Membangun Sumur Wakaf

by
Foto: istimewa.

Sejak bulan Mei 2018 warga dusun Rejosari telah kehabisan air. Sumur di pekarangan rumah-rumah mereka telah mengering, sehingga warga untuk kebutuhan air bersih mengambil dari dusun sebelah yang jaraknya 1-1,5 km, atau terpaksa membeli dari air bersih dari truk tangka swasta.

Wartapilihan.com, Yogyakarta – Hari itu menjadi hari yang membahagiakan bagi warga Dusun Rejosari, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, pasalnya sumur bor yang dibangun oleh Global Wakaf-ACT DIY di dusun mereka telah selesai dan diserah terimakan.

Pembangunan sumur wakaf kali ini merupakan, sumur ke-15 yang mulai pengeborannya sejak awal november lalu dengan kedalaman 65 meter.

Acara serah terima yang dilakukan di Mushola Al Hidayah ini berlangsung syahdu, diawali dengan pengajian bersama Ust. Puji Hartono yang digelar pihak takmir bekerja sama dengan Pesantren Masyarakat Jogja.

Sigit Purnomo selaku tokoh masyarakat di Dusun Rejosari menyampaikan, di dusun Rejosari sendiri sebelumnya sudah ada 2 sumur bor yang coba di bangun untuk mengatasi kekeringan warga, hanya saja kedua sumur tersebut tidak memiliki sumber mata air yang bagus sehingga hanya cukup untuk dimanfaatkan sekitar 4-5 Kepala Keluarga saja.

“Alhamdulillah debit air dari sumur yang dibangun Global Wakaf-ACT DIY ini sangat melimpah, diujicobakan untuk masyarakat selama lebih darj 6 jam masih bagus padahal di dusun ini cukup susah sumber mata airnya” tambahnya.

Kharis Pradana sebagai penanggung jawab pembangunan Sumur Wakaf di Dusun Rejosari menyampaikan, program pembangunan Sumur Wakaf ini akan menjadi solusi jangka panjang permasalahan kekeringan di Gunungkidul. “Alhamdulillah sekarang sudah ada 15 Sumur Wakaf yang di bangun, dan Gedangsari adalah sumur wakaf ke 13 dibangun di Kabupaten Gunungkidul.” Tandasnya

“Walaupun disebagian tempat sudah turun hujan, tapi global wakaf ACT akan terus membangun sumur wakaf agar masyarakat sudah tidak kekurangan air bersih ketika terjadi kemarau,” tutupnya.

Terinspirasi dari Utsman bin Affan

Sudah lebih 1.400 tahun berlalu, namun keberkahan sumur yang diwakafkan oleh Utsman bin Affan masih dimanfaatkan oleh masyarakat Madinah hingga saat ini. Bahkan, hasil pengelolaan sumur itu terus dapat dirasakan oleh fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan hingga saat ini. Tak hanya itu, satu sumur tersebut sudah melahirkan rekening dan pembangunan hotel atas nama Utsman Bin Affan. Bagaimana bisa?

Semua bermula ketika Madinah dilanda oleh kekeringan yang panjang. Sumur-sumur tak lagi menampung air bersih. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi yaitu Sumur Raumah. Untuk memenuhi kebutuhan air, umat Islam Madinah berduyun-duyun mengantri membeli air dari sumur tersebut. Melihat kondisi umat yang memprihatinkan itu, Rasulullah bersabda:

“Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Utsman bin Affan langsung menyambut seruan Nabi dengan mendatangi Yahudi pemilik sumur. Ia menawar sumur tersebut dengan harga yang tinggi, namun Yahudi menolak tawaran tersebut. Setelah negosiasi, akhirnya si Yahudi menerima tawaran Utsman dengan kepemilikan sumur secara bergiliran. Sehari milik Utsman dan keseokannya menjadi milik Yahudi, demikianlah kepemilikan berganti setiap harinya.

Setelah akad dilakukan, Utsman segera mengumumkan kepada penduduk Madinah bahwa sumur Raumah dapat dikonsumsi secara gratis. Masyarakat Madinah pun berbondong-bondong menikmati air bersih tersebut dan menyimpan air untuk kebutuhan esok harinya. Hal ini menyebabkan keesokan harinya sumur Yahudi sepi pembeli karena masyarakat masih memilki kesediaan air. Akhirnya, si Yahudi menjual penuh kepemilikan sumur tersebut kepada Utsman seharga 20.000 dirham.

Sejak saat itu, Utsman mewakafkan sumur Raumah untuk kebutuhan kaum muslimin, terutama masyarakat Madinah. Sumur tersebut kemudian berkembang menjadi sumber mata air di lahan sekitarnya hingga ditanam kebun kurma dan terus bertambah. Kebun tersebut dikelola dari generasi ke generasi, dari para khalifah sampai pemerintah Arab Saudi dibawah Kementerian Pertanian.

Hasil dari kebun kurma tersebut oleh pemerintah Arab Saudi dijual ke pasar-pasar. Setengah keuntungan disalurkan kepada anak yatim dan yang membutuhkan. Setengahnya lagi disimpan dalam bentuk rekening di bank atas nama Utsman bin Affan yang dipegang oleh Kementerian Wakaf. Uang rekening Utsman yang terus membengkak kemudian digunakan untuk membangun hotel bintang lima dengan nama Hotel Utsman Bin Affan.

Hotel tersebut dikelola oleh Sheraton dan salah satu hotel bertaraf internasional dengan 15 lantai dan 24 kamar disetiap lantainya. Hotel Utsman dilengkapi dengan restoran besar dan tempat belanja serta dekat dengan Masjid Utsman bin Affan yang juga masih aktif digunakan. Dengan pengelolaan profesional diperkirankan keuntungan besar akan diperoleh dari hotel tersebut.

Nasrudin yang merupakan aktivis ACT mengungkapkan, cerita dari sumur wakaf Utsman yang produktif dan bertahan lebih dari 1.400 tahun berubah menjadi cerita inspiratif bagi lembaga-lembaga wakaf saat ini, termasuk salah satunya Global Wakaf.

“Berbekal semangat memproduktifkan aset-aset wakaf untuk kepentingan umat, melalui program Sumur Wakaf, Global Wakaf bergerak membangun sumur-sumur wakaf di seluruh Indonesia,” tutur dia, Rabu, (28/11/2018).

Hasilnya, saat ini program Sumur Wakaf dari Global Wakaf telah menjangkau 19 provinsi dengan total 168 desa di 80 Kabupaten/Kota. Sekitar 190-an Sumur Wakaf dibangun mengaliri kebaikan bagi sekitar 270.000-an penerima manfaat.

“Insya Allah ikhtiar akan terus dilakukan Global Wakaf dalam memproduktifkan Sumur Wakaf sebagaimana halnya Sumur Wakaf Utsman. Dengan pengelolaan yang profesional, Sumur Wakaf akan mengalirkan manfaat yang tak kan terputus,” tukasnya.

Ia pun mengutip sebuah hadits, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).

 

Eveline Ramadhini