Awas, Virus Hipersensi!

by
foto:istimewa

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Jangan memposting politik! Ini bukan grup politik! Kalau gak bisa ditegur, tolong admin hapus. Bikin gaduh. Grup jadi gak adem. Politik bikin bertengkar anggota! Kalimat ini sering kita temui di banyak grup WA. Anda pasti pernah juga membacanya. Atau kamu pernah jadi korbannya?

Wartapilihan.com, Jakarta Bali Anda pernah menemukan kalimat itu di grup WA, berarti grup itu sudah tersasar virus hipersensi. Hipersensi adalah perasaan peka yang mudah tersinggung, peka sesuatu yang tak sesuai dengan perasaan dan pikirannya.

Orang yang mengidap penyakit hipersensi hampir selalu mendukung fanatik paslon, baik di pilkada maupun pilpres. Ada juga pengikut fanatik ormas. Coba perdebatan, protes keras selalu muncul kompilasi ada postingan yang tidak sesuai dengan pilihan politik orang yang protes. Kalau postingan itu sesuai pilihan politiknya, dia diem. Mungkin malah mesem-mesem.

Di dunia politik, pendukung sensitif ini biasa disebut dengan istilah die hard. Pokoknya pilih dia. Mati hidup pilih dia. Tutup mata, tutup telinga, tutup hati. Tak mau mau berubah. Konsisten. Tapi, konsistensi buta. Informasi positif tentang tokoh, paslon atau ormasnya, ia percaya dan terima. Informasi negatif? Dia tolak. Dan biasanya sambil marah. Standarnya bukan benar atau salah, tapi info, berita dan data yang mendukung tokoh, paslon dan ormasnya atau tidak.

Soal pembelaan, mirip orang-orang parpol. Siapapun paslon yang diusung parpol, akan didukung mati-matian. Semua potensi kecerdasan dan kemampuan dikerahkan untuk mendukung. Asal, MoU-nya jelas. Asal, transaksinya jelas. Asal, biaya operasional dan jatah kemenangan sudah disepakati.

Bedanya, jika orang-orang yang kena virus hipersensi berpegang pada “kebenaran buta,” maka, bagi parpol, prinsip moralnya bukan benar atau salah. Tapi menang atau kalah. Jika kira-kira menguntungkan, dukung. Gakuntungkan, hajar.

Bagi politisi parpol, imannya adalah kemenangan, koalisi dan negosiasi. Media adalah panggung untuk mencari kemenangan, memperkuat soliditas koalisi dan meningkatkan daya tawar dalam negosiasi. Apapun akan dilakukan untuk tiga hal itu.

Ganti pilkada, ganti koalisi dan ubah dalam bernegosiasi. Itu biasa. Bila perlu, ganti partai. Lumrah terjadi. Bagi politisi, Gonta ganti partai itu sesuatu yang wajar-wajar saja. Maka, jika platform politisi bicara, jangan terlalu percaya. Pindah partai, platform berubah.

Surya Paloh, dulu di Golkar. Kalah di munas, mendirikan Nasdem. Priyo Budi Santoso, dulu juga di Golkar, sekarang pindah ke Partai Berkarya. Ngabalin dulu di PBB, sekarang di Golkar. 2014 dukung Prabowo dan hajar Jokowi. Sekarang, dukung Jokowi dan hajar Prabowo. Lumayan, jadi komisaris. Negonya jelas. Gak usah heran.

2004 TGB di PBB. 2011 pindah ke Demokrat. 2018, TGB pindah lagi ke Golkar. Pindah parpol dalam siklus tujuh tahunan. Entah nanti mau pindah ke pesta apalagi. Itulah politisi. Tak ada kawan dan musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Maka, jangan terlalu percaya juga jika ada politisi mengatasnamakan rakyat dan umat. Dobol!

Beda politisi, beda pendukung. Tidak sedikit pendukung yang fanatik. Nah, yang fanatik inilah rentan tersasar virus hipersensi. 1998 di Jepara ada yang mendukung PKB dan PPP saling mendukung. 2018 kemarin di Madura ada pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo saling mendukung. Ini antara dampak dari virus hipersensi itu. Kenapa terjadi? Karena imun (daya tahan dan kekebalan otaknya) lemah

Dampak yang paling sering dan nyata dari virus hipersensi adalah kegaduhan di medsos. Twitter, Instagram, Facebook dan WA, lumayan banyak adu perasaan terjadi. Berbagai kata dan kalimat irasional bermunculan. Karena menggunakan perasaan, maka nalar sehat dan daya intelektualitas gak bisa bekerja.

Virus hipersensi ini tidak hanya mengubah grup menengah ke bawah. Tapi tak jarang juga menular di kalangan menengah atas, termasuk para sarjana dan dosen. Aneh bukan?

Kaum akademisi yang mestinya punya akses data dan matang dalam perbedaan, masih tersasar virus hipersensi. Tak sanggup menerima perbedaan. Mudah terpancing dan gampang menyerang pribadi dengan mencari-cari argumen, seolah-olah ilmiah. Bila perlu obral ayat atau hadis. Dukung pakai pasal-pasal di bible. Biar kelihatan ada samawi yang sah. Punya nilai eskatologis.

Orang yang tersasar virus hipersensi selalu mengkambinghitamkan politik. Apa yang salah dengan politik? Kalau otak kita waras, yang salah bukan politiknya. Bukan obyeknya. Politik itu netral. Tapi yang salah dan tidak netral itu otak orangnya. Salah mindsetnya.

Otak yang gak netral ini diakibatkan oleh menyempitnya jaringan saraf yang tersumbat oleh berbagai tidak fanatisme. Bisa fanatisme tokoh, bisa paslon, ormas, partai, dan bisa apa saja. Konsentrasi, darah di otak beku karena kekurangan oksigen. Setiap oksigen yang datang dan mengalir ke otaknya ditolak, karena dianggap tidak sesuai dengan jenis darah yang ia miliki. Darah fanatisme. Disinilah istilah “jahiliyah” itu berasal dari agama yang disematkan kepada mereka yang fanatik. Sebab, fanatisme adalah sumber kebodohan.

Otak yang langka untuk bersujud, akan kekurangan oksigen yang membuat seseorang jadi hipersensi. Sujud itu simbol kerendahan hati. Orang yang rendah hati selalu memberi ruang di otaknya untuk oksigen-oksigen untuk hadir.

Jadi, virus hipersensi ini hanya menular pada orang-orang yang darahnya beku karena tidak pernah memberi ruang oksigen untuk perbedaan. Dan virus hipersensi ini bergerak dengan ganas kompilasi musim pilkada dan pilpres datang. Awas, hati-hati. Jangan-jangan Anda juga termasuk yang tersasar virus ini.