Bisnis Ritel Berguguran

by
Lotus Department Store yang akhir Oktober 2017 ini tutup. Foto : Kontan

Bisnis ritel kini tambah lesu. Setelah 7 Eleven dan beberapa gerai Matahari tutup, kini seluruh gerai Lotus Department Store di Jakarta dan Bekasi juga tutup.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Gerai ritel Lotus di Djakarta Theater Menara Cakrawala, Thamrin, Jakarta Pusat, akan tutup akhir Oktober 2017 ini. Sebelum tutup, hari-hari ini Lotus menggelar diskon besar-besaran hingga 80%. Sepatu bermerk top dijual hanya 99ribu dari harga normal 350ribu. Pakaian pria dijual hanya 120ribu per potong dan seterusnya.

Pemilik Lotus, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) menyatakan akan menutup seluruh gerainya yang jumlahnya 5 unit. Gerai ritel ini tersebar di Jakarta, Bekasi, dan Cibubur.

Bisnis ritel di Indonesia kini memang mulai bertumbangan. Mulai dari Juni 2017, PT Modern Sevel Indonesia menutup seluruh gerai 7 Eleven. Juli 2017, PT Matahari Putra Prima Tbk menutup dua gerai Hypermart karena dinilai tidak menguntungkan.

Bulan Agustus 2017, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk menutup delapan gerainya. September 2017, Gerai Matahari Department Store Tbk yang berada di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan ditutup.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai bahwa tutupnya ritel atau munculnya ritel baru adalah hal yang normal. “Gini, situasi memang sedang berkembang dinamis, ada yang online dan macam-macam. Ada yang terdesak bersaing sehingga ya itu proses yang normal dalam setiap kegiatan perekonomian,” katanya di Jakarta (25/10).

Darmin menegaskan bahwa tutupnya gerai ritel tidak ada kaitannya dengan isu daya beli. Ia menilai hal itu hanya penaksiran penjual.

Pendapat Darmin berbeda dengan Ketua Umum Aprindo Roy N Mande. Ia mengaku kaget dan tidak menyangka jika Lotus memutuskan untuk menutup gerainya. Padahal, salah satu gerainya yang berlokasi di Jalan MH Thamrin menempati areal yang strategis dan pangsa pasarnya besar.

Tutupnya Lotus dan ritel modern lain, menurutnya menjadi alarm bagi pemerintah jika ada masalah pada daya beli masyarakat. Hal tersebut membuat bisnis di sektor tersebut semakin sulit untuk kembali tumbuh pada tahun ini.

“Tapi ini kita lihat sebagai alert lagi, kalau saya katakan ini alarm lagi bagi regulator dan pemerintah bahwa bisnis ritel dalam situasi yang belum recovery. Karena kalau semua recovery, buka tutup itu sebagai suatu hal yang biasa dalam bisnis. Tapi tutup di kala yang lain tidak tutup, ini sebagai sesuatu yang perlu dicatat,” kata dia.

Sedangkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani menyatakan bahwa bisnis ritel dalam negeri tengah mengalami tantangan berat di tahun ini.‎ ‎Bukan lantaran daya beli yang menurun, melainkan disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja.

Dia mengungkapkan, sebenarnya masyarakat masih memiliki daya beli yang cukup tinggi dengan pendapatan yang dimilikinya. Namun, pendapatan tersebut lebih banyak disimpan di bank.

Rosan juga menyatakan bahwa perkembangan bisnis e-commerce juga membuat penjualan ritel semakin terpuruk. Meski pun diakuinya kontribusi e-commerce ini tidak begitu signifikan.

Hal itu juga dinyatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia menyatakan bahwa alasan ritel modern menutup gerainya bisa saja disebabkan oleh rencana transformasi ke online. Hal itu menyusul perkembangan ekonomi digital. “Tetapi kami juga melihat sektor lain apakah mereka menghadapi tekanan atau perubahan karena adanya konsep digitalisasi ekonomi atau tidak. Kami akan terus memformulasikan policy-nya,” kata Sri.

Head of Corporate Communication PT MAP Fetty Kwartati, menyatakan bahwa kini ada perubahan tren ritel secara global. “Di seluruh dunia, tren berbelanja generasi millenial telah beralih dari department store, dan memilih untuk berbelanja di gerai specialty store. Hal ini juga terjadi tidak terkecuali di Indonesia. Sejalan dengan tren pasar saat ini, MAP akan terus berinvestasi pada bisnis Active, Fashion dan Food & Beverage. Indonesia juga melihat pertumbuhan signifikan industri eCommerce yang berdampak pada offline store,” kata Fetty. II

Izzadina