AtTaqwa Collage, Kampus di Era Disrupsi

by

“InsyaAllah Taqwa college will continue the good independent spirit of Imam Zarkasyi at Gontor and intellectual-civilizational vision of Al Attas ISTAC…..amiin”

WartaPilihan.com, Depok—Itulah komentar intelektual muslim Prof   Mohd Nor ketika menanggapi berdirinya AtTaqwa Collage, Ponpes AtTaqwa Depok. Professor Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud  adalah pendiri “Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation” (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia.

Dr. Adian Husaini menjelaskan bahwa at-Taqwa College (Pesantren Tinggi at-Taqwa) adalah model pendidikan tinggi yang tepat dan ideal dalam rangka memasuki era disrupsi atau revolusi industri 4.0.

Saya yakin hal ini, setelah membaca sejumlah buku dan artikel tentang disrupsi, serta berdiskusi dengan pakar-pakar pendidikan dan pemikiran Islam, kata Dr. Adian di hadapan para wali santri Pesantren at-Taqwa Depok, Ahad (3/2/2019).

Kepada para wali santri Pesantren at-Taqwa, Dr. Adian menjelaskan konsep pendidikan Islam yang ideal dan tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan. Khususnya, dijelaskan tentang konsep adab dan ilmu, serta aplikasinya di masa Nabi Muhammad saw dan di dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Model pendidikan berbasis adab dan penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah ini sudah baku, dan sudah terbukti melahirkan beberapa generasi gemilang dalam sejarah Islam. Termasuk di Indonesia, papar Adian yang didampingi oleh Mudir Pesantren at-Taqwa Depok, Dr. Muhammad Ardiansyah.

Mengutip penjelasan seorang pejabat tinggi di Kemenristekdikti, Dr. Adian menjelaskan bahwa di era disrupsi, lulusan suatu perguruan tinggi dituntut memiliki kompetensi 4-C, yaitu (critical thinking, creativity, communication, collaboration). Sementara itu, perkembangan saat ini, mahasiswa justru bisa kuliah tanpa harus hadir di kampusnya; cukup melalui kuliah online. (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2018/05/04/formula-4c-untuk-bertahan-pada-era-revolusi-industri-4-0/). Seorang guru besar ilmu pendidikan, Prof  Nanang Fattah berpendapat,  penting lulusan Perguruan Tinggi memiliki tiga kriteria unggulan, yaitu: integritas, kompetensi, dan inovasi. Dengan sistem kuliah online, maka penanaman nilai-nilai kebaikan atau kriteria keunggulan-keunggulan diatas justru lebih susah dilakukan.

Mengutip konsep pendidikan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Dr. Adian, menjelaskan pentingnya proses penanaman (inculcation) nilai-nilai kebaikan atau keadilan, dalam suatu proses pendidikan. Proses ini hanya bisa terjadi jika ada interaksi positif antara dosen dan mahasiswa, dimana dosen bertindak bukan hanya sebagai pengajar, tetapi lebih sebagai teladan kehidupan, inspirator, dan motivator. Karena itu, para mahasiswa (mahasantri) di at-Taqwa College diwajibkan tinggal di pesantren bersama pimpinan dan dosen. Mereka harus menyelesaikan studinya selama delapan semester, dengan sistem belajar dinamis dan mandiri. Inilah model Perguruan Tinggi yang tepat di era disrupsi, sebab proses penanaman nilai tidak dapat digantikan oleh pembelajaran online, jelas Dr. Adian, yang juga ketua Program Doktor Pendidikan Islam di UIKA Bogor.

Mengacu pada konsep tersebut, pendidikan di at-Taqwa College tetap bebasis adab, dengan menargetkan tercapainya tiga kompetensi unggulan, yaitu: penguasaan pemikiran Islam, teknologi informasi, dan jurnalistik. Intinya, lulusan at-Taqwa College harus menjadi manusia yang baik, manusia yang beradab, manusia yang bermanfaat bagi sesama, dengan kemampuan berpikir yang benar dan mampu menulis dan berbicara dengan baik, jelas Dr. Adian.

Zaman sudah berubah begitu cepat. Era disrupsi telah mengubah pola kehidupan masyarakat yang cukup mendasar. Karena itu, Dr. Adian mengajak para wali santri at-Taqwa untuk berpikir kritis dan antisipatif menyikapi perubahan, dengan tetap berpegang kepada tanggung jawab utama mereka dalam menyiapkan generasi terbaik yang mampu melanjutkan perjuangan para Nabi.

Kehadiran at-Taqwa College menyempurnakan jenjang pendidikan di Pesantren at-Taqwa Depok, yang semuanya mengambil jalur non-formal. Yaitu, Pesantren Shoul Lin al-Islami (setingkat SMP), Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization/PRISTAC (setingkat SMA), dan at-Taqwa College (setingkat S-1). (http://attaqwa.id/2019/02/06/mengenal-pesantren-attaqwa-depok/).

Karena bersifat non-formal, maka at-Taqwa College TIDAK memberikan gelar akademik kepada lulusannya. Maka, diantara syarat masuk at-Taqwa College adalah calon mahasantri memiliki sifat cinta ilmu dan ikhlas dalam mencari ilmu. Disamping syarat formal lancar membaca al-Quran, dan memiliki skor TOEFEL 450. Jika diperlukan, mahasantri bisa mengambil kuliah secara online di Perguruan Tinggi formal dan berkualitas, sehingga tidak mengganggu aktivitas pembelajaran di at-Taqwa College.

Pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Nanang Fattah menyatakan, “Alhamdulillah At Taqwa College mempunyai misi strategis menyiapkan generasi yang berpribadi muslim, berdaya saing global, menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme,  InsyaAllah.”

Pakar filsafat dan pemikiran Islam, Dr. Syamsuddin Arif menjelaskan, “Hakikat universitas dalam Islam adalah konsorsium ilmuwan yang mendidik para mahasiswa menjadi manusia yang utuh, mutafaqqih fid din,  memahami pemikiran kontemporer, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. At Taqwa College InsyaAllah memenuhi kriteria ini.”

Sedangkan pakar IT, Dr. Ir. Munawar menyatakan kesiapannya untuk mendidik para mahasantri At-Taqwa College menjadi web and mobile developer. Di zaman disrupsi saat ini, kata Dr. Munawar, yang menjadi acuan adalah trend, bukan best practice. Di sinilah peran big data menjadi seperti new oil. Siapa yang bisa menciptakan trend, ialah yang bakal menjadi key player.

InsyaAllah, kata Dr. Adian, At-Taqwa College akan menjadi trend Perguruan Tinggi berbasis pesantren dalam waktu tidak lama lagi. Sebab, proses penanaman adab/akhlak oleh para guru, tidak bisa digantikan secara sempurna oleh alat-alat komunikasi. Mohon doanya. (NB. Saat ini telah dibuka pendaftaran at-Taqwa College. CP. Ust. Haris Susmana: 0815-42789321).

Bagaimana bila ada yang berminat mengikuti perkuliahan di AtTaqwa Collage tapi karena sesuatu hal tidak bisa mondok di Pesantren?

Ustadz Harris Susmana menjelaskan: “Statusnya ikut kuliah saja. Audience. Seperti ikut kursus saja. Aturan rincinya akan diberitahukan kemudian”.

Wallahu A’lam

Abu Faris