Catatan Harian Santri Pristac: Rihlah Ilmiah ke Malaysia (hari ke-1)

by
Rombongan Rihlah lmiah ke Malaysia, Santri Pristac, Ponpes At Taqwa

Matahari pagi 28 November 2018 baru bersinar, kami sebelas orang santri PRISTAC (Pesantren for The Study of Islamic Thought and Civilization) At-Taqwa bersama empat orang guru, bersiap berangkat untuk melaksanakan Rihlah ilmiah ke Malaysia.

WartaPilihan.com, Depok– Rihlah ini adalah rihlah pertama dalam sejarah pesantren kami. Adik kelas kami di tingkat Shoul-Lin (SMP) biasanya melakukan Rihlah ke Pandaan, Jawa Timur.. Bedanya, kalau mereka tinggal di sana selama sebulan, kami hanya akan menetap di Malaysia selama seminggu.

Berangkat jam 08.30 pagi menggunakan satu mobil pondok dan dua mobil taxi online, kami tiba di bandara jam 10.00.  Check-in jam 11.30. Saya melewati imigrasi dengan lancar, walau tidak semua teman saya bisa mengatakan hal yang sama. Beberapa teman ada yang barangnya disita dan dibuang oleh petugas imigrasi karena membawa cairan yang lebih dari 100ml. Cairan yang melebihi 100 ml tidak boleh dibawa ke dalam kabin dan sebaiknya disimpan di bagasi saja.

Kami boarding check jam 1 siang. Pesawat yang kami tumpangi adalah Malindo Air. Salah satu teman kami menduga bahwa Malindo adalah singkatan dari ‘Malaysia-Indonesia’.  Dugaan yang tidka keliru rupanya. Malindo Airways adalah maskapai penerbangan bertarif rendah yang berbasis di Malaysia. Maskapai ini merupakan perusahaan patungan antara Malaysia National Aerospace and Defence Industries (NADI) (51%) dan Lion Air dari Indonesia (49%). Demikian wikipedia mengabarkan.

Saya masuk ke pesawat lewat garbarata dan duduk di kursi 18A. Duduk di sebelah saya, seorang teman dari PRISTAC dan seorang bapak berparas India (dugaan saya, sih…). Si Bapak bertanya kepada kami tentang rombongan kami. Saya jelaskan singkat saja bahwa kami sedang semacam studi tour ke Lembaga Pendidikan yang ada di Malaysia  Pesawat take off sekitar sepuluh menit setelahnya.

Saat pesawat berada di angkasa, Ada sedikit goncangan, terutama ketika terbang melewati awan, tetapi setelahnya pesawat terbang dengan lancar. Diatas awan, saya menggunakan layanan hiburan yang diberikan dari LCD monitor di depan kursi. Saya menonton Dua film, Fresh Off the Boat dan Internship.

Fresh Off the Boat adalah sitkom Amerika yang bercerita tentang sebuah keluarga keturunan Asia hidup di Amerika. Sitkom yang terinspirasi  dari buku yang berjudul sama oleh Edwin Charles Huang. Berkisah tentang bagaimana mereka menghadapi culture-shock antara budaya Timur dan Amerika. Sementara Internship mengisahkan tentang Dua orang sahabat yang baru saja dipecat dari pekerjaan mereka sebagai sales dan mencoba mendapat pekerjaan tetap di perusahaan ternama, Google melalui program magang (internship). Saya tidak sempat menonton Internship sampai habis karena pesawat sudah hampir mendarat. Kami mendarat pukul 3.30 menurut waktu Kuala Lumpur.

Kuala Lumpur International Airport atau yang disingkat KLIA adalah tempat pesawat kami mendarat. Kami mendarat di salah satu terminal di bandara. Di KLIA. Ada beberapa terminal yang digunakan hanya untuk mendarat. Sementara untuk pengurusan imigrasi, pengambilan bagasi dilakukan di terminal utama. Ke terminal utama, disediakan transportation monorel.

Saya kagum dengan bandara KLIA karena sangat tertata rapih dan modern. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, kami pun berangkat dengan menyewa dua mobil van yang kebetulan salah seorang supirnya kenalan guru kami. Tujuan kami kali ini adalah Putrajaya. Putrajaya adalah areal yang diantaranya mencakup Kantor Perdana Menteri Malaysia dan masjid terkenal di Malaysia yaitu Putra Mosque. Kami shalat Maghrib dan Isya’ di Putra Mosque tersebut. Putra Mosque mulai dibangun pada tahun 1997 dan selesai dibangun dua tahun kemudian. Masjid ini dapat menampung sekitar 15.000  jamaah.

Selepas shalat, langsung menuju tempat penginapan kami di Gombak, tepatnya di UIAM. Universiti Islam Antarbangsa Malaysia atau dalam Bahasa Inggrisnya, International Islamic University of Malaysia (IIUM). IIUM menyediakan hostel bagi para tamu yang berkunjung. Disana kami disambut oleh salah seorang staff IIU yang bernama Muhammad Shalahuddin. Ia berkata bahwa biasanya tamu-tamu yang menginap merupakan perwakilan dari perguruan tinggi lain yang hendak melakukan studi banding. Kami? Santri setingkat SMA…!  Hehe..

Kamar untuk tamu berada di lantai empat gedung yang sama dengan masjid. Oya, masjid di IIUM bernama Sultan Haji Ahmad Shah Mosque. Setelah menaruh barang di kamar, kami pergi ke kantin kampus untuk makan malam. Di areal kantin kampus, banyak penjual makanan dengan berbagai menu. Ada yang khas Timur Tengah seperti Nasi Briyani. Ada pula yang khas Malaysia seperti Nasi Lemak. Saya memesan Nasi Goreng Black pepper seharga 5 RM dan Teh Tarik seharga 3 RM. Sebelum kembali ke kamar, saya membeli air mineral seharga 1 RM. Jam 10.30 malam menurut waktu Kuala Lumpur barulah saya beristirahat.

KL, 28 November 2018

Faris Ranadi (santri Pristac)