Di Balik Bulan Penuh Diskon

by
Foto: Greenpeace Indonesia.

Hingga akhir Desember mendatang, seperti biasanya akan selalu ada diskon akhir tahun di ritel-ritel terdekat Anda, salah satunya pakaian. Namun, tahukah Anda berapa air yang digunakan untuk membuat satu buah baju atau celana?

Wartapilihan.com, Jakarta –Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia, untuk membuat satu buah baju saja membutuhkan 2.700 liter air; sedangkan untuk membuat sebuah celana dibutuhkan 7.000 liter air.

Lu Yen Rollof, salah satu aktivis Greenpeace menjelaskan, jumlah limbah yang dihasilkan oleh satu orang saja sudah begitu meresahkan.

“Jumlah limbah yang kita tinggalkan sangat meresahkan. Setiap potongan plastik yang diproduksi 60 tahun terakhir masih ada di bumi ini. Ketika semuanya menjadi lebih murah dengan model yang dirancang cepat usang, kita jadi lebih sering membuang barang. Dalam benak masyarakat konsumeris, belanja lebih baik  daripada merawat benda,” tutur Lu Yen, dalam website Greenpeace.org, yang ia nyatakan beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan, manusia saat ini membeli pakaian dua kali lebih banyak dibanding 20 tahun lalu, namun memakainya dua kali lebih cepat. Rasanya sekarang lebih murah untuk beli baru dibanding memperbaikinya.

“Meskipun teknologi kita sudah maju untuk menghubungkan dunia secara instan, kita masih belum dapat memperbaiki ponsel kita,” lanjutnya.

Menurut dia, manusia perlu mengganti budaya pakai-buang menjadi budaya menghargai barang.

“Coba bayangkan dunia dimana kita memakai sumber daya dengan bijak. Kita masing-masing dapat melakukan aksi kecil dalam kehidupan sehari-hari, yang jika dilakukan bersama akan membuat perubahan yang signifikan,” imbuh Lu Yen

Kepala bidang komunikasi Detox My Fashion ini merekomendasikan, daripada membeli ‘fast fashion’ dan membuangnya setelah dipakai beberapa kali, ia mengajak agar bisa membuat pakaian awet dengan merawat dan memperbaikinya.

“Untuk beralih dari perilaku konsumerisme yang tak ada artinya, kita bisa berhenti mendukung perusahaan produsen ponsel yang tak bisa diperbaiki atau punya elemen yang dapat diganti dan mulai memperbaiki barang-barang lagi,” tukas dia.

Ia mencontohkan banyak cara untuk meminimalisir budaya konsumerisme, misal, dengan memperbaiki pakaian dan elektronik, mengolah kembali barang bekas, menanam sendiri makanan.

“Banyak juga yang membuat kosmetik sendiri; membersihkan dengan cuka dan soda kue, menyingkirkan plastik dan berbagi pakaian, sepeda dan rumah dengan yang lain. Bantu kami untuk mengubah pola konsumsi terlalu banyak.” pungkas dia.

Eveline Ramadhini