Krisis Air Landa Jawa Tengah

by
Relawan Rumah Zakat (RZ) mendistribusikan air bersih di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Foto: Dok. RZ.

Guna memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau ini, ratusan Kepala Keluarga masih mengandalkan bantuan air bersih dari luar.

Wartapilihan.com, Purbalingga — Rumah Zakat mendistribusikan 80.000 liter air bersih di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Pendistribusian tersebut dilakukan secara bertahap, penyaluran pertama dilakukan pada 30 Agustus 2018.

“Meskipun lokasi desa ini berada di kaki gunung, namun ketika musim kemarau tetap saja mengalami krisis air. Akibatnya, sekitar 1.000 warga dari jumlah 400 KK kesulitan mendapatkan air bersih,” ujar Fasilitator Rumah Zakat, Dwi Gandik Biworo.

Bagi warga yang mampu, krisis air tidak terlalu menjadi permasalahan yang serius karena mereka bisa membelinya. Namun, bagi warga yang kurang mampu mereka harus berjalan sekitar dua Km menuju sumber mata air terdekat.

Warga Desa Serang antusias mengantri dengan membawa jerigennya masing-masing. Lokasi tersebut merupakan salah satu jalur pendakian Gunung Slamet yang mempunyai ketinggian 3.428 Mdpl.

“Pendistribusian air bersih ini merupakan kolaborasi antara Rumah Zakat dengan Kitabisa.com. Semoga bantuan ini bisa membantu warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya,” kata Dwi.

Hal yang sama dirasakan masyarakat Prambanan, keberadaan organisasi pengelola dan pemakai air (OPPA) di Kecamatan Prambanan ternyata belum dapat menjangkau seluruh Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Prambanan, Sleman.

Bahkan, karena hal itu membuat ratusan KK di Kecamatan tersebut masih menggantungkan bantuan air bersih untuk kelangsungan hidupnya.

Camat Prambanan, Eko Suhargono mengatakan, bahwa belum terjangkaunya jaringan OPPA karena ada sekitar 300-350 KK yang bertempat tinggal di daerah tersebut antara lain Desa Gayamharjo, Wukirharjo, Sambirejo, dan Sumberharjo.

Di mana daerah tersebut notabenenya daerah perbukitan, dan karena itulah membuat ratusan KK di daerah tersebut masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya telah mengupayakan pembangunan jaringan air bersih ke sejumlah daerah tersebut agar masalah kekurangan air saat musim kemarau teratasi.

Menurutnya, untuk menjangkau daerah tersebut pihaknya membutuhkan bak resevoir dan pompa pendorong guna mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi.

“Tetapi untuk itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karenanya sampai sekarang memang masih membutuhkan (Dropping air bersih),” kata dia seperti dilansir Tribunjogja.com, Selasa (11/9).

Lebih lanjut, kebutuhan air bersih untuk ratusan KK yang belum terjangkau jaringan OPPA sekitar 25 tangki perpekannya. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau ini, ratusan KK tersebut masih mengandalkan bantuan air bersih dari luar.

Diakuinya, bahwa dari Badan Pengulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman masih melakukan droping air. Bahkan ada pula droping air yang dilakukan pihaknya beserta para donatur.

Akan tetapi, diakuinya pula jika jumlah air yang didistribusikan mobil tangki belum sesuai harapan karena terkendala kondisi jalan yang membuat truk tangki tidak bisa memuat air secara penuh saat melakukan dropping air kepada masyarakat.

“Yang jelas kami sangat membutuhkan droping air bersih dari BPBD (Sleman). Kalau sampai akhir bulan ini masih ada bantuan, masih akan kami terima,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto menjelaskan, bahwa pihaknya melakukan dropping air jika ada permintaan dari masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, saat ini sejumlah sumur milik kelompok masyarakat sudah berfungsi.

Di sisi lain, sejak awal musim kemarau pihaknya telah menyiapkan delapan tangki berisi air bersih untuk mendistribusikan air bersih ke beberapa desa yang ada di Kecamatan Prambanan.

“Jadi berkurangnya dropping air kemungkinan karena permintaan warga juga berkurang,” ujarnya.

Adi Prawira