Kalau Tidak Ikut Langkah Setan, Mengapa Harus Tersinggung?

by
foto:istimewa

Oleh : Asyari Usman (mantan wartawan BBC London)

Pak Amien Rais telah mengklarifikasikan narasi beliau tentang Partai Setan dan Partai Allah. Menurut Pak Amien, yang dia maksudkan adalah orang dengan “cara pikir setan”, itulah Partai Setan. Sebaliknya, orang dengan “cara pikir untuk Allah”, itulah Partai Allah.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Harus dipahami bahwa “partai setan” dan “partai Allah” bukanlah entitas yang berstruktur. Bukan juga organisasi massa. Tidak mesti pula organisasi politik. Orang dengan “pikiran setan” ada di mana-mana. Begitu pula sebaliknya; bahwa orang dengan pikiran yang senantiasa taat dan takwa kepada Allah, juga ada di mana-mana.

Wakil Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Danik Eka Rahmaningtiyas, kelihatannya merasa tersinggung dengan taushiyah Pak Amien tentang “partai setan” dan “partai Allah”. Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa di dunia ini hanya ada dua partai. Yang tunduk patuh kepada Allah dan hidup-mati untuk Allah, disebut “partai Allah” (hizbullah). Di luar itu, disebut “partai setan”.

Danik mungkin mengartikan “partai setan” atau “partai Allah” itu sebagai institusi organisasional seperti halnya partai-partai politik. Kalau dilogikakan seperti itu, pantas saja penjelasan Pak Amien yang berdasarkan al-Qur’an itu akan menyinggung perasaan para politisi.

Barngkali karena sangat tak enak rasa, Danik menyebutkan ada dua politisi dari PKS dan PAN yang berurusan dengan KPK karena kasus korupsi. Dikatakan oleh Wasekjen PSI ini, jika Pak Amien mengatakan ada partai tertentu yang disebut “partai Allah”, mungkin juga dengan kasus yang melibatkan kedua politisi itu Yang Maha Kuasa ingin menunjukkan watak asli partai-partai ini.

Di sini, komentar Danik tampak sangat “polos”. Padahal, dunia politik di Indonesia ini penuh dengan muslihat dan keculasan. Sejak dulu, sampai sekarang! Dia tidak memperhitungkan konspirasi dahsyat yang, sangat mungkin, ditujukan kepada PKS, PAN, dan partai-partai lain yang berbasis kaum muslimin atau partai-partai yang bertekad membangun Indonesia bersih. Yaitu, konspirasi yang didalangi oleh orang-orang yang memiliki segala macam kedengkian dan kekotoran pikiran, yang berusaha untuk melanggengkan kejahatan sosial-politik dan kejahatan Ekuin mereka. Dan, mereka itu sangat kuat secara finansial.

Nah, dalam kerangka ingin menghancurkan kejahatan yang multi-dimensional itulah, Pak Amien Rais berusaha menyederhanakan gambaran tentang dua kekuatan yang selalu berhadapan sejak manusia menghuni Bumi. Beliau hanya mengingatkan kembali aba-aba dari Allah bahwa kedua kekuatan itu adalah “hizbullah” (partai Allah) dan “hizbusy-syaithan” (partai setan).

Untuk disebut “partai Allah”, orang tidak harus ikut PKS, PAN, PBB, atau yang lainnya yang masih sekategori. Hanya saja, mungkin, parpol-parpol ini menyediakan ruangan dan suasana yang lebih cocok untuk menggerakkan perjuangan melawan kekuatan setan (hizbus-syaithan). Tetapi, tidak tertutup kemungkinan perjuangan untuk melawan “partai setan” bisa dilakukan melalui parpol-parpol lain. Hanya saja, orang barangkali akan menemui kesulitan untuk memunculkan gerakan perlawanan terhadap kekuatan setan di partai-partai yang berplatform non-relijius. Sekali lagi, ini hanya “barangkali”.

Mengapa? Bisa jadi karena kata “setan” itu ada di dalam, dan bermula dari, literatur keagamaan. Sehingga, mungkin (sangat mungkin), perjuangan untuk melawan kekuatan jahat ini kelihatannya akan lebih cocok untuk dipikirkan dan direncanakan melalui parpol-parpol yang “dekat” dengan konsep agama.

Kita tidaklah berlebihan menyebut bahwa Gerindra adalah kekuatan politik yang di dalamnya ada perjuagan untuk meruntuhkan “satanic forces” (kekuatan setan). Kelompok politik ini tidak berplatform keagamaan. Tetapi, di dalamnya ada tekad dan pikiran untuk membuat Indonesia menjadi bersih, sebersih mungkin, dari kekuatan kotor –kekuatan setan.

Kenapa hanya Gerindra? Karena, sejauh ini, partai pimpinan Prabowo Subianto itu konsisten berada di kubu oposisi. Sehingga tidak tersangkut sama sekali dengan tindak-tanduk penguasa. Kedua, boleh dikatakan Gerindra hampir tidak punya masalah dengan penyimpangan kekuasaan di parlemen. Namun, masih perlu dibuktikan bila nanti partai berlambang kepala garuda ini duduk sebagai penguasa negeri.

Oleh sebab itu, uraian Pak Amien Rais mengenai “partai setan” dan “partai Allah” sangat tidak relevan dengan konsep politik parlementer. Pak Amien tidak mengatakan hanya partai A, partai B, partai C, dll, yang layak disebut “partai Allah” sedangkan yang lainnya “partai setan”. Beliau hanya memberikan indikasi bahwa di tengah hiruk-pikuk yang sangat tidak menguntungkan umat saat ini, baru terlihat parpol ini dan parpol itu yang berusaha menghadang kekuatan jahat, yang diterminologikan di dalam al-Qur’an sebagai “hizbus-syaithan”.

Sebagai penutup, bila Anda semua tidak sedang mengikuti langkah-langkah “setanistik” di dalam berpolitik, maka sejauh itu Anda tidak perlu tersinggung dengan ceramah Pak Amien Rais.

Semoga saja terjelaskan. Mohon maaf jika ada yang tak berkenan. II