Air untuk Akhir Zaman

by

Prakiraan kemarau panjang 2019-2022, selama 3 tahun penuh. Ketika prakiraan ini dianggap bersesuaian dengan kabar akhir zaman, ini bukan hanya cerita tentang iklim.  

Wartapilihan.com, Depok– Pernahkah terbayangkan bila kita mengalami kemarau panjang sampai 3 tahun lamanya? Kemarau 8 bulan saja sudah bisa membuat kita ketar-ketir. Berbagai upaya ditempuh, dari yang berbau teknologi seperti: hujan buatan, sumur artesis, osmosis air laut, perangkap embun, dan sebagainya. Ada juga yang menempuh cara spiritual, dari yang berbasis kepercayaan lokal maupun yang mengikuti ajaran agama tertentu, seperti shalat Istisqo (minta hujan) di kalangan kaum muslimin.

Ramai di media sosial berita yang beredar mengenai ramalan BMKG yang menyebutkan: akan ada kemarau panjang selama 3 tahun, mulai tahun 2019-2022. Karena BMKG disebut-sebut, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Indonesia merasa perlu memberikan klarifikasinya, seperti yang dimuat di channel FB mereka. Berita terkait yang ingin diklarifikasi adalah “Badan Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa akan terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia. Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa 3% saja. “

Berikut klarifikasi berita tersebut:

  • Berita tersebut tidak benar dan BMKG TIDAK PERNAH menyampaikan serta menyebarluaskan informasi tersebut.
  • Berita itu hanya HOAX/ISU yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan membohongi masyarakat, karena isu tersebut TIDAK mempunyai dasar ilmiah yang jelas.
  • Perlu diketahui bahwa sampai saat ini belum ada informasi prediksi musim kemarau yang bisa memprediksikan sampai lebih dari 1 tahun.
  • Oleh karena itu, masyarakat dihimbau dan diharapkan tidak terpengaruh serta tidak perlu dihiraukan dengan informasi tersebut.

Selengkapnya dapt disimak di  https://www.facebook.com/InfoBMKG/posts/penjelasan-bmkg-terkait-kemarau-panjang-2019-2022sehubungan-dengan-adanya-berita/10154773372734931/

Kesimpulan menarik dari beredarnya kabar kemarau panjang 2019-2022, disampaikan penulis Frendy Kurniawan di laman tirto.id (https://tirto.id/benarkah-kabar-soal-kemarau-panjang-dan-kekeringan-2019-2022-cXAz) sebagai berikut: “Segala klaim prediksi atau ramalan soal kekeringan panjang yang melanda dunia setelah tahun 2019 yang disebut berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ataupun “BMKG Eropa” adalah informasi yang tidak benar.

Konfirmasi terhadap BMKG Indonesia dan pengecekan atas artikel The Guardian yang dijadikan sumber, serta Met Office Inggris Raya menegaskan hal ini. Masalahnya, saduran terhadap artikel sumber The Guardian itu dilakukan dengan diberi konteks misinformasi.

Amplifikasi atas kabar berantai itu terjadi karena ketidakhati-hatian dalam memahami konteks riset/studi mutakhir soal tren peningkatan suhu global. Selain itu, ada upaya pembuat misinformasi yang mengaitkan topik pemanasan global dengan pemahaman atas keyakinan tertentu, yakni soal kiamat.”

Di kalangan umat Islam, memang ada Hadits yang menyebutkan tentang kekeringan selama 3 tahun sebelum Keluarnya Dajjal.  Dajjal (Arab: الدّجّال ad-Dajjāl‎) adalah seorang tokoh dalam eskatologi Islam (ilmu yang mempelajari tentang kehidupan setelah mati dialam akhirat dan al-Qiyāmah “Pengadilan Terakhir”) yang akan muncul menjelang kiamat. Dajjal dikatakan kafir dan jahat, pembawa fitnah (ujian) terbesar dan tidak ada ujian yang terbesar selain itu. (Wikipedia)

Hadits yang dimaksud adalah

“Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu tiga tahun yang sangat sulit, pada waktu itu manusia akan di timpa oleh kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama darinya untuk menahan 1/3 dari hujannya dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya. Kemudian Allah memerintahkan pada langit pada tahun kedua darinya agar menahan 2/3 dari hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya. Kemudian pada tahun ketiga darinya Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujannya, sehingga ia tidak meneteskan setitik airpun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya, maka setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijau pun dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang tidak di kehendaki oleh Allah. Para Sahabat bertanya, “Dengan apa manusia akan hidup pada masa itu?” Beliau menjawab, “Tahlil , Takbir, Tasbih dan Tahmid akan sama artinya bagi mereka dengan makanan. (H.R Ibnu Majah, Al-Hakim dan Adh-Dhiya Al-Maqdisi di shahihkan oleh Al-Albani).

Situs www.IslamItuIndah.us kemudian memberikan penafsiran bahwa keluarnya Dajjal telah sangat dekat. Dan munculnya Imam Mahdi telah berada di tengah-tengah kita, tanpa kita sadari. Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti. Dalam hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan selama kurun 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Selengkapnya, silakan dibaca: http://www.islamituindah.us/kemarau-panjang-akan-melanda-dunia-2019-2022/

Pembicaraan kita kemudian  bukan pada benar atau tidaknya prakiraan kemarau panjang 2019-2022. Namanya prakiraan, masih ada peluang meleset. Tapi, yang lebih penting adalah kita memang harus bijak dan beradab dalam berhubungan dengan sumberdaya alam yang namanya AIR!

Beberapa fakta menarik tentang air menurut PBB cukup mencengangkan, perhatikan:

  1. Sekitar 71 persen permukaan bumi tertutup air, menurut The United States Geological Survey Water Science School.
  2. Pasokan air total dunia setara dengan 332,5 juta mil kubik.
  3. Lautan merupakan sekitar 97 persen dari seluruh air Bumi, yang berarti hanya 3 persen air yang tidak mengandung garam.
  4. Dari total air tawar dunia, 69 persen dibekukan di es dan gletser dan 30 persen lainnya ada di tanah.
  5. Hanya 0,26 persen air dunia ada di danau air tawar.
  6. Dan hanya 0,001 persen dari seluruh air kita yang ada di atmosfer.
  7. Pada tahun 2050, populasi dunia akan tumbuh oleh sekitar 2 miliar orang — hampir 10 miliar — meningkatkan permintaan air hingga 30 persen, prediksi PBB.
  8. Lebih dari 80 persen limbah kotor masyarakat mengalir kembali ke lingkungan tanpa pengolahan atau penggunaan kembali.
  9. Sebanyak 71 persen lahan basah alami dunia telah hilang sejak tahun 1900, dan ini adalah kesalahan manusia.
  10. Menurut PBB, 2,1 miliar orang tidak memiliki air minum yang aman di rumah. Dari jumlah tersebut, 844 juta tidak memiliki akses terhadap layanan air minum yang layak, termasuk 263 juta orang yang perlu waktu lebih dari 30 menit untuk mengambil air.
  11. Dan 159 juta orang masih minum air yang belum terolah dan memiliki risiko kesehatan yang serius  dari sumber air permukaan, seperti sungai atau danau.
  12. Ada 663 juta orang yang hidup tanpa persediaan air bersih yang dekat dengan rumah.

Demikian sedikit air yang tersedia sebenarnya, hanya 3% saja air tawar yang ada di Bumi, sisanya air asin…. Kita yang melihat air melimpah-limpah dimana-mana haruslah sangat bersyukur bila menyadari kenyataan: begitu banyak orang yang tidak memiliki kemewahan menikmati air yang layak.

Darimana kita mendapatkan air? Yang paling gampang air hujan. Hujan adalah mekanisme alam dan kemurahan sang pencipta (Allah SWT) yang seolah supplier air segar untuk bumi dan penghuninya.

Sebagai muslim, penulis diajarkan memahami hujan sebagai rejeki dan keberkahan.  Di dalam Al- Quran terdapat ungkapan bahwa hujan adalah berkah,  “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Hujan merupakan bentuk dari keseimbangan alam yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa ada hujan, kuantitas air di bumi tidak akan mencukupi untuk mendukung kehidupan di dalamnya. Tidak hanya kehidupan manusia, melainkan juga kehidupan tumbuhan dan hewan.

Dalam surat Az Zukhruf ayat 11, Allah berfirman, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)”. https://dalamislam.com/info-islami/makna-hujan-dalam-islam

Hujan dimulai dari proses penguapan air dari laut, danau, daratan. Semuanya berkumpul menjadi  awan hingga kemudian terjadilah hujan

Bila hujan adalah berkah, maka bagaimana selayaknya kita memperlakukan berkah?

Penulis sebagai praktisi konsep Permaculture (permanent agriculture) ingin mengajak pembaca untuk mempertimbangkan konsep ini. Permaculture sebagai suatu konsep yang beretika peduli bumi (earth care), memiliki konsep yang menarik berkaitan dengan issue air.

Seperti dapat dibaca di https://www.academia.edu/18069866/Pengantar_Permakultur, salah satu prinsip dari konsep ini adalah Tangkap dan Simpan Energi “Make hay while the sun shines”.

Prinsip ini berbicara tentang bagaimana menangkap, menyebarluaskan dan menyimpan energi, di dalam lingkungan, bangunan dan bahkan masyarakat. Mudahnya, bayangkan sebuah bisnis, bagaimana kita berinvestasi secara seksama agar berkembang, dan bukan bagaimana menikmati bunga deposito semata. Hanya saja energi alam seringkali merupakan investasi alam yang kita terima gratis dengan rasa syukur.

Energi yang luar biasa melimpah adalah dari matahari  yang ditangkap oleh tanaman yang dengan cara cerdas mengubah foton menjadi karbohidrat kompleks. Cara luar biasa inilah yang ikut menjaga seluruh ekosistem bumi.

Air juga merupakan sumber energi yang harus ditangkap, dilambatkan, disebarluaskan, disimpan.

Bagaimana menangkap air terutama yang datang gratis melalui hujan? Disini pegiat permakultur akan mendesign rumahnya, lahannya, sebesar-besarnya dapat mengkap air hujan. Rumah atau bangunan akan didesign supaya dapat menangkap air hujan dengan cara memasang talang dan mengalirkannya ke penampungan air. Sistem filterisasi dapat digabungkan dalam design ini sebelum air digunakan.

Bagaimana dengan air yang tidak tertampung dan mengalir di lahan? Yang pertama dilakukan adalah melambatkan.  Alur-alur air dibuat sedemikian rupa supaya air dapat lebih lama beredar didalam lahan.  Tumpukan batu atau dam kecil dibuat untuk semakinmenurunkan kecepatan air mengalir, sekaligus menghambat terbawanya tanah oleh aliran air.

Upaya lain adalah membenamkan air sebanyak mungkin kedalam tanah.

Salah satu teknik untuk meningkatkan kapasitas daya serap tanah adalah dengan teknologi BIOPORI.

Biopori adalah sebuah lubang silindris yang dibuat masuk ke dalam tanah secara vertikal, sebagai metode resapan air yang tujuannya untuk mengurangi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.  Teknologi ini hasil penemuan Dr. Khamir, seorang peneliti IPB. Prinsipnya sangat sederahana: Lubang biopori diisi sampah organik, sampah ini akan mengundang organisme di tanah. Akses yang dibuat organisme tanah seperti cacing, akan meninggalkan pori-pori didalam tanah. Pori-pori inilah yang akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Paling tidak,  ada 4 fungsi biopori (https://manfaat.co.id/manfaat-lubang-biopori):

  1. Penyerapan Air

Salah satu manfaat yang paling utama dari diciptakannya lubang biopori adalah penyerapan air. Biopori mampu meningkatkan daya serap tanah terhadap air sehingga resiko terjadinya penggenangan air atau banjir dalam skala besar tidak terjadi. Selain itu, air yang tersimpan dalam lubang biopori ini dapat menjaga kelembapan tanah bahkan ketika masa musim kemarau. Orang kadang menyebut fungsi ini sebagai tabungan air.

  1. Penanganan limbah organik

Manfaat selanjutnya dari lubang biopori adalah sebagai salah satu bentuk penanganan dari limbah organik atau limbah alam yang bisa di daur ulang dan baik untuk kesehatan tanah. Biopori yang diciptakan ini mampu mengubah sampah organik menjadi kompos dan kemudian mampu mengurangi aktivitas membakar sampah yang tidak baik bagi udara karena bisa mengotori udara

  1. Kesehatan Tanah

Selain dua fungsi di atas, biopori ini juga mampu membuat tanah lebih sehat. Ia dapat meningkatkan aktifitas organisme dan mikroorganisme tanah. Al itulah yang kemudian membuat kesehatan tanah semakin membaik dan bagus jika hendak ditanami. Organisme dan mikroorganisme tanah sendiri memiliki fungsi penting sebagai pengikat nitrogen dari atmosfer dan detritivora.

  1. Meningkatkan kawasan hijau di halaman rumah

Kawasan hijau ini sangatlah penting dimana pun tempatnya. Apalagi di rumah anda sendiri. Iklim mikro yang nyaman akan terjadi bila sekitar kita menjadi kawasan hijau.

Berikut info graphis manfaat Lubang Resapan Biopori (LRB):

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita simak beberapa hadits berikut:

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.”
(HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2078, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu).

Dan telah meriwayatkan  Dawud dengan sanad yang shahih, dia berkata: : “Abdullah bin Salam Rodhiyallahu ‘Anhu berkata kepadaku: “Jika engkau mendengar bahwa Dajjal telah keluar sedangkan kamu sedang menanam bibit kurma maka janganlah kamu tergesa-gesa dalam penanamannya, karena masih ada kehidupan setelah itu bagi manusia.”

Menurut pengertian penulis, hadits-hadits  ini menanamkan optimisme sekaligus tuntunan untuk selalu memelihara bumi. Entah esok akan kiamat atau Dajjal telah keluar. Karena itu, kita selayaknya tetap optimis dan menjadi pemelihara bumi, bukan yang membuat kerusakan di muka bumi.

Syaikh Al-Albani rohimahulloh menjelaskan: “Oleh karena itu ada sebagian sahabat yang menganggap bahwa orang yang bekerja untuk mengolah dan memanfaatkan lahannya adalah karyawan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al- Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad hadits no. 448 meriwayatkan sebuah hadits dari Nafi’ bin Ashim bahwa dia mendengar Abdullah bin Amr berkata kepada salah seorang anaknya yang keluar ke tanah lapang (kebun): “Apakah para karyawanmu sedang bekerja?”

Lalu Abdullah bin Amr menyambung: “Seandainya engkau orang yang terdidik, niscaya kamu akan memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh para karyawanmu.” Kemudian Abdullah bin Amr menoleh kepada kami, seraya berkata: “Jika seseorang bekerja bersama para karyawannya dirumahnya.” (Dalam kesempatan lain, perawi berkata: “Pada apa yang dimilikinya”), maka ia termasuk karyawan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Insya Allah sanad hadits ini hasan.

Adakah peran yang lebih terhormat dari menjadi ‘Karyawan Allah SWT’? Wallahu A’lam

 

Abu Faris

Praktisi, Alumni 7th Permculture Design Course, Bumi Langit Institute, Imogiri Yogya