Film Lokal di Bioskop Nasional

by

Wartapilihan.com, Jakarta – Film yang bernuansa lokal dan diterbitkan secara indie ternyata kurang disambut dengan baik oleh Bioskop Nasional. Hal ini tercermin dari kurang semaraknya film ini di seluruh bioskop Indonesia jika dibandingkan dengan film Barat, hanya karena film tersebut dianggap film lokal. Rata-rata, pada setiap kota, hanya satu bioskop yang menayangkannya.

Irawan Barnas sebagai pemerhati film lokal menyatakan, untuk menonton di Bukittinggi saja, ia mesti melakukan perjalanan 100 Km ke tengah kota Padang, serta menghadapi antrian luar biasa. Namun, ternyata tiket telah habis. Irawan dan keluarga pun pulang dengan tangan hampa. “Belakangan saya tahu, bahwa alasan memutar film ini hanya di satu bioskop 21 saja di Ibukota adalah karena film ini menggunakan bahasa daerah (walau dilengkapi dengan sub title bahasa Indonesia,” ujar Irawan.

Film yang bermuatan kearifan lokal, menurut Irawan, sangat diperlukan oleh anak bangsa. “Produk kreatif yang bermutu, masuk ke dalam memori anak cucu, semoga menjadi makanan yang baik bagi jiwa yang lelah dengan rutinitas sehari-hari, dan bagi jiwa-jiwa belia harapan negeri,” katanya. “Semoga kita bisa turut berkontribusi menanam benih kesadaran bagi pohon-pohon jiwa belia di seantero pertiwi,” harap Irawan.

Pada Ahad(7/5) akan diadakan Nobar Film Surau dan Silek di XXI, di Plaza Ramayana, Depok. Film tersebut ditayangkan pada pukul 09.00 WIB hingga selesai, dengan harga tiket Rp 50.000. Acara Nobar ini diselenggarakan oleh Komunitas An-Naml, komunitas pecinta film Islami. Kepedulian terhadap film bermuatan lokal mulai tumbuh di beberapa kota, seiring dengan kebutuhan khasanah kearifan lokal sebagai kekayaan bangsa yang mesti dirawat dan ditumbuhkembangkan.

Reporter: Eveline Ramadhini