Benarkah Dengan Kekuasaan, Pendidikan Akan Semakin Baik?

by
foto:istimewa

Oleh : Dr Adian Husaini

Pada Klinik Pendidikan Kita kali ini, Dr Adian membahas tentang hubungan kekuasaan dan pendidikan. Jangan bergantung pada penguasa, begitu pesan cendekiawan Muslim ini. Simak ceramah lengkapnya :

Wartapilihan.com, Depok- Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Teman teman semua dalam Klipik, Klinik Pendidikan Kita, kali ini saya masih ingin melaporkan suasana dari Pulau Pari di Kepulauan Seribu.

Kalau kita melanjutkan refleksi tentang pendidikan, saya beberapa kali mendapat pertanyaan dan pernyataan seperti ini, “Kalau kita bisa merebut kekuasaan dan bisa berkuasa entah menjadi Presiden, Gubernur, atau Walikota dan sebagainya apakah kita bisa mengubah sistem pendidikan dengan mudah? ”

Teman-teman kita semua perlu merenungkan pernyataan seperti ini untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya itulah yang dikatakan adil dan beradab. Kita dudukkan masalah pendidikan dan kekuasaan. Faktanya begini selama ratusan tahun kita dijajah oleh penjajah kafir, dunia pendidikan Islam di tanah air cukup semarak waktu itu. Banyak pesantren yang melahirkan para pemimpin dan para ulama bahkan para pejuang. Sehingga ada seorang profesor yang mengatakan di masa penjajahan selama ratusan tahun itu hampir kita tidak pernah menjumpai orang-orang muslim yang murtad dari agamanya dalam jumlah yang massal. Bahkan yang menarik madrasah-madrasah di Jakarta itu banyak melahirkan para ulama dan itu orang-orang yang baik.

Dulu lulusan-lulusan pesantren, madrasah, mualimin itu menjadi para pejuang di tengah masyarakat. Jadi ketika kita merefleksikan Surat Luqman ayat 17 tentang nasihat Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku dirikanlah shalat, tegakkanlah amar maruf nahi munkar, dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpamu dan itulah berkah agama yang besar atas agama kita.”

Jadi mendidik anak-anak kita dan santri kita para siswa dan murid kita menjadi pejuang amar maruf nahi munkar itu adalah amanah dari Al-Qur’an dan itulah salah satu inti dan ciri pokok dari eksistensi pesantren yakni menanamkan dan mengajarkan ruh dakwah.

Jangan sampai dalam dunia pendidikan dalam kaitannya dengan kekuasaan, kalau penguasanya baik itu akan sangat menolong. Ad Diin dan Daulah ini dua sisi mata uang yang memang berbeda kekuasaan, itu untuk menopang agama bukan hanya Islam namun kapitalisme juga ditopang oleh kekuasaan.

Kemudian kita lihat dulu perkembangan sejarah agama Kristen ditopang oleh kekuasaan Romawi Kaisar Constantine. Hal itu hal yang rasional saja bahwa kekuasaan itu memang diperlukan untuk menopang suatu paham apapun yang baik maupun yang buruk.

Jadi Islam pun begitu jika kita ingin menopang pendidikan Islam sangat menolong jika ada penguasa-penguasa yang sadar akan pentingnya dunia pendidikan. Tetapi kita harus ingat jika kekuasaan itu tidak paham dan penguasanya itu tidak paham pendidikan, dia bisa merusak.

Di masa kekhalifahan Al Ma’mun, ia memaksakan paham Mu’tazilah dan para ulama banyak yang ditangkap. Penguasanya Islam tapi dia tidak paham. Penguasanya muslim tapi dia malah mengembangkan sekularisme, kurikulum pendidikan yang tidak menanamkan iman, taqwa, dan akhlak yang mulia itu bisa terjadi. Kita dudukkan pada tempatnya.

Jadi jikapun penguasa datang silih berganti guru besar dan ilmuwan-ilmuwannya, para ulama tetap cara berpikirnya tidak berubah. Tidak memahami masalah pendidikan, pendidikan kita tetap saja kita tidak berubah. Jadi kita jangan hanya bergantung pada penguasa yang mungkin kita lakukan siapapun penguasanya adalah dunia pendidikan kita, lembaganya, pesantren, dan guru- guru kita yang harus berubah.

Penguasa yang zalim sekalipun kalau para guru, ustadz, dan ulamanya baik itu susah untuk merusak dunia pendidikan kita. Jadi idealnya antara ulama, guru, dan penguasa ini satu ide dan gagasan, sama tujuannya bagaimana memperbaiki pendidikan kita. Tapi kita sebagai orang-orang yang bergerak dalam bidang pendidikan jangan sampai kita menggantungkan hanya kepada penguasa.

Silakan saat ini umat Islam memilih calon-calon yang baik dalam Pilkada kali ini. Kita juga sebagai insan-insan pendidikan tetap berpijak pada idealisme kita. Alhamdulillah, jika nanti penguasa mendukung pendidikan yang baik di negeri kita. Kalaupun tidak, jangan sampai kita bergantung, kita bergantung pada Allah SWT. II