Di Balik Berita Pemurtadan

by
Para muslimah berkerudung didepan latar gereja. Gambar ini dipersepsikan sebagai pemurtadan di Ciranjang, Cianjur. Sesungguhnya, gambar ini adalah foto bersama sebuah komunitas muslim dengan komunitas gereja dalam rangka sebuah event, di Jawa Timur, bukan pemurtadan. Foto: Akun Facebook Agung Adi.

Di daerah Ciranjang Cianjur, desa Panyawangan sekarang hampir 100% penduduknya pindah agama menjadi kristen. Benarkah berita tersebut?

Wartapilihan.com, Jakarta –Berita pemurtadan seperti di atas, yang viral di media sosial cukup membuat panas hati. Tak dijelaskan bagaimana cara mereka memurtadkan. Tetapi wajar jika berita pemurtadan itu – dilandasi rasa keprihatinan – diteruskan ke grup-grup medsos lainnya oleh saudara-saudara kita sendiri. Tetapi efeknya, muncul persepsi berjamaah, pemurtadan itu seolah benar adanya. Inilah sebab utama investigasi Jurnalistik ini dilakukan, melacak kebenaran isu pemurtadan, atas prakarsa Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah, Ust. Amlir Syaifa Yasin.

“Kita lacak dulu kebenaran berita di medsos itu. Ambil kasus di Sukabumi dan Cianjur dulu. Langkah apa yang akan diambil, kita lihat dari hasil investigasinya,” ujar Ust. Amlir.

Antara percaya dan tak percaya. Jika sekampung murtad, tentulah tak akan terdengar lagi panggilan waktu sholat dari masjid-masjid, suara dzikir lamat-lamat yang biasa terdengar di masjid. Lalu masjid mereka mau diapakan Sajadah, mukena, sorban, peci, tasbih, bahkan kitab Al-Qur’an yang ada di rumah-rumah penduduk Desa Panyawangan, akan jadi apa? Bergidik  membayangkannya. Murka Allah serasa di depan mata.

Penulis segera mengontak beberapa tokoh masyarakat, ulama dan cendekiawan muslim di Sukabumi yang sekiranya dapat memberi informasi akurat berupa data, fakta dan peristiwa yang berkenaan dengan pemurtadan. Antara lain yang dihubungi adalah Pengamat sejarah Nasional, Lukman Hakim, dan Ketua Majelis Syuro Dewan Da’wah Kabupaten Sukabumi, Ust. Mustafa Kamal yang pernah menjabat sebagai Ketua Baznas Kab. Sukabumi dan dikenal oleh para tokoh masyarakat sebagai deklarator penegakkan syareat Islam di Sukabumi. Ia pun mengenalkan kepada Ustadz Ruyani, Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi saat ini.

Dalam catatan sejarah, Kristen masuk ke Sukabumi dibawa oleh orang-orang Belanda sejalan kepentingannya berdagang komoditas pertanian dan perkebunan, terutama komoditas kopi.
Tahun 1709, VOC mulai membangun jalur lintasan kereta api yg menghubungkan Soekaboemi – Batavia – Tjiandjoer -Bandoeng. Untuk mengakut komoditas perkebunan dan pertanian.

Sejalan dengan keperluan peningkatan fasilitas kehidupan mereka, mulailah dibangun rumah tinggal, rumah peristirahatan dan rumah ibadah (gereja). Lalu bertahap bermunculan gereja,
antara lain gereja Pantekosta, gereja Katholik, gereja Bethel, gereja HKBP, gereja Kristen Pasundan. Ajaran Kristen mulai dikenalkan kepada masyarakat Sukabumi. Tahun 1872 tercatat ada 25
orang Kristen di Sukabumi. Tahun 1886, S. Van Eendenburg mendirikan Desa Kristen Pangharapan di Cikembar, Sukabumi. (Di Cikembar desa Kristen ini sekarang masih ada, dengan nama yang dikenal “Blok Pengharapan”). Kebijakan ini dilakukan karena kehidupan orang-orang Kristen pribumi pada waktu itu dipencilkan oleh masyarakat. Inilah fakta sejarah, sehingga melekat persepsi umum saat ini, seolah Kecamatan Cikembar, Sukabumi, adalah basis Kristen.

Bagaimana kondisi Kristen di Cikembar saat ini? Mari kita lihat faktanya:

Pertama, hanya ada dua gereja yang masih eksis di Cikembar, yaitu gereja Pantekosta di Indonesia dan gereja Kristen Pasundan.

Kedua, membekali persepsi awal tentang seberapa kuat Islam diyakini masyarakat di Kabupaten Sukabumi, mari melihat seberapa banyak jumlah pendidikan Islam disana. Berikut datanya:

Jenis Sekolah Umum dan Madrasah di Kabupaten Sukabumi

Data Pemkab Sukabumi; 2015; Sekolah Umum yang dibangun Pemkab PAUD dan Madrasah yang dibangun para tokoh agama. TK 282, PAUD 2.115, SD 1.202, Madrasah Ibtidaiyah 321, SMP 281 MadraIbtidaiyahMadtasTsanawiyahMadrasah Aliyah 85 SMK 129. Dengan melihat tabel perbandingan antara sekolah umum dengan sekolah Islam (madrasah), disimpulkan, keberadaan pendidikan Islam di Kabupaten Sukabumi sangat mengakar dan kuat. Secara kuantitas, sudah berimbang dengan pendidikan umum.

Ketiga, berdasarkan database Pemerintah Kabupaten Sukabumi, di wilayah ini terdapat:
– 5.499 masjid
– 13 Gereja (Data Baznas. Data Pemkab Sukabumi 15 Gereja)
– 1 Vihara.

Kesimpulannya? Tak dapat disangkal, Islam mengakar pada masyarakat Sukabumi. Jika menelusuri data di dunia maya, maka di Sukabumi paling tidak terdapat 47 gereja. Jika 13 gereja berada di Kabupaten, berarti 34 gereja lainnya berada di Kota Sukabumi. Bagaimana bisa kota Sukabumi yang luas areanya jauh lebih kecil dibanding kabupaten, memiliki jumlah gereja jauh lebih banyak dari jumlah di kabupaten? (Baiklah, ini bahan investigasi selanjutnya-Pen).

Meski Kabupaten Sukabumi memiliki 5.499 masjid, namun jika di “googling”, hanya ada seratusan masjid saja yang muncul. Catat: Ini adalah kelemahan umat Islam, Menyampingkan pentingnya optimasi data digital. Maka tak heranlah jika terjadi propaganda non-muslim
masuk melalui kelemahan umat Islam ini. Tak ada kata lain, Pemerintah Kabupaten Sukabumi harus segera membenahi ini.

Pemurtadan di Cikembar?

Cikembar adalah daerah kawasan industri dan pertanian. Memiliki luas wilayah 8.651,83 Ha. Ada 10 desa yang masuk Kecamatan Cikembar.

Keempat, Ust. Ruyani, Ketua Baznas Kabupaten Sukabumi menangkis fitnah pemurtadan itu di wilayah kerjanya. Jika ada, “Pasti kami yang lebih dulu tahu,” ujarnya, sambil menceritakan bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. “Banyak dari mereka – yang alhamdulillah mendapat hidayah masuk Islam. Sudah 179 orang jadi mu’alaf sampai saat ini,” papar Ust. Ruyani.

Sementara pemurtadan masal seperti yang diberitakan tidak ada peristiwanya. Ust. Ruyani mengakui bahwa tahun-tahun sebelum 2009 upaya-upaya pemurtadan itu ada, cukup massive, terang-terangan dan menyasar warga miskin melalui bujukan ekonomi, pendidikan dan janji kesejahteraan yang lebih baik.

Beberapa yang terjadi antara tahun 2006 – 2009, antara lain adalah kasus 22 anak muslim dari Pelabuhan Ratu yang disekolahkan di Mardi Waluya (Baca box: Cabut! Kita Jihad!). Terjadi juga kasus pemurtadan puluhan warga Kecamatan Cikidang melalui penipuan tawaran pekerjaan. Mereka ada yang dibawa ke Puncak, ada juga yang dibawa ke Solo.

“Tapi setelah sadar tertipu, mereka kabur sendiri dan kembali ke kampung halamannya,” cerita Ust. Ruyani.

Dibalik itu, diceritakan Ust. Ruyani, ada sekolah Kristen di Desa Cimanggu, Pelabuhan Ratu yang justru tidak berkembang. Karena tidak berhasil menggaet para siswa yang muslim, akhirnya sekolah itu diserahkan oleh pengurusnya ke pemerintah daerah, dan akhirnya menjadi sekolah dasar yang dikelola oleh Badan Amil Zakat Kabupaten Sukabumi.

Bersama Ust. Ruyani, dari lokasi kantor Baznas di Cisaat, kami menuju Kecamatan Cikembar. Dua jam waktu tempuh. Tak jauh dari kantor Kecamatan Cikembar, kami membelokkan kendaraan ke kanan, memasuki jalanan desa seukuran lebar kendaraan. Di kiri-kanan adalah perkampungan warga. Secara fisik, rumah-rumah itu sederhana, khas perkampungan dengan ekonomi kurang berkembang.

Sepanjang melalui jalanan desa itu, terlihat beberapa ibu-ibu sedang beraktivitas di depan rumah masing-masing. Satu-dua orang tampak berkerudung tapi kebanyakan yang tak berkerudung. Bahkan tampak seorang nenek berkulit gelap, berpakaian kaos tanpa lengan dan berbalut handuk dipinggang. Sepintas profil para ibu itu tampak keras, agak berbeda dari umumnya. Penulis menanyakan hal itu kepada Ust. Ruyani.

“Iya, karena mereka nggak kena air wudhlu,” jawab Ust. Ruyani.
“Ini sudah masuk wilayah non-muslim?”
“Wilayah ini disebut blok Pengharapan. Sejak membelokkan mobil ke kanan tadi, kita sudah masuk wilayah penduduk non-Muslim”. “Seluruhnya?”. “Nggak sih, ada juga warga muslimnya disini.

Berbaur, tapi kita bisa saksikan, ada ciri khas mereka yang berbeda dari warga muslim. Efek air wudhlu..Melaju terus ke depan, tampak disebelah kiri terdapat pemakaman non-muslim. Di pintu gerbangnya terdapat tulisan “Kompleks Pemakaman Jemaat Gereja Kristen Pasundan”. Mungkin jumlahnya sekitar 500-an makam. Melihat profil pemakamannya, tampak makam ini

Kelima, kami sudah melalui lokasi gereja. “Saya ingin menunjukkan Rumah Singgah Mu’alaf yang dibangun Baznas,” Ujar Ust. Ruyani.

Rumah-rumah yang dimaksud adalah komplek yang dibangun Baznas Sukabumi untuk para mu’alaf yang tercerabut dari kehidupan sosialnya pasca menjadi mu’alaf.

Keenam, kami memasuki halaman Rumah Singgah. Ada 12 rumah disini, diisi oleh 11 keluarga mu’alaf. Satu rumah lagi saat ini sedang kosong, karena mu’alaf yang menempatinya – mantan pendeta – meninggal hanya lima bulan masuk Islam. Ia dimakamkan di pemakaman umum yang ada di samping kanan rumah singgah.

Baznas sendiri berencana akan terus menambah lokal rumah dilokasi ini, menyesuaikan kebutuhannya. Bisa dibayangkan? Saya yakin hampir 100% pembaca tidak mengentahui adanya fasilitas Rumah Singgah untuk para mu’alaf, yang lokasinya berdampingan dengan pemukiman kristen, di dalam Blok Pengharapan!

Ketujuh, di Rumah Singgah Mu’alaf ini Baznas melakukan pembinaan rohani secara berkesinambungan, memfasilitasi kebutuhan rumah tinggal kepada mu’alaf yang memerlukan sampai batas lima tahun dan gratis, ditambah mereka mendapat bantuan keuangan bulanan sampai dengan memperoleh pekerjaan baru. Sampai saat ini, Baznas telah mengislamkan 179 jiwa (46 keluarga).

Hal yang mengejutkan dari investigasi ini – dengan mencoba mencari data sekunder, melalui bincang-bincang dengan warga dalam berbagai kesempatan – mereka memiliki persepsi yang sama bahwa banyak kasus pemurtadan di Cikembar, tetapi tidak satupun yang mengetahui dan atau mengalami langsung, atau dapat menunjukkan orang yang mengalami upaya pemurtadan atau menyebut sumbernya.

Ketika ditanya darimana dapat kabarnya? Basis data mereka adalah “ceunah” alias “katanya”. Sebagian lagi mengaku dari medsos. Berdasarkan informasi ini, disimpulkan persepsi warga Sukabumi pun sudah tergiring informasi dari medsos dan membias ke percekapan dari mulut ke mulut.

Mendatangi Kecamatan Cikembar, Ade (Sekretaris Desa Cikembar) dan Badrudin (Kasi Pelayanan di Kecamatan Cikembar), menyatakan sudah berkali-kali membantah berita itu, tapi laju berita pemurtadan seolah tak terbendung.  Badrudin menceritakan kasus terakhir pemurtadan terjadi enam tahun lalu, dimana pihak salah satu Gereja meminta ijin membawa warga plesiran ke Jakarta.

Mereka menyiapkan bus dan akomodasinya. Gratis. Namun begitu ditanya lebih jauh rencana detilnya, ternyata ada bagian dari acara tour itu mengikuti kebaktian umum di Monas. Badrudin dan aparat desa serta para ulama disana segera bereaksi, mencegah warga ikut tour. Setelah masa itu, tidak terdengar lagi ada pemurtadan.

Kedelapan, ketika ditanya tentang kristenisasi melalui bidang pendidikan, Badrudin bahkan memastikan, tidak ada anak muslim yang bersekolah di pendidikan Kristen. “Ini faktanya,” ujar Badrudin menyodorkan data kecamatan.

Badrudin menunjukkan data statistik. Jumlah penduduk Kecamatan Cikembar total 11.456 jiwa. Komposisinya 10.885 orang memeluk Islam dan 571 memeluk Kristen. Jadi pemeluk kristen di Cikembar tidak lebih dari 4,5%!

Kesimpulan:
Sudah cukup jelas faktanya – tanpa menafikan upaya pemurtadan yang akan selalu ada – terbatas pada berita pemurtadan masal di Cikembar, tidak ada peristiwanya. Cikembar bersih dari pemurtadan masal