Amien Rais Tidak Dapat Dipidana

by
foto:http://cdn2.tstatic.net

“Apa yang diterangkan oleh Pak Amien adalah suatu pencerahan yang dilakukan oleh seorang cendikia dan akademisi, yang merupakan ilmu pengetahuan demi kepentingan umum, sehingga menghapuskan sifat pidananya,” ujar Ikhsan.

Wartapilihan.com, Jakarta – Amien Rais dilaporkan ke Polda Metro Jaya tentang pidatonya yang mengatakan adanya suatu partai orang beriman atau kelompok yang membela agama Allah (hizbullah), dan partai setan yaitu yang dihuni oleh orang-orang yang rugi (hizbuzi syaithan), rugi dunia dan rugi akhiratnya.

Sekjen IKAMI (Ikatan Advokat Muslim Indonesia) Djuju Purwantoro mengatakan partai Allah dan partai Syetan tersebut tidak menunjuk kepada suatu partai tertentu saja, sehingga bisa berlaku kepada partai manapun. Hal itu juga tidak dengan maksud maupun tujuan (unsur objektif) untuk menimbulkan rasa kebencian, rasa permusuhan, dan memecah belah kelompok individu dan masyarakat (SARA), sehingga bukanlah delik pidana seperti apa yg dimaksud pasal 28 ayat (2) UU ITE No.19/2016.

“Apa yang dikatakan Pak Amien justru beliau sedang mengajarkan dan mengingatkan kepada umat beragama, bahwa di dunia ini akan selalu ada aliran atau kelompok yang baik, benar dan yang buruk, salah,” kata Djudju kepada Wartapilihan.com di Jakarta, Senin (16/4).

Dengan demikian, lanjut Djudju, unsur permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap sesuatu agama sangat tidak relevan adanya dugaan pidana terhadap Amien Rais, dikaitkan dengan unsur penodaan agama seperti dimaksud psl 156 a KUHP.

“Apa yang diterangkan oleh Pak Amien adalah suatu pencerahan yang dilakukan oleh seorang cendikia dan akademisi, yang merupakan ilmu pengetahuan demi kepentingan umum, sehingga menghapuskan sifat pidananya,” terangnya seperti tertera dalam Pasal 310 ayat 3, KUHP.

Senada dengannya, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan memang di dalam al-Quran surat al-Mujadilah ayat 19 sampai dengan 22 menerangkan adanya 2 golongan manusia yaitu golongan setan (hizb as-syaithan) dan golongan Allah (hizb Allah).

Golongan setan itu disebutkan sebagai golongan orang yang selalu berdusta, lupa mengingat Allah; suka menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan mereka itu adalah golongan orang yang merugi.

Dan satu lagi yang disebut golongan Allah (hizb Allah) yaitu golongan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, yaitu orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Allah. Mereka adalah termasuk golongan orang yang beruntung.

Konteks ayat tersebut, menurut Sa’adi lebih pada makna transendental yaitu tentang akidah, keyakinan, atau keimanan kepada Allah SWT bukan dalam konteks politik. Jadi tidak tepat jika ada pihak yang mengaitkan ayat tersebut di atas dengan konteks politik kepartaian di Indonesia.

“Saya berprasangka baik Pak Amin Rais tidak bermaksud mengaitkan ayat tersebut dengan kondisi partai-partai di Indonesia,” ujarnya.

Ia mengimbau kepada semua elit politik untuk bijak dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya ketika mengutip ayat suci al-Quran atau ajaran agama lainnya, agar terhindar dari tuduhan melakukan politisasi agama atau eksploitasi agama untuk kepentingan politik.

“Lebih dari itu untuk menghindari timbulnya kesalahpahaman, konflik dan kegaduhan di masyarakat,” harapnya.

Ahmad Zuhdi