Media Sosial adalah ‘Anti Aging’ Menuju Perusahaan ‘Tetap Muda’

by

Kegelisahan terbesar perusahaan adalah saat Perusahaan merasa sudah pada tahap matang (maturity). Inilah teror dari grafik siklus hidup produk (Product lifecycle). Kelanjutan dari kematangan hanyalah penurunan atau decline yang membayang. Benarkah media sosial bisa menjadi anti penuaan Perusahaan, sehingga tetap muda?

Wartapilihan.com, Depok– Penulis pernah menemui 2 kondisi dari 2 perusahaan yang terhitung besar,  memperlakukan media sosial dengan cara yang sama. Paling tidak keduanya mengukur keberhasilan divisi media sosialnya hanya dengan: seberapa besar omset yang dihasilkan dari kegiatan media sosial yang dilakukan. Tidak  salah tapi sayang, karena bisa tidak optimal dalam memanfaatkan keunggulan media sosial.

Perusahaan pertama, sebut saja ‘A’, kepala divisinya berkeyakinan dan dengan percaya diri meng-klaim bahwa pencapaian omset perusahaan A sejalan dengan pencapaian performa aktifitas media sosial divisinya. “Lihatlah peningkatan ‘view’ di channel-channel media sosial kami, grafiknya seperti berhimpitan dengan kenaikan pencapaian omset Perusahaan kami”, celotehnya. Divisi media sosial yang dipimpinnya adalah ‘succes story’.

Perusahaan kedua, sebut saja perusahaan ‘L’ (kok ngga ‘B’? Biar gak mainstream ajah…hehe),  Kepala divisi media sosial-nya diminta mengurangi atau bahkan menghentikan sementara aktifitas-aktifitas media sosialnya oleh ‘BOD’-nya karena tingginya performa divisi media sosialnya dianggap tidak memberikan kontribusi langsung ke omset perusahaan. “Diminta dikurangi atau dihentikan saja, belum kelihatan hasilnya”, keluh Komandan Medsosnya.

Dua kondisi yang sama, yaitu bagusnya performa aktifitas media sosial di Perusahaan, dipersefsikan berbeda hanya karena kondisi omset Perusahaannya berbeda. Saat omset perusahaan A bagus, maka media sosial menjadi ‘kambing putih’ sebagai pendongkrak omset. Sementara situasi berbeda di Perusahaan L, media sosial menjadi ‘kambing hitam’.

Bagaimana kita melihat situasi ini? Bukankah hanya masalah waktu, Divisi medsos Perusahaan A akan mengalami nasib yang sama seperti di Perusahaan L, bila omset perusahaan A ‘stagnan’ atau ‘decline’?

Mari kita lihat klaim sukses Divisi medsos Perusahaan A.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah, apakah ada aktifitas lain yang dapat disebut menghasilkan omset? Ternyata di Perusahaan ini ada beberapa divisi yang jelas-jelas diberi target omset. Semacam divisi Sales. Mereka melakukan berbagai aktifitas yang diukur setiap hari, setiap minggu sebagai pencapaian omset. Ada yang khusus B2B, B2C, C2C atau variasi gabungannya. Mereka sangat sibuk dengan aktifitas-aktifitas lapangan yang terukur sebagai target omset.

Dalam situasi ini, tentu menjadi kurang adil bila divisi medsos hanya mengukur dirinya dari omset yang dicapai perusahaan. Sebagai bagaian dari Perusahaan A, sudah pasti divisi medsos memiliki andil. Hanya saja, ukuran-ukuran apa yang tepat untuk mengetahui seberapa besar sumbangan divisi medsos? Inilah yang harus dibuat secara tepat. Memang ‘enak’ saat Perusahaan bertumbuh. Tapi bila situasi sebaliknya? Divisi medsos akan mudah dijadikan kambing hitam karena tidak menggunakan ukuran-ukuran yg ‘genuine’ divisi medsos. Selain itu, akan sulit bagi management perusahaan untuk menempatkan divisi medsos dalam strategi pengembangan perusahaan.

Bagaimana dengan divisi medsos di Perusahaan L?

Nasib sebaliknya sedang dialami disini. Performa bagus divisi ini, dianggap ‘tidak penting’. Ada atau tidak ada aktifitas medsos, omset perusahaan segitu-gitu saja, demikian kira-kira persepsi internal perusahaan. Jadi, buat apa buang-buang budget hanya untuk sesuatu yang sia-sia.

Divisi medsos di Perusahaan L pada prinsipnya menerapkan cara mengukur dirinya sama persis dengan divisi medsos perusahaan A. Yaitu Omset. Karena situasi di Perusahaan L yang mungkin sedang ‘stagnan’, maka persefsi ‘medsos gak ngaruh’ tidak bisa dibantah. Ternyata dari persefsi ini berlanjut ke pengambilan keputusan cukup serius: hentikan saja aktifitas medsosnya! Medsos tidak menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk bertumbuh dan berkembang.

Bagaimana sebaiknya?

Mari kita simak penuturan Angelo Zammit, praktisi medsos & pemilik East Coast Loyalty, yang terkenal menulis jurnal di channel Linkdn:  “Medsos untuk Pemasaran, Bukan untuk Penjualan”.

Angelo berkeyakinan 99% pemilik usaha masih tidak memiliki pemahaman apa tujuan atau maksud sebenarnya dari pemasaran melalui media sosial. “Kita harus sadar, saat kita menggunakan medsos untuk bisnis,  maka  bukan untuk  menghasilkan uang secara cepat. Membangun eksistensi merek kita  yang kuat diantara ribuan merek lain membutuhkan waktu dan kesabaran. Disamping dibutuhkan juga pengetahuan dan pengalaman”, demikian Angelo.

Kita semua ingin hasil instan tetapi jika tujuan kita hanyalah itu, maka ambillah kursi belakang, bergabung bersama jutaan pemilik bisnis yang berkayikana sama. Angelo yakin, 99% dari tipe pebisnis seperti ini, akan menyerah pada pemasaran melalui media sosial. Menyerah karena tidak mendapatkan hasil instan dan kurang paham tentang pentingnya medsos untuk bisnis. Tapi Angelo perpesan, jika kita bertahan selama 6 bulan hingga satu tahun menggunakan medsos untuk pemasaran dengan benar, maka kita akan melihat hasil di luar imajinasi kita.

Mengapa demikian? Karena ada perbedaan signifikan antara Pemasaran dan Penjualan. Sementara penjualan bersifat sementara dan jangka pendek, pemasaran tidak demikian. Pemasaran dapat menjadi sangat menyenangkan dan ada banyak pilihan ketika menekuni pemasaran. Tapi memang harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa saja yang bisa kita lakukan dan apakah kita bersedia mengambil resiko yang timbul dengan pilihan ini? Media sosial adalah cara yang efektif dari sisi biaya dan titik awal yang bagus untuk bisnis baru ataupun bisnis lama. Cobalah untuk memahami bahwa media sosial tidak dimaksudkan sebagai alat penjualan, melainkan cara untuk membangun merek, pondasi, dan kepercayaan yang kuat dari orang-orang yang dapat kita pengaruhi untuk menjadi konsumen setia.

Media sosial yang dikelola secara benar, akan memberikan situasi dan kondisi untuk bertumbuhnya Perusahaan dengan kontribusi biaya yang semakin menurun. Seperti pupuk alami yang terus menyuburkan tanah sehingga pohon terus berbuah.

Kembali ke situasi di Perusahaan A dan L tadi, ada yang menarik bila dianalisa data-data performa media sosialnya. Ambil salah satunya adalah channel official fanpage di Facebook. Kedua perusahaan memiliki jumlah ‘jempoler’ yang besar. Hitungan puluhan ribu hingga jutaan. Akan tetapi bila dilihat data engagement atau keterlibatan para jempoler dalam setiap aktifitas yang diposting, sangat minim. Rata-ratanya di kisaran 1 digit, baru 1-3 persen saja.

Seperti diketahui, pada umumnya tingkat engagement yang tinggi menunjukkan percakapan atau interaksi yang tinggi. Dengan tingkat engagement yang tinggi maka lazimnya akan berdampak ke pembentukan ‘loyal customer’ atau pelanggan setia. Pelanggan setia adalah aset perusahaan yang sebenarnya. Nyaris tanpa promosi atau bahkan tanpa inovasi pun, diyakini produk perusahaan akan dilahap habis.

Bagaimana meningkatkan angka engagement ini? Tetaplah ‘nyambung’ dan kekinian tanpa terlihat ‘maksa’ atau tampillah se-alamiah mungkin dan tidak berlebihan (lebay). Cobalah untuk mengedukasi calon konsumen dengan cara yang menyenangkan tanpa terlihat murahan. Ini menuntut kesabaran karena bisa saja orang-orang akan meninggalkan saluran medsos  kita dalam hitungan detik jika mereka merasa mereka sedang dikerjai atau ditipu karena terburu-buru diarahkan untuk membeli  produk kita. Kita harus menemukan cara untuk terlibat (engage) dengan target pasar kita.  Apakah dalam bentuk  polling, game interaktif, menjawab pertanyaan dari mereka secepatnya dan selengkap-lengkapnya,  dll.  Kita tidak selalu perlu mempromosikan sesuatu yang berhubungan dengan bisnis  untuk mendapatkan perhatian atau hasil yang kita inginkan.

Angka jempoler yang banyak, baru awal atau disebut juga tahap akuisisi. Tahap selanjutnya adalah melibatkan hasil akuisisi untuk berinteraksi supaya memahami dan menyenangi ‘value’ perusahaan. Tahap akhir adalah terbentuknya konsumen setia. Selanjutnya, konsumen setia akan menjadi aset perusahaan. Dapat dilibatkan dalam mengembangkan perusahaan, seperti ide-ide produk baru, strategi baru, kegiatan baru. Pokoknya konsumen setia adalah penjaga kelangsungan perusahaan. Inilah mimpi semua perusahaan supaya menjadi ‘sustainable company’. Tidak ada lagi kehawatiran teror grafik lifecycle (Intro-growth-maturity-decline). Perusahaan selalu di level growth karena dipupuk dan dipelihara para konsumen setianya. Dan, media sosial adalah ‘penghubung’ antara konsumen setia dengan perusahaan.

Karena itu fokuslah pada kombinasi ideal akusisi-engagement, setidaknya pada tingkat engagement 10%. Lebih besar, lebih bagus. Ciptakan ‘bounding-bounding’ baru dengan pelanggan. Media sosial dengan dukungan perkembangan teknologi saat ini, menjanjikan banyak ide-ide baru. Wallahu A’lam.

Abu Faris

  • Praktisi media sosial, tinggal di Depok, www.linkedin.com/in/kus-kusnadi
  • Peraih President Award for Social Media Strategic from Tupperware Asia Pacific, 2010
  • Bersama Tim Digital Marketing PT Tupperware Indonesia meraih berbagai penghargaan website & social media strategy dari MarkPlus, Frontier, Survey One era 2010-2012