Kebun Al-Qur’an

by
Kebun Al-Qur'an. Foto: kebunalqurankalimantan.blogspot.com.

Memperkenalkan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an ke masyarakat, salah satunya adalah langsung terjun pada hal yang paling fisik. Melalui bidangnya di pertanian, Muhaimin Iqbal penggagas Kebun Al-Qur’an bergerak memperkenalkan Al-Qur’an dengan tanaman-tanaman.

Wartapilihan.com, Jakarta –Semisal buah zaitun dan tanaman kurma disebutkan berkali-kali oleh Al-Qur’an. Iqbal yang merupakan alumnus Instutut Pertanian Bogor (IPB) lebih mendekatkan Al-Qur’an kepada masyarakat melalui tanaman.

“Dengan tanaman, jadinya orang merasa dekat. Di Al-Qur’an banyak sekali berita tentang sesuatu yang fisik, atau apa-apa yang dilihat oleh mata,” papar Iqbal, ketika ditemui Warta Pilihan, beberapa waktu lalu, di Kebun Al-Qur’an, Jalan Ir H Juanda, Depok, Jawa Barat.

Apa yang diupayakan Iqbal pun berhasil menarik animo masyarakat. Iqbal dan timnya terus berupaya menyosialisasikan ilmu menanam tanaman-tanaman Qur’ani yang sudah dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia, dan tentunya membuahkan hasil.

“Alhamdulillah semangat masyarakat luar biasa. Orang berminat sekali, sudah panen mendahului daripada yang saya tanam. Kita memperkenalkan cara menanamnya. Tanaman zaitun di Indonesia kami mengajarkan soal bibit juga,” ungkap Iqbal.

Ia menjelaskan, di dalam Al-Qur’an sebetulnya nama semua tanaman disebut, namun ada yang disebut langsung namanya, ada juga yang tidak disebut dari namanya. “Semua tanaman disebut dalam Al-Qur’an, cuma ada yang disebut by name, ada juga yang tidak disebut by name. ada yang secara khusus dan ada yang umum,” imbuh dia.

Selain mengembangkan zaitun dan kurma di Indonesia, Iqbal juga bergerak membudidayakan madu dan berternak kambing yang semuanya berhasil ia lakukan. Ia menekankan, hal yang terpenting adalah berbuat sesuatu berdasarkan panduan Al-Qur’an. Agar kita juga berbuat sesuatu dan memecahkan masalah sesuai pertimbangan Al-Qur’an.

“Allah tidak melewatkan daun jatuh kecuali dalam pengawasan-Nya. Semua ini dilakukan agar kita menghidupkan Al-Qur’an. Ada dasarnya berbuat sesuatu, menanam ini karena dasarnya Al-Qur’an,”
Adapun cara yang paling mudah dalam mengatasi kebingungan dan keraguan dalam memahami Al-Qur’an, ia menekankan agar mendalami atau mentadabburi lebih banyak lagi. Ia pun mengatakan, keraguan akan dijawab pada ayat lainnya.

“Keraguan kita akan dijawab di ayat yang lain. Solusinya memperbanyak tadabbur supaya hati tak terkunci mati sesuai yang Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an,” terang penemu IGrow ini.

Kebun Al-Qur’an yang sudah berdiri sejak empat tahun lalu ini, menurut Iqbal merupakan strategi dakwah tersendiri untuk membuat orang-orang tertarik dengan Al-Qur’an. Ia bercerita, pernah melakukan konsultasi dengan orang Arab Saudi soal ini.

“Dia (orang Arab) heran sekali dengan apa yang kita lakukan. Orang tidak bisa Bahasa Arab tapi kok bisa menjalankan apa yang ada di Al-Qur’an. Kesimpulan dia sederhana, mukjizat Al-Qur’an,” kenangnya.

Iqbal pun masih mengingat betul apa yang ia sampaikan kepada dirinya. “Katanya, tidak usah khawatir ini benar apa salah, tapi mendekati Al-Qur’an saja insyaa Allah sudah mendapatkan balasan pahala dari Allah. Jadi nggak perlu khawatir tafsirnya salah atau bagaimana, yang penting mendekat dulu kepada Al-Qur’an,” ia menerangkan.

Mengenai bibit apa saja yang ada di Kebun Al-Qur’an ini, Iqbal mengungkapkan bahwa di tempat ini hanya bersifat sampel saja. “Kalau di sini sifatnya hanya sampel, ada manga, kurma, delima, zaitun, pisang, sorgum, seperti sebuah miniatur dari yang kita tanam di berbagai belahan di Indonesia,” tuturnya.

Sesuai buku yang pernah ia tulis berjudul Kebun Qur’an: Jalan Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur yang ia sebarluaskan secara gratis, ia memiliki visi agar negeri Indonesia yang subur ini dapat menjadi negara yang baik (thayyib) dan Tuhan mengampuninya, melalui empat poin sesuai Al-Qur’an Surah 34 ayat 15, yakni (1) adanya dua buah kebun, di kanan dan di kiri, (2) makan dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu, (3) bersyukur, dan (4) Allah maha pengampun.

“Allah membicarakan seluruh persoalan, termasuk pertanian. Ilmu Al-Qur’an cukup. Disebarlauskan secara gratis, kalau ilmu semuanya gratis. Tapi kalau ngajarin orang menanam, ilmunya gratis tapi bibitnya bayar dong,” tukasnya bergurau.

Ia berharap, apapun bidang seseorang, tetap berpegang teguh pada pedoman, termasuk soal pertanian. Konsep Islamic Agriculture yang ia pernah perkenalkan ke kawan seperjawatannya di IPB pernah diprotes keras karena pertanyaan mereka, “Apakah pertanian yang kita lakukan selama ini tidak Islami?”

Ia pun menjawab, di Islam semuanya memiliki ukuran. Tujuan manusia diciptakan di muka bumi ini adalah untuk memakmurkan bumi. “Pertanian selama ini yang ada membuat tanah tambah rusak,” ia prihatin.

Sebagai contoh lainnya, Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Ar-Rahman untuk tidak mengganggu keseimbangan kehidupan di alam bumi. “Semesta akan mengembang dan besar. Nanti Allah melihat ada manusia kecil merusak keseimbangan, seluruh semesta yang dirusak.

Sekarang kalau alam setelah dikelola manusia tidak menyeimbangkan, berarti yang kita lakukan bertentangan dengan Al-Qur’an. Jadi kita meluruskan jangan sampai melenceng kesana. Dalam segala kehidupan harus kembali ke Al-Qur’an,” pungkas Iqbal.

 

Eveline Ramadhini