak orang lain dalam bentuk zakat. Termasuk untuk diri kita sendiri, usahakan jangan sampai kita berhutang. Kemudian untuk masa tua agar memiliki cadangan dan keperluan darurat,” ujar Prita.

Selain itu, hak keuangan juga dapat digunakan untuk keperluan masa depan serta hak keuangan untuk masyarakat. “Kita dapat menginvestasikan dana kita untuk pemberdayaan dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.

Prita menuturkan, jika hutang disebabkan oleh gaya hidup yang glamour, maka selamanya seseorang akan terjerat oleh hutang. Jika pemasukan seseorang tidak sesuai dengan pengeluaran, maka intensitas kerja harus lebih ditingkatkan agar kebutuhannya tercukupi.

“Semua orang pasti melakukan pinjaman dengan sadar. Semua tergantung akadnya. Maka sebagai muslim, kita harus pastikan akadnya sesuai dengan ajaran Islam dan usahakan tidak berhutang lagi,” saran dia. Demikian seperti dilansir laman resmi LPPOM MUI.

Adi Prawira