Ketika Kata Beragam Makna, “Asu” Jadi Pemicu

by

Muhammad Said Didu, Mantan Staf Khusus ESDM semasa Menteri Sudirman Said, bereaksi keras di akun twitternya (@saididu) ketika seorang warganet berkomentar tidak pantas.

WartaPilihan.com, Depok— Entah sang warganet tidak tahu, atau memang sengaja, Didu adalah nama ayahanda  Muhammad Said Didu.  Ketika hanya menyebut Didu, maka yang dituju adalah Haji Didu, bukan Muhammad Said Didu.

Keriuhan ini berawal darimana?

Adalah sebuah berita dari laman kumparan.com yang memuat komentar KH. Ma’ruf Amin: “Hanya yang matanya buta, hanya yang telinganya budek, yang tidak melihat dan mendengar tentang ini (kinerja Jokowi), makanya harus dibukakan matanya, harus dilubangi telinganya,” ujar Ma’ruf Amin dalam sambutannya di Rumah Aspirasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).

Kutipan ini menjadi bagian dari artikel dengan judul berita: “Ma’ruf: Hanya yang Buta dan Budek Tak Lihat Kinerja Jokowi “

Said Didu mengomentari berita ini dengan cuitannya:  Wadduuhhh “buta dan budeg”. Satu aja yg ada pada diri seseorang sdh sulit – apalagi dua2nya

Cuitan inilah yang kemudain disambar akun bakri_hazairin dengan huruf kapital: “DIDU MEMANG ASU”

“Saya tdk terima pernyataan anda. Didu itu nama orang tua saya. Beliau adalah perintis kemerdekaan RI dan Anda berikan gelar nama binatang saat hari pahlawan. Bantu saya cari orang ini”, demikian balas Said Didu.

Tidak seperti tweet war pada umumnya, akun bakri_hazairian tidak membalas lagi. Yang ramai malah follower  Pa Said Didu yang pada umumnya menyayangkan tweet bakri_hazairian. Berikut beberapa tweet yang terekam:

Effendi‏ @eae18 (53K follower)

Heiiiii kamu kok songong sih. Followers 25 juta sudah kurang ajar

Kiman Tongkodu‏ @qm4n76

Kalau nanti terciduk, jangan dikasih materi 6rb mahluk ini pak @saididu proses secara hukum

Indra Prasetyo‏ @indra087

Saya nggak tau suku anda tapi dalam kultur Bugis pernyataan anda sudah termasuk Siri’…. Tampaknya anda berurusan dengan orang yang salah…

#Twofor All: Justice & Prosperity‏ @BerniKusen:

Maaf ya, mungkin ybs miskin literasi ttg the meaning of ethnic pride (siri). Hina keluarga, dlm budaya org Minahasa tempo doeloe taruhannya ‘kepala’ (sei re’en’).

Pa Said Didu melalui cuitan selanjutnya mengharapkan bantuan warganet untuk menelusuri akun ini, begini cuitnya:

Mohon terus dibantu telusuri akun @bakri_hazairin yg telah hina Bpk saya tsb krn dalam penelusuran terjadi pembelokan. Ini penting untuk tegakkan hukum dan sopan santun yg makin rusak di negeri ini

Maka warganet pun mulai melakukan pencarian, berikut hasil menarik penelusurannya:

All Rises‏ @d4rkn19htrise78:Dia punya 3 IG pak, mungkin karena sering bilang ASu dia nya pelupa sama IG nya

Akun @JackVardan berhasil mengidentifikasi dimana posisi akun ini. Lengkap dengan petanya:  Akun masih di Indonesia, sekitaran Jakarta barat. Ini gambaran tracenya:

@RajaPurwa:

Seperti FB ada 3 akun, twiter juga banyak akun, nie orang suka lupa login kali 🙂 Ini akun dia semua, fix bahasanya sama

Zulfahmi Reza‏ @zulfahmireza46 : Ilang.. Sempat ambil fotonya tadi..

Kesimpulannhya, dari hasil penelusuran warganet teman-teman Pa Said Didu ini, teridentifikasi sampai ke perkiraan siapa orangnya, lengkap dengan jejak-jejak digitalnya. Masih dugaan, tapi ini bisa menjadi awal untuk klarifikasi. Apalagi bila kemudian melibatkna pihak berwajib. Informasi awal ini akan sangat membantu.

Akun Jack M. Vardan‏ @JackVardan menganjurkan jalan tengah: “Pak @bakri_hazairin minta maaf saja sama Pak @saididu daripada kehilangan pekerjaan. Karena kode sofa merah Dan deretan akun medsos milik anda serta lokasi anda sudah teridentifikasi”.

Muhammad Said Didu: “Saya sdh lapor ke pimpinan tempat ybs bekerja. Saya kecewa ada orang BUMN seperti ini – sangat tidak beradab. Jika benar, maka saya akan kontak pimpinan Bank BUMN mencari yg ada di foto ini yg hari (10 Nov 2018) ini memaki Bpk saya dg nama binatang di Medsos dg akun @bakri_hazairin dan akan melaporkan kpd yg berwenang cc @BANKBRI_ID @bankmandiri @BankBTNcoid @BNI

semaumu‏ @abdhy_sejiwa: hajar dah pak .. dia bukan orang gak berpendidikan kok ..biar buat pelajaran dia .. dia pikir di sosmed bebas ngomong apa aja ke orang lain

joxiexp‏ @joxiexp: sbaiknya di laporkan ke polisi aja pak, karena sy kira diabukan org bodoh, yg harusnya bisa memilih kata yg baik, agar ada efek jera, bahwa segala sesuatunya meskipun di dumay, mesti dipertanggungjawabkan. agar dia mengerti bagaimana bertanggung jawab.

Menanggapi berbagai pendapat followernya, Pa Said Didu menyampaikan hasil kesepakatan Keluarga Besarnya: Sbg informasi bhw orang yg menghina Bpk saya lewat akun @bakri_hazairin, sdh koordinasi dg bank tempat ybs bekerja dan sdg ditindaklanjuti. Kesepakatan keluarga besar saya bersama saya juga sdh siapkan laporan ke polisi. Ini demi pembelajaran buat kita semua – tmsk

Ada pertnyaan yang menggelitik, biasanya akan ada penyangkalan. Misalnya dengan dalih akun dibajak atau di-hack. Bisakah alasan ini dibuktikan benar atau tidaknya?

Pakar IT Universitas Indonusa Esa Unggul, Dr.Munawar memberikan sarannya:

Agak susah untuk membuktikan klaim bahwa akun seseorang itu sudah dibajak atau tidak, kecuali adminnya sendiri, karena dia bisa audit trail dari log. Polisi bisa melakukannya karena dimungkinkan secara hukum untuk menyita sebuah akun yang diperkarakan.

Cara lain untuk menduga apakah di-hack atau tidak adalah perhatikan habit kesehariannya. Akan bisa dilihat apakah memang klaim hacked itu valid atau tidak. Kalau memang kesehariannya biasa mengumpat dengan kata-kata kasar terus kemudian klaim bahwa akunnya di hacked, ya… agak aneh. Namun kalau kesehariannya tidak biasa mengumpat, terus tiba-tiba muncul umpatan, ada kemungkinan memang dihacked.

Perkembangan terakhir dari akun @saididu (11/11/2018 sore) adalah:

“Terima kasih @BNI. Perkembangan kasus penghinaan orang tua saya oleh akun @bakri_huzairin : Hari Ini krywn @BNI yg katanya namanya “dicatut” sdh lapor ke polisi. Besok, phk @BNI akan melapor ke Reskrim polri krn “pencatutan” nama krywn BNI yg rugikan BNI. Saya juga akan lapor”

Jadi, biarlah proses hukum yang berjalan…

Semoga kita dapat mengambil pelajaran bahwa ujaran di dunia maya memiliki etika yang nyaris sama dengan di dunia nyata. Jangan kira kalau di dunia maya bisa sembunyi. Malah sebaliknya, begitu kita berinteraksi dengan dunia maya, tidak ada lagi tirai untuk sembunyi. Berkelit mungkin bisa, tapi hanya masalah waktu saja. Seperti pepatah, kamu bisa lari tapi tidak bisa sembunyi. Maka cara terbaik, berpeganglah pada etika atau adab bila berinteraksi di dua dunia ini.

Oya, bagaimana dengan kata “Asu” yang menjadi pemicu, dan dianggap sebagai ekspresi Kultur Egaliter?

Dalam KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), egaliter diartikan sama atau sederajat, ketika ada argumen bahwa kata “ASU” adalah biasa digunakan sebagai bentuk kultur/budaya egaliter, maka perhatikan baik-baik penggunaannya hanya pada area sangat terbatas, atau area yang homogen. Area dimana semua orang sudah sangat dekat dan saling kenal dalam waktu lama, sohib berat… Sepertinya jangan coba-coba digunakan di area yang heterogen, dech… sekedar saran. Wallahu A’lam

Abu Faris,
Praktisi Media sosial tinggal di Depok
https://www.linkedin.com/in/kus-kusnadi-42214635/