Dampak Online Marketing terhadap Jasa Logistik

by
Bisnis dan belanja melalui online shop. Foto: Istimewa.

Jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30% dari total penduduk di Indonesia, pasar online marketing menjadi tambang emas yang sangat mendukung perkembangan perusahaan jasa logistik.

Wartapilihan.com, Jakarta –Bisnis online shop adalah salah satu topik yang sering di temukan di internet sekarang ini. Hampir setiap media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Twitter, dipenuhi dengan para pebisnis online shop.

Bisnis online shop memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk memiliki bisnis sendiri secara mandiri. Selain kemudahan dalam hal transaksi. Tidak butuh modal besar untuk punya sebuah toko online, bahkan ada layanan gratis yang bisa dimanfaatkan untuk menjalankan usaha online shop.

Selain itu, kemudahan lainnya dalam usaha online shop adalah tersedianya perusahaan jasa logistik yang dapat menghantarkan pesanan customer dalam hitungan cepat. Dengan begitu, para konsumen akan lebih mudah dan efisien mendapatkan produk yang diinginkan.

Wakil Ketua Komisi Tetap (Komtap) Kepabeanan Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI) DPW DKI Jakarta Ian Sudiana menuturkan, ada perkembangan manfaat yang dirasakan oleh perusahaan jasa logistik. Yaitu perubahan pola pengiriman barang.

“Secara konvensional, umumnya dari awal sampai akhir bisa menggunakan ukuran kendaraan dan kemasan yang sama. Sekarang proses awal bisa bulk cargo dan truk besar, di akhir (last mile) menjadi sangat retail dengan size yang lebih kecil,” ujar Sudiana saat dihubungi Warta Pilihan, Jumat (29/6).

Jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30% dari total penduduk di Indonesia, pasar online marketing menjadi tambang emas yang sangat mendukung perkembangan perusahaan jasa logistik.

“Dalam kurun 5 tahun terakhir, perkembangannya cukup signifikan. Logistik dari online marketing tumbuh lebih dari 15 persen,” tutur Vice President Iron Bird Logistics itu.

Pertumbuhan ini didukung dengan data dari Menkominfo  yang menyebutkan bahwa nilai transaksi marketing online mencapai angka Rp 130 triliun. Jumlah ini akan terus naik seiring dengan bertumbuhnya penggunaan smartphone, penetrasi internet di Indonesia, penggunaan kartu debit dan kredit, dan tingkat kepercayaan konsumen untuk berbelanja secara online.

“Pebisnis online umumnya handicraft, makanan kering dan olahan serta pakaian,” katanya.

Kendati, jumlah penjualan di Indonesia masih rendah dibanding negara lainnya, namun melihat perkembangan Indonesia yang cukup pesat, tidak menutup kemungkinan online marketing akan menyaingi negara Asia lain di atas penjualan Indonesia.

“Prosentase masih kecil karena baru dua tahun terakhir UMKM mulai mendapat dukungan teknologi, perbankan dan logistik,” paparnya.

Sebagai informasi, menurut data dari Bolton Consulting Group (BCG), golongan kelas menengah di Indonesia sudah mencapai angka 74 juta orang dan diprediksi pada tahun 2020, angka ini naik menjadi 141 juta orang atau sekitar 54% dari total penduduk di Indonesia.

Melihat dari data ini, sudah jelas dan bisa dipastikan bahwa potensi pasar online marketing di Indonesia sangatlah besar. Dukungan dan keberpihakan pemerintah terhadap perusahaan logistik menjadi keniscayaan guna meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi.

Oleh: Ahmad Zuhdi (Jurnalis Warta Pilihan). Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba jurnalistik yang diselenggarakan PT. Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).