Jejak Ahmad Dhani (2), Israiliyat dalam Dewa

by

 

 Sebagian lirik dinilai bermuatan ajaran menyimpang, bahkan mengandung kampanye pro-Yahudi.

Wartapilihan.com, Depok– Dalam Hidup Adalah Perjuangan, Shine On, dan Nonsens, Dewa meneriakkan relativitas kebenaran. Tidak ada kebenaran mutlak atau hakiki dalam kehidupan manusia, yang ada hanyalah kebenaran milik Tuhan.

Sepintas seruan itu logis. Tapi bila digeledah lebih jauh, lagi-lagi ia menjadi bagian dari ironi Dewa sendiri sebagai pengusung Panji Ilahi.

Budi Handrianto, pakai peci putih. Foto: Zuhdi

Menurut peneliti INSIST, Dr Budi Handrianto, relativisme kebenaran bukan ‘’dagangan’’ anyar. Dalam hal ini Dewa cuma mengasongkan gagasan yang sejak jauh hari sudah dilontarkan oleh tokoh pluralisme semisal Ernest T, William E. Hocking, dan John Hick, serta John Dewey’s. Nama terakhir ini menggagas common faith ( keimanan bersama).

Padahal, setiap agama atau keyakinan pasti merasa dirinya benar. Kalau tidak, buat apa ia harus diyakini. Kaum Yudaisme menyatakan dirinya sebagai ‘’chosen peope’’. Katolik punya doktrin ‘’extra ecclesiam nulla salus’’; dan  Protestan punya prinsip ‘‘No salvation outside Christianity”. Sedangkan Allah Swt berfirman: Sungguh agama yang benar hanyalah Islam. ‘’Siapa yang mencari (agama) di luar itu, tertolak,’’ tandas Nabi Muhammad SAW.

Tentang kebenaran laku manusia, filsafat membagi objek empiris dalam tiga dunia: logika, yang penilaiannya benar dan salah; etika, yang mencap baik dan buruk, serta estetika  yang mengatakan indah dan jelek.

Celakanya, ujar Budi Handrianto, ketiga dunia itu dianggap sama sekali tak saling berhubungan. Karenanya, suatu ekspresi seni yang tidak etis, oleh kalangan lain bisa dibela eksistensinya atas dasar penilaian estetis. Misalnya goyang ngebor Inul Daratista itu. Akhirnya, kebenaran seolah menjadi relatif, karena dilihat dengan cara sak enake wudele dhewe.

‘’Islam,’’ terang Budi, ‘’mengintegrasikan ketiga versi penilaian di bawah payung kebenaran syariat.’’ Kaedahnya berbunyi: Perbuatan yang baik adalah  yang dinilai baik oleh syara’ dan perbuatan yang buruk adalah  yang dinilai  buruk oleh  syara’.” (Al hasan ma hassanahu asy syar’u wa al qabih ma qabbahahu asy syar’u).

Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, itu menegaskan, syariat mengatasi subyektivitas rasio dan perasaan manusia. Mengutip pesan Ilahi dalam Qur’an: ‘’Boleh jadi sesuatu yang kamu cintai justru buruk bagimu, dan yang kamu benci justru baik bagimu’’ (Al Baqarah: 212).

Namun tentu saja di koridor syariat, terbentang spektrum kategori manusiawi dari yang baik dan lebih baik, dari yang indah dan lebih indah.