Kurus Belum Tentu Sehat

by
Orang kurus bisa memiliki penyakit yang sama dengan obesitas jika tidak melakukan olahraga dan diet sehat. Foto: Lanang Indonesia.

Rupanya memperkirakan orang yang terlihat “sehat” lebih sulit daripada memperkirakan kesehatan orang yang terkena obesitas, padahal orang kurus belum tentu sehat.

Wartapilihan.com, Jakarta – Hal tersebut disampaikan Dominic Tran, peneliti kesehatan dan kesejahteraan dari University of Sydney. Dilansir dari theconversation.com, data terkait obesitas seringkali memperkirakan jumlah lemak dalam tubuh dengan menggunakan indeks massa tubuh (BMI), namun menuruti dia BMI tidak menunjukkan seberapa sehat seseorang.

Dengan menggunakan perhitungan berdasarkan gaya hidup, seperti pola diet dan frekuensi olahraga selama setahun terakhir, sebuah penelitian terkini dari Departemen Kesehatan Queensland memperkirakan 23% dari orang yang saat ini tidak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas berisiko mengalaminya di masa mendatang.

“Angka tersebut mengindikasikan bahwa persentase jumlah individu yang berat badannya dianggap tidak sehat tidak sama dengan jumlah individu dengan gaya hidup yang tidak sehat. Jumlah kelompok yang kedua kemungkinan lebih besar,” jelas Dominic, Selasa, (16/10/2018).

Hal yang ia tekankan, masih banyak orang yang berpikir bahwa jika mereka bisa tetap kurus meskipun makan-makanan tidak sehat dan tidak berolahraga, mereka akan tetap baik-baik saja.

“Meskipun terlihat sehat di luar, Anda bisa saja mengidap masalah kesehatan sama seperti orang yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas,” tuturnya.

Ketika mencoba menebak apa faktor-faktor yang menyebabkan penyakit jantung, stroke atau kanker, dia mengatakan, sering kali orang berpikir tentang beberapa indikator kesehatan seperti kebiasaan merokok, tingkat kolesterol dan berat badan.

“Namun pola diet yang buruk dan jarang berolahraga juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan berperan dalam berkembangnya sel-sel kanker. Jadi meskipun Anda tidak merokok dan tidak gemuk, selama Anda tidak berolahraga dan makan-makanan yang tidak sehat, risiko Anda terkena penyakit jantung meningkat,” tegas dia.

Penelitian dalam skala kecil telah dilakukan untuk membandingkan bagaimana pola diet dan frekuensi olahraga berpengaruh pada risiko terkena penyakit jantung pada orang gemuk dan orang kurus tapi tidak sehat. Namun, sebuah penelitian mengukur risiko seseorang yang menjalani gaya hidup yang berbeda setelah mengalami sindrom koroner akut–berkurangnya aliran darah ke jantung secara tiba-tiba.

“Penelitian ini menemukan bahwa orang yang menjalankan pola diet yang sehat dan berolahraga mengurangi risiko terkena komplikasi besar (seperti stroke dan kematian) enam bulan setelah mengalami serangan yang pertama kali dibandingkan mereka yang tidak menjalankan pola hidup yang sehat,” tukas Dominic.

Penelitian terkini juga menunjukkan, konsumsi berlebihan makanan dengan kadar lemak dan gula yang tinggi akan berpengaruh buruk pada otak, menyebabkan hilangnya memori dan kemampuan belajar.

“Beberapa penelitian telah menemukan bahwa obesitas menyebabkan kerusakan pada fungsi kognitif seseorang. Hal ini bisa diukur dengan beberapa tes memori dan pembelajaran, seperti kemampuan mengingat kata-kata yang disebutkan beberapa menit atau jam sebelumnya,”

Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan di Oxford University menunjukkan orang dewasa yang sehat dan menerapkan pola diet dengan kandungan lemak yang tinggi (75% dari asupan energi) selama lima hari mengalami penurunan daya ingat dan mood dibanding kelompok yang menerapkan pola diet dengan kandungan lemak rendah.

“Penelitian lain yang dilakukan oleh Macquarie University juga menemukan bahwa konsumsi makanan dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi setiap hari atau setidaknya empat hari akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan memori dan belajar seperti yang dialami oleh individu yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas,” terangnya.

Temuan-temuan ini menegaskan hasil penelitian terhadap tikus yang menunjukkan bahwa bentuk memori tertentu bisa rusak hanya karena konsumsi makanan yang mengandung gula dan makanan cepat saji manusia seperti kue dan biskuit.

Menurut Dominic, masyarakat masih tidak tahu banyak tentang mekanisme bagaimana makanan dengan kandungan gula dan lemak yang tinggi bisa merusak fungsi kognitif seseorang dalam tempo yang singkat. Satu bentuk mekanisme yang bisa menjelaskan terkait dengan kandungan gula darah dari pola diet yang memakan makanan dengan kandungan gula dan lemak yang tinggi. Fluktuasi pada kandungan gula darah dapat merusak metabolisme glukosa dan bagaimana insulin bisa memberi sinyal pada otak.

“Banyak orang menggunakan badannya yang kurus sebagai alasan untuk makan makanan tidak sehat dan tidak berolahraga. Namun, berat badan bukanlah indikator yang tepat untuk menentukan kesehatan tubuh.

Indikator yang lebih baik adalah pola makan Anda. Yang penting bagi kesehatan Anda adalah apa yang ada di tubuh Anda dan memang benar jika Anda adalah apa yang Anda makan,” pungkasnya.

 

Eveline Ramadhini