Catatan Harian Santri Pristac: Rihlah Ilmiah Malaysia (Hari Ke-3)

by
Kami (Santri Pristac) di Menara Kembar Petronas

Pagi yang cerah ini, semakin cerah karena ada undangan sarapan bersama di rumah Guru kami, Dr. Alwi Al-Attas.  Hari ini ada beberapa agenda kunjungan dan Jalan-Jalan ke Menara Kembar Petronas.

WartaPilihan.com,KualaLumpur– Berangkatlah kami pagi itu menuju rumah Beliau. Sambutan Keluarga Beliau begitu hangat . Ummi Shofia ( istri dari ustadz Alwi ) dengan sigap mengeluarkan hidangan Nasi Dagang dan Es Bandung. Nasi dagang adalah makanan Malaysia berupa nasi yang ditanak dengan santan kelapa, dan disajikan dengan kari ikan tongkol. Hidangan ini berasal dari daerah Terengganu dan Kelantan.

Lalu, Es Bandung? Khas Indonesiakah karena namanya  seperti  nama ibukota Jawa Barat, Kota Bandung.  Ternyata di Kota Bandung pun tidak ada es seperti ini. Nama yang unik. Es Bandung atau Sirap Bandung punya arti sendiri yang tidak ada hubungannya dengan Kota Bandung…hehe.  Dalam bahasa Malaysia, Bandung artinya berpasangan. Disebut demikian karena beberap rasa sirup diblender dengan es batu jadi satu lalu diberi susu kental. Biasanya sirup rasa mawar dan rasa pandan. Sedap dech..

Semangat antri sarapan

Makanan, kami santap dengan semangat. Lezat sekali….dasar anak rantau…hehe.  Semua makan dengan bahagia, diselingi tawa, canda, dan nostalgia diantara kami. Alhamdulillah setelah kenyang kami segera bergegas ke PCIM ( Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah).  Ada  Dr.  Adian yang akan bertausyiah, dan bedah bukunya teman kami, Fatih Madini.

Di PCIM, Dr. Adian menjelaskan tentang adab dalam berkeluarga. Di jelaskannya tentang sejarah pendidikan di Indonesia masa sebelum kemerdekaan.  Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh dalam dunia pendidikan. Sebelumnya, Ki Hajar Dewantara adalah seorang politikus yang sering dikejar-kejar Pemerintah Belanda saat itu. Memang Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pendidikan, akan tetapi Ki Ahmad Dahlan jangan di lupakan.  Ki Ahmad Dahlan adalah orang yang masuk dalam dunia pendidikan sebelum Ki Hajar Dewantara.

Pada bagian lain, Ust Adian berpesan, menjadi orang tua harus mampu menjadikan anak-anak kita bisa mendidik anak-anaknya lagi. Sehingga akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Karena tugas orang tua adalah mendidik, bukan menyekolahkan saja.  Dan orang tua harus paham tentang ilmu, dan islamic worldview. Contohnya, anak harus dididik dengan ilmu yang tidak sembarangan. Ada dua jenis ilmu yaitu fardhu kifayah dan Fardhu Ai’n. Fardhu Ai’n adalah ilmu yang setiap orang wajib memilikinya dan menguasainya. Misalnya, sudah bisakah anak sholat dengan benar? Sudah bisakah anak berwudhu dengan benar? Dan lain-lain. Jika itu sudah dikuasai, maka mereka bisa belajar fardhu kifayah yaitu matematika, IPA, dan skill lainnya. Akhlak dan Adab yang paling penting dalam pendidikan. Jika tidak ada adab maka tidak akan berkah apapun yang dia kerjakan. Kesimpulannya, untuk berkeluarga itu perlu adab.

Setelah mendengarkan kajian dari Dr. Adian dan bedah buku Fatih Madini, sekarang tugasku adalah…. menjual buku teman kami ini. Lumayan banyak yang beli. Alhamdulillah, semoga bermanfaat bukunya .

Selesai acara, hidangan makan siang datang. Kalau sarapan tadi menu Malaysia,  kali ini hidangan khas Indonesia.  Rasa sambalnya tidak asing di lidah. Alhamdulillah, mengobati rindu tanah air (padahal baru beberapa hari di Malaysia…hehe).

Selesai dari PCIM, lanjut berkunjung ke  rumah Prof Wan Mohd Nor Wan Daud. Beliau adalah Kakek Guru kami, karena Guru Kami (Dr Adian Husaini) adalah murid Beliau.  Rumah Prof. Wan berada di bukit, sinyal internet tidak masuk. Rumah beliau sangatlah unik, begitu juga ruang tamunya. Kami  berbincang-bincang dengan hangat. Kehangatan keluarga Kakek Guru kami ini begitu membahagiakan.  Sangat kagum dengan sosok beliau, sosok hebat tapi rendah hati. Padahal Beliau tokoh masyarakat dan intelektual hebat. Ingin rasanya aku bisa seperti beliau.

Rombongan selanjutnya meluncur ke icon-nya Malaysia, yaitu menara kembar Petronas.  Tidak macet disini, rapi sekali semuanya.  Pengendara motor maupun mobil taat aturan. Kedisiplinan di sini lumayan tinggi, fasilitas juga bagus.

Sampailah kami di menara kembar Petronas.  Ramai sekali.  Banyak keluarga,  pasangan atau pun jomblo yang jalan-jalan  dan berolahraga di sore itu. Agak pusing karena banyak orang lalu-lalang, tapi tidak apa-apa setidaknya aku bisa menginjakan kaki di  Malaysia dan berfoto dekat dengan menara kembar Petronas.

Hari ini, perjalanan diakhiri dengan makan malam di kantin IIUM.  Kami istirahat untuk petualangan berikutnya esok hari.

Meutia Salamah (santriwati Pristac)