Jadilah Psikolog Yang Beradab

by
Dr. M. Ardiansyah, M.Pd.I (sebelah kiri). Foto: Eveline.

Menjadi seorang ilmuwan yang memegang teguh nilai adab jarang ditemukan dewasa ini. Bagaimana cara menjadi psikolog muslim yang beradab?

Wartapilihan.com, Jakarta –“Mahasiswa jurusan psikologi memiliki tanggung jawab besar menjaga masa depan bangsa ini” Kata Dr Muhammad Ardiansyah membuka kajian di Fakultas Psikologi UI, Sabtu, (21/4/2018).

Menurut Pengasuh Ponpes at-Taqwa, Depok ini, ada kekacauan ilmu (confused of knowledge) yang sudah tersebar, termasuk dalam psikologi. “Dalam Islam, psikologi itu dikenal dengan ilmu al-nafs. Ilmu yang membahas masalah jiwa manusia. Al-Qur’an dan Hadits banyak menyebut masalah jiwa. Ulama dan ilmuwan Muslim juga banyak membahasnya. Tapi psikologi modern menjadikan psikologi sebatas ilmu al-suluk atau ilmu perilaku. Di sinilah mahasiswa jurusan psikologi memiliki tugas meluruskan kesalahan yang terlanjur menyebar.” Demikian tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Ardiansyah memberi contoh kekeliruan banyak orang dalam memahami esensi manusia. Menurutnya, sampai saat ini masih diajarkan, bahwa kebutuhan primer manusia sebatas sandang, pangan dan papan. Padahal, itu semua hanyalah kebutuhan jasmani. Sedangkan kebutuhan jiwanya seperti ibadah, dzikir, ilmu, hikmah, dan nasehat tidak dianggap sebagai kebutuhan primer.

“Tugas kita adalah mengislamkan kembali. Ilmu yang disebarkan ini harus ‘disyahadatkan’ lagi, memang butuh proses kreatif yang tidak mudah,” terangnya.

Dalam kajian yang bertema Menjadi Psikolog Muslim yang Beradab ini, Ardiansyah juga mengingatkan agar mahasiswa jurusan psikologi tidak hanya mengenal psikolog Barat, seolah-olah Islam tidak memiliki tokoh psikologi yang hebat. “Mahasiswa Muslim harus kenal Ibn Miskawaih, al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi sebagai seorang psikolog Muslim yang hebat. Jangan hanya kenal Abraham Maslow, Ivan Pavlov, atau Freud saja.” Menurutnya, mengenal sosok psikolog Muslim ini penting untuk bahan pembanding dari teori psikologi yang datang dari Barat. Tujuannya agar mahasiswa memiliki cara pandang yang benar sebagaimana para ulama, dan tidak menelan mentah-mentah teori yang disampaikan kepadanya.

Kendati demikian, Ardiansyah menekankan agar akademisi muslim juga tidak perlu terlalu ekstrim dalam menyikapi pandangan Barat. Ia menghimbau agar adil dan proporsional dalam menyikapi Barat.

“Enggak boleh terlalu ekstrim, tapi tidak berarti terlalu permisif. Harus proporsional, yang baik kita boleh ambil, yang tidak sesuai jangan diterima,” pungkas Ardiansyah.

Selain itu, Ardiansyah juga mengingatkan, bahwa realitas yang terjadi belum tentu sebuah kebenaran. Disinilah seorang psikolog Muslim harus memiliki cara pandang yang Islami (the worldview of Islam).

“Orang Islam harus berpihak pada kebenaran. Istilah” Pihak” itu berasal dari bahasa Arab, fiihi haqqun. Artinya, kalau di sana tidak ada kebenaran, tidak boleh berpihak di situ,” tutur Ardiansyah.

Sebagai penutup, ia menekankan agar mahasiswa jurusan psikologi menjadi psikolog Muslim yang beradab. Caranya, melalui tiga langkah seperti yang disampaikan oleh Prof Malik Badri. Pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan Muslim tentang jiwa manusia. Kedua, sedikit demi sedikit membangun psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita sebagai Muslim. Ketiga, berusaha menggagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi.

“Ini bukan pekerjaan mudah seperti membalikkan telapak tangan, tapi tidak mustahil untuk diwujudkan. Jika mahasiswa jurusan psikologi serius mempelajari psikologi dengan benar, niscaya ilmu psikologi yang sekular akan digantikan dengan psikologi Islam yang beradab dan memanusiakan manusia.” Tegas Ardiansyah menutup kajian pagi ini.

 

Eveline Ramadhini