Berbagi Berkah

by
Jusuf Hamka. Foto: Zuhdi

Jusuf Hamka, membuka warung makan murah meriah untuk dhuafa dengan menjual makanan Rp 3 ribu di Jakarta.

Wartapilihan.com, Jakarta –Kenikmatan dalam hidup menurut beberapa penelitian bukan terletak ketika memiliki barang mewah atau aset yang tak ternilai harganya. Tapi ketika bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.

Pengusaha Tionghoa Muslim Jusuf Hamka mendermakan hartanya untuk sosial-kemanusiaan. Terletak di Jalan Yos Sudarso Kavling 18 PT Citra Marga Nusa Pala, ia bersama rekan-rekan pengusaha lainnya membuat tempat makan murah meriah. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 3 ribu, para pengunjung sudah mendapatkan satu porsi nasi dengan lauk pauk yang menggugah selera.

“Ketika saya masuk Islam dan memberikan rezeki untuk orang lain, alhamdulillah hidup saya berkah,” ujarnya saat ditemui Warta Pilihan, Senin (12/2).

Berada di bawah pohon pinus, rumah makan ini dinamakan Warung Kuning “Podjok Halal”. Suasana nampak asri dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun seperti di pesesaan. Dinamakan Warung Kuning karena tempat ini khas menyediakan nasi kuning setiap harinya. Warung Kuning buka sejak pukul 11.30 – 13.00 WIB.

Ide warung makan Rp 3 ribu ini, kata Yusuf, berawal dari pembagian takjil saat bulan Ramadhan. Ia ingin melanjutkan kebaikan itu di bulan-bulan lainnya. Tak hanya itu, ia juga mengajak muslim dan non-muslim lainnya untuk berbuat kebaikan dengan cara berbagi dalam bentuk apapun.

“Rezeki yang diberikan Allah harus kita syukuri dan berbagi,” ungkapnya.

Warung ini dibuka 6 Februari 2018 lalu. Karena masih baru, belum banyak masyarakat tak mampu yang mengetahuinya. Jusuf meminta agar masyarakat dan media menginformasikan keberadaan warung khusus kaum dhuafa dan fakir miskin ini. Sehingga peminatnya semakin bertambah.

“Kemarin kami sediakan 100 porsi, hanya 10 porsi saja yang laku. Sisanya 90 porsi kami bungkus dan bagikan secara gratis kepada orang-orang pinggir jalan,” imbuhnya.

Selain berbagi dalam bentuk makanan, ia juga mulai membangun Masjid dan Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di daerah Papanggo, Jakarta Utara. Guna menarik masyarakat, masjid tersebut didesain sekaligus untuk tujuan wisata. Tujuannya, untuk memberdayakan ekonomi masyarakat dan meningkatkan ibadah transedental kepada Allah SWT.

“Masjidnya kita desain seperti bangunan Cina. Artinya, kita tidak boleh lupa di suatu hadits dikatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Kita harus menjadi lokomotif untuk mengajak gerbong-gerbong lain berlomba-lomba dalam kebaikan,” ucapnya.

Salah satu pekerja harian lepas yang mampir ke warung tersebut merasa senang dan bersyukur. Pasalnya, untuk makan satu hari dia paling tidak mengeluarkan duit Rp 40 ribu. “Konsep ini menurut saya sangat bagus sekali. Membantu para pekerja yang penghasilannya di bawah upah minimum Jakarta (provinsi/UMP),” tuturnya.

Perjalanan Masuk Islam

Pria kelahiran Samarinda Kalimantan Timur ini sejak kecil tertarik dengan ceramah Buya Hamka. Rasa ketertarikan terhadap ceramah Buya Hamka, ditambah dengan menyaksikan orang masuk Islam (muallaf) di Masjid Al-Azhar Kebayoran Jakarta, membuatnya ingin mempelajari Islam lebih dalam.

“Saya datang ke Sekretaris Buya Hamka di Al-Azhar dan menyatakan ingin masuk Islam. Karena saya merasa cocok dengan Islam,” ceritanya. “Terus kapan kamu mau masuk Islam?,” tanya Buya Hamka ketika menemui Jusuf. Ia menjawab ingin segera masuk Islam namun harus belajar syahadat terlebih dahulu. Akhirnya, dengan bimbingan Buya Hamka, Jusuf masuk Islam dan diberi nama belakang; Hamka -Jusuf Hamka- tiga bulan setelah ia masuk Islam.

“Alhamdulillah keluarga saya menerima karena orang tua saya moderat. Tidak ada yang masalah,” katanya.

Setelah masuk Islam, Jusuf diberikan tugas khusus oleh Buya Hamka untuk dakwah di komunitas Tionghoa agar mendapatkan hidayah yang sama seperti dirinya. Sejak awal masuk Islam, ia berjanji untuk membangun Masjid, TPA dan pesantren. Namun karena pertumbuhannya pesat, ia ingin membuat tempat wisata manasik haji.

“Anak-anak kita harus diajarkan manasik haji sejak kecil. Selain itu, kita sampaikan perjalanan Islam yang dibawa Laksamana Cheng Ho ke beberapa pesisir nusantara saat muhibahnya,” tandasnya.

Ahmad Zuhdi