Emas Hijau Indonesia

by
Prof Gardjito, saat sedang memberikan pemaparannya tentang betapa potensialnya komoditas kelapa. Foto: Zakhi Hidayatullah/INA.

“Kelapa ini banyak orang tahu tapi tidak mau tahu, termasuk Muslim. Dianggapnya paling jadi santen, minyak goreng, kelapa muda. Mereka tidak sadar kelapa itu kalau diproses turunannya bisa (jadi) 1.600 produk. Bisa lebih,” ujar Prof Gardjito.

Wartapilihan.com, Jakarta – Dia menyebut kelapa sebagai “emas hijau” Indonesia. Jika betul-betul dimaksimalkan, masyarakat Indonesia semestinya tidak lagi perlu bergantung dengan produk-produk yang bertengger di supermarket. Dengan komoditi ini, Prof Gardjito mengatakan, hal ini bisa menjadi izzah bagi umat Islam agar berdikari dalam ekonomi.

Dengan potensi besar yang dimiliki komoditi tersebut, Prof Gardjito mengaku heran. Menurutnya, luas perkebunan kelapa di Indonesia yang mencapai 3,8 juta hektar seharusnya sudah mampu memacu denyut ekonomi masyarakat. Setidaknya cukup untuk membangun industri kecil rumahan seperti produksi kecap, minyak VCO, sabun, sirup, bumbu rendang dan banyak lagi.

“Di Indonesia kok masih banyak orang miskin. Padahal (lahan) kelapa 3,8 juta hektar. (Jika digarap) jadi 4 ribu triliun,” ucap lulusan IPB tersebut, pada acara Dialog Forum Ekonomi Dakwah (D’FED) yang digelar pada Rabu (7/11/2018) malam, di Ar-Rahmah Quran Learning (AQL) Islamic Center, Tebet, Jakata Selatan.

Dilansir dari INA News Agency, Prof Gardjito mengatakan tak takut berkompetisi secara sehat dengan produk-produk besar yang menjadikan kelapa sebagai bahan bakunya. Hanya saja, dibutuhkan resources lebih memadai dari yang dia miliki saat ini untuk membesarkan bisnis yang menurutnya mesti digarap secara berjamaah.

Berdikari dalam ekonomi, sehingga izzah umat Islam pun terpatri. Setidaknya gagasan tersebut menjadi salah satu poin penting Membangun kemandirian ekonomi, terlebih jika memiliki atribusi ‘Islam’ di dalamnya tentu bukan pekerjaan semalaman. Dibutuhkan orang-orang yang tidak hanya memiliki semangat, namun juga profesional dalam bidangnya.

Dalam forum itu, inisiator D’FED sekaligus pimpinan AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengajak para peserta untuk saling kolaborasi dalam proyek tersebut. Beruntung, sebagian besar peserta adalah pengusaha Muslim yang sangat mendukung gagasan Prof Gardjito.

“Inilah yang sedang kami gagas. Duduk bersama orang-orang yang concern dengan ekonomi, tetapi pada akhirnya untuk dakwah,” jelas UBN menerangkan visi ekonominya.

Menurut UBN, Prof Gardjito menjalankan dakwah dengan apa yang dia kuasai. Cita-cita profesor lulusan universitas di Jepang dan Amerika Serikat itu salah satunya adalah mengangkat derajat umat Islam melalui ekonomi.

“Karena tujuan (bisnisnya) bukanlah kekuasaan dan kekayaan, tapi mengajak manusia kepada Allah, maka pada akhirnya juga harus dakwah,” pungkas UBN.

Eveline Ramadhini/Syahrain Fatharany