Gempa di Lombok dalam Tinjauan Sains

by
Foto: BBC.com.

Potensi gempa di Lombok sudah dideteksi ada sejak tahun 2016.

Wartapilihan.com, Jakarta — Hal tersebut disampaikan Dosen Kelompok Keahlian Geodesi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano.

Irwan mengungkapkan, sebelum terjadi gempa, sekitar tahun 2016, dirinya dan beberapa dosen ITB melakukan riset di kawasan tersebut.

“Lalu hasilnya ditemukan potensi sumber gempa di bagian utara Flores dengan magnitudo mencapai 7.4 SR,” kata Irwan, berdasarkan laman www.itb.ac.id, Jum’at, (10/8/2018).

Melihat potensi gempa tersebut, ia menilai bahwa yang terjadi pada Minggu lalu merupakan mainshock atau gempa utama dari runtutan gempa yang terjadi sebelumnya.

“Seperti diketahui, sebelumnya juga terjadi gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Richter di daerah yang sama pada 29 Juli. Kedua gempa tersebut tidak terjadi di tempat yang sama melainkan hanya berdekatan namun sumbernya sama dari Patahan Flores,” kata dia.

Dijelaskan Irwan, secara teori gempa bumi yang terjadi dua kali di waktu berdekat dengan magnitudo cukup besar tidak lazim terjadi.

Dua kali gempa tersebut biasa disebut gempa doublet atau gempa yang terpicu oleh gempa lain.

“Gemba doublet itu sebuah gempa biasanya melepaskan energi dan energi tersebut kemudian meningkatkan terjadinya gempa di tempat yang berdekatan, itu bukan sesuatu yang mudah kita fahami,” lanjutnya.

Dia mengatakan, ada pembelajaran penting dari gempa yang terjadi di Lombok. Sesudah gempa besar masyarakat harus waspada akan kemungkinan terjadi gempa susulan. Bahkan terhadap gempa yang lebih besar magnitudo-nya.

“Ketika kami pertama kali mengetahui ada gempa di Utara Lombok, kami pun cukup kaget. Secara ilmiah potensi gempa di sana di atas 7 SR,” ujarnya.

Kendati secara teori gempa yang telah terjadi 7 SR adalah gempa utama, namun masyarakat sekitar harus tetap waspada. Sebab kemungkinan gempa susulan masih terjadi. Ditambah lagi, kondisi bangunan yang sudah retak.

“Dikhawatirkan jika terjadi gempa 5 SR saja bisa menimbulkan kerusakan. Kami khawatir gempa kecil pun yang bangunannya sudah retak akibat gempa utama, bisa cukup berdampak. Kami berharap warga pulau Lombok masih kuat bertahan dan waspada,” tegas dia.

Saat ditanya apakah ada jaminan tidak terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar, dijelaskan Irwan, jaminan tersebut tidak ada. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah potensi gempa yang terjadi di segmen yang berdekatan dengan Lombok, misalnya Bali dan arah timur. Itu bisa juga berdampak ke Lombok.

“Kalau ditanya apakah ada jaminan, itu tidak ada. Tapi secara keilmuan energi utamanya sudah rilis,” ucapnya.

Kemudian, yang harus menjadi perhatian selanjutnya ialah apakah gempa tersebut juga berpotensi ke aktivitas vulkanik. Sebab seperti diketahui lokasi gempa dekat dengan Gunung Agung di Bali dan Gunung Rinjani sebagai dua gunung yang masih aktif.

“Di Indonesia kita punya banyak bukti riset dari aktivitas tektonik memicu aktivitas vulkanik. Misalnya terjadi kenaikan aktivitas Gunung Talang, Merapi dan Sinabung itu terjadi setelah gempa tektonik.

Ini PR kita untuk lebih detail melihat bagaimana dengan Rinjani dan Gunung Agung, mata kita harus waspada untuk memahami potensi kenaikan aktivitas di gunung tersebut,” tukasnya.

BMKG sendiri menyatakan, gempa Lombok yang terjadi pada 5 Agustus 2018 pukul 18:46:35 WIB sebagai lindu utama. Sumber gempa terletak pada koordinat lintang -8.37 dan bujur 116.48 bermagnitudo 7.0 dengan kedalaman 15 kilometer. Lokasinya berjarak 18 kilometer arah barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Sumber gempa Lombok itu dekat dengan sumber gempa bermagnitudo 6,4 tepat sepekan sebelumnya, Ahad, 29 Juli 2018, pukul 05:47:39 WIB di garis lintang -8.26 dan bujur 116.55 berkedalaman 10 kilometer. Lokasinya berjarak 28 kilometer arah barat laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Cara Selamatkan Diri dengan Aman

Saat terjadi gempa, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar menyelamatkan diri dengan aman dari gempa bumi.

Hal tersebut disampaikan Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI). Ia menceritakan pengalamannya yang telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun.

“Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985. Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat,” tutur dia.

Ia dan timnya mencoba meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka “menunduk dan berlindung” dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup “segitiga kehidupan”.

“Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dokumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya “segitiga kehidupan” bertahan hidup 100%,”

Film ini, lanjutnya, telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin.

“Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985. Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing. Semua anak remuk sampai ke tulang mereka.

Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong. Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu,” tegasnya.

Ia memperkenalkan teknik segitiga kehidupan ini yang secara sederhana, pada saat bangunan runtuh menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.

“Ruangan kosong ini lah yang saya sebut “segitiga kehidupan”. Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk. Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka,” tegas dia.

Segitiga tersebut, kata dia, ada di mana-mana dan merupakan bentuk yang umum. Ia menemukan, jampir semua orang yang hanya “menunduk dan berlindung” pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan.

“Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya,” kata Doug.

Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri.

“Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya,”

Bangunan dari kayu menurut Doug merupakan tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk.

Di samping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

“Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa,” terangnya.

Jika ada di hotel atau bangunan tinggi apapun, ia menyarankan untuk tidak menggunakan tangga. Karena, tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama).

“Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini