Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

by
Berdasarkan hasil riset dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, jumlah penderita depresi mencapai 14 juta jiwa. Kemungkinan setiap tahunnya terus bertambah. Foto: hellosehat.com.

Tanggal 10 Oktober biasa diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, tahun ini tema yang di ambil adalah ‘Pemuda dan Kesehatan Jiwa di Tengah Perubahan Dunia’

Wartapilihan.com, Jakarta — Masa remaja dan tahun-tahun awal masa dewasa adalah masa kehidupan di mana banyak sekali perubahan yang terjadi, misalnya masuk sekolah baru, memiliki teman baru, meninggalkan rumah, masuk universitas dan memulai pekerjaan baru. Bagi kebanyakan orang, ini adalah saat-saat yang menyenangkan. Namun, di sisi yang lain merekapun bisa menjadi stres dan ketakutan.

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Lahargo Kembaren, SpKJ selaku psikiater. Ia mengatakan, dalam beberapa kasus, jika tidak dirasakan dan dikelola dengan baik maka perasaan-perasaan ini dapat menyebabkan gangguan jiwa.

“Penggunaan teknologi online yang semakin luas, tidak diragukan memberikan banyak manfaat, tetapi harus disadari juga bahwa hal tersebut dapat memberikan tekanan tambahan, karena konektivitas ke jaringan virtual setiap saat siang dan malam.

Banyak pemuda juga yang tinggal di daerah yang terkena dampak darurat kemanusiaan seperti konflik, bencana alam, dan epidemi. Orang muda yang hidup dalam situasi seperti ini sangat rentan terhadap tekanan mental dan penyakit,” tutur dia, Rabu, (10/10/2018).

Dokter yang bertugas di RS.dr.H Marzoeki Mahdi Bogor ini menjelaskan, Setengah dari semua gangguan jiwa dimulai pada usia 14 tetapi sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak diobati. Bila dilihat dari beban penyakit di kalangan remaja, depresi adalah penyebab utama ketiga.

“Bunuh diri adalah penyebab utama kematian kedua kematian pada anak usia 15-29 tahun. Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang yang berbahaya di kalangan remaja adalah masalah besar di banyak negara dan dapat menyebabkan perilaku berisiko seperti seks yang tidak aman atau mengemudi yang berbahaya. Gangguan makan juga menjadi perhatian saat ini di kalangan remaja,” tegas dia.

dr. Lahargo melanjutkan, untungnya, saat ini mulai ada pengakuan yang semakin besar akan pentingnya membantu orang muda dalam membangun ketahanan mentalnya, mulai dari usia dini, untuk mengatasi tantangan dunia saat ini.

Bukti-bahwa menunjukkan bahwa dengan mempromosikan dan melindungi kesehatan jiwa remaja maka akam membawa manfaat tidak hanya untuk kesehatan remaja, dalam jangka pendek dan jangka panjang, tetapi juga untuk ekonomi dan masyarakat.

“Orang dewasa muda yang sehat akam mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pada pekerjaan, keluarga, komunitas dan masyarakat secara keseluruhan,” tutur dokter yang juga bertugas di RS. Siloam Bogor ini.

Dia menuturkan, banyak yang bisa dilakukan untuk membantu membangun ketahanan mental sejak usia dini untuk mencegah tekanan mental dan gangguan jiwa di kalangan remaja dan dewasa muda, dan bagaimana mengelola dan memulihkan diri dari gangguan jiwa.

“Pencegahan dimulai dengan menyadari dan memahami tanda-tanda peringatan dini dan gejala gangguan jiwa. Orang tua dan guru dapat membantu membangun kecakapan hidup anak-anak dan remaja untuk membantu mereka mengatasi tantangan sehari-hari di rumah dan di sekolah,”

Selain itu, dukungan psikososial dapat diberikan di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya dan tentu saja pelatihan untuk petugas kesehatan agar mereka dapat mendeteksi dan mengelola gangguan kesehatan jiwa dengan baik.

“Investasi oleh pemerintah dan keterlibatan sektor sosial, kesehatan dan pendidikan secara komprehensif, terpadu, dan program berbasis bukti untuk kesehatan jiwa anak muda sangat penting,”

Investasi ini, terangnya, harus dikaitkan dengan program untuk meningkatkan kesadaran di kalangan remaja dan dewasa muda tentang cara-cara untuk menjaga kesehatan jiwa mereka, membantu teman sebaya, bagaimana orang tua dan guru mengetahui cara mendukung anak-anak dan siswa mereka.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu,” pungkas dr. Lahargo.

 

Eveline Ramadhini