Memberdayakan Buruh Migran

by
Sahabat Kita Foundation. Foto: Zuhdi.

Selain bidang sosial, Sahabat Kita Foundation turut berkontribusi dalam pembinaan dan pengembangan dakwah di Korea Selatan untuk para Buruh Migran Indonesia.

Wartapilihan.com, Jakarta – Diperkirakan jumlah buruh migran Indonesia yang berada di luar negeri sebesar 4,3 juta orang. Sebagian besar di antara mereka adalah perempuan (sekitar 70%) dan bekerja di sektor domestik (sebagai Pembantu Rumah Tangga) dan manufaktur. Dari sisi usia, sebagian besar mereka berada pada usia produktif (di atas 18 tahun sampai 35 tahun).

Deputi Menko PMK Bidang Koordinasi dan Perlindungan Perempuan, Sujatmiko mengemukakan bahwa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengalami berbagai masalah di luar negeri mencapai 1,8 juta orang dan masalah yang dihadapi mereka sangat beragam, ada yang kena masalah hukum, over stay dan permasalahan lainnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat Korea Selatan menjadi negara favorit calon Tenaga Kerja Indonesia yang menginginkan bekerja di luar negeri, hal ini karena gajinya yang tinggi. Negara tujuan berikutnya adalah Hongkong lalu Taiwan.

Saat ini, jumlah TKI di Korea Selatan kurang lebih 75 ribu orang. Mayoritas, para TKI bekerja di sektor manufaktur, pertanian, peternakan dan perikanan. Di Korea terdapat lebih kurang 40 paguyuban dari berbagai asal daerah TKI di Indonesia. Namun, belum ada suatu organisasi legal yang menaungi para TKI di Korea Selatan.

Komunitas Sahabat Kita Foundation berusaha menyatukan semua paguyuban yang ada, namun masih sebatas kegiatan komunitas TKI yang belum terorganisasi dengan matang. Maka dari itu, saat ini sedang dirintis untuk pendirian organisasi legal di Korea Selatan yang akan diawali dengan Korea Dream Concert. Rencananya, pada 29 Juli 2018 mendatang sejumlah pegiat sosial dari beberapa NGO di Indonesia akan melaunching lembaga Sahabat Kita Foundation di Ansan, Korea Selatan.

Pendiri Sahabat Kita Foundation Mohamad Ansori mengatakan organisasi ini bukan hanya akan bekerja di Korea Selatan saja, tapi juga akan memiliki kantor di Indonesia. Hal ini sesuai dengan tujuan didirikannya lembaga ini yaitu bertujuan untuk memberi pendampingan, pelatihan, seminar, dan jaringan serta advokasi. Dengan demikian, TKI dapat berjaya di negeri orang dan berdaya di negeri sendiri ketika kembali ke Indonesia nantinya.

“Jadi, bukan hanya ketika mereka sedang menjadi TKI di Korea Selatan, namun setelah mereka kembali ke Indonesia pun mereka masih mendapatkan pelatihan dan pendampingan. Adapun pelatihan yang di berikan di antaranya pelatihan wirausaha, pelatihan komunikasi dan pemasaran, pendampingan usaha dan jaringan pemasaran,” kata Ansori kepada Wartapilihan.com di Jakarta, Ahad (15/4).

Selain bidang sosial, Sahabat Kita Foundation turut berkontribusi dalam pembinaan dan pengembangan dakwah di Korea Selatan. Salah satunya bekerjasama dengan Corps Da’i Dompet Dhuafa (Cordova), yaitu mendistribusikan para da’i untuk membina Buruh Migran Indonesia dan lintas paguyuban dari berbagai daerah.

“Kita khususkan (pembinaan dakwah) untuk paguyuban dulu karena biasanya masjid dan mushola sudah punya program sendiri. Selain itu, kita support mereka dalam kegiatan-kegiatan pelatihan. Dalam waktu dekat, kami akan menyelenggarakan tarhib ramadhan dan program charity berupa bingkisan untuk anak-anak yatim,” tuturnya.

Tak hanya TKI legal, ungkap Ansori, Sahabat Kita Foundation turut melakukan advokasi bagi TKI bermasalah, baik karena over stay atau bermasalah dalam pekerjaannya, sakit atau mengalami kecelakaan kerja. Ia berharap dengan adanya organisasi yang legal ini dapat lebih terorganisasi dalam memberi bantuan terbaik bagi pahlawan devisa di Korea Selatan.

“Sahabat Kita Foundation mengajak dan membuka kerja sama yang seluas-luasnya baik dengan pemerintah Korea Selatan dan Indonesia, berbagai komunitas, NGO, dan begitu pula dengan berbagai perusahaan di Korea Selatan dan di Indonesia dan siapapun yang peduli dan mau menjadi bagian dari gerakan ini agar dapat bersama memberi solusi dan manfaat bagi TKI dan ex-TKI khususnya dari Korea Selatan untuk hidup yang lebih baik,” tandasnya.

Perkembangan Islam di Korea

Menurut sejarahnya, “Negeri Ginseng” ini telah mengenal Islam sejak abad ke-7 melalui pedagang Muslim telah melintasi Asia Timur sejak Dinasti Tang. Namun, versi lain dan dapat dikonfirmasi kebenarannya dalam kerja geografis non-Asia Timur muncul dalam General Survey of Roads and Kingdoms oleh Ibnu Khurdadbih Islam masuk pada pertengahan abad ke-9.

Kehadiran pertama Islam itu berlangsung selama periode Silla Bersatu dengan kedatangan pedagang dan navigator Persia dan Arab. Beberapa catatan menunjukkan bahwa mereka menetap secara permanen di Korea, mendirikan desa-desa Muslim, kebanyakan mereka berasal dari dari Irak. Catatan lain menunjukkan bahwa sejumlah besar dari Syiah faksi Alawi menetap di Korea. Selanjutnya yang menunjukkan adanya masyarakat Muslim Timur Tengah di Silla adalah patung-patung wali kerajaan dengan karakteristik khas Persia. Pada gilirannya, umat Islam banyak kemudian menikah dengan wanita Korea.

Kebangkitan Islam di Korea seiring terjadinya Perang Korea (Juni 1950- Juli 1953). Ketika kedaan negeri Korea yang luluh lantah dan suasana sengsara, Islam hadir laksana oase yang memberikan kesejukan dan keikhlasan untuk berserah diri kepada Tuhan, seperti lilin kecil di tengah gulita. Ketika pecah perang tersebut, Turki mengirimkan sekitar 15 ribu tentara untuk bergabung dalam pasukan multinasional yang dikomandoi PBB. Tentara Turki yang beragama Islam tersebut menjadi perintis perkembangan Islam di Korea Selatan. Merka terlibat aktif dalam kegiatan kemanusiaan, membantu korban perang, membantu mengurus sekolah-sekolah, dan sekaligus mengajarkan Islam kepada masyarakat. Maka, mulailah satu per satu warga Korea menyambut dakwah tersebut.

Setelah peristiwa itu dalam waktu tidak lama, populasi Muslim di Korea Selatan bertambah, menyusul dibentuknya Persatuan Orang Islam Korea Selatan pada 1955. Masjid pertama di Korea Selatan juga mulai dibangun yaitu masjid Sentral Seoul yang berdiri di distrik Itaewon. Selain menjadi tempat ibadah, tempat bertemu, dan silaturahim, masjid ini juga menjadi pusat informasi bagi masyarakat Korea yang ingin mempelajari Islam. Masjid tersebut menyediakan bahan bacaan dan rekaman ceramah yang diberikan gratis kepada siapa saja yang berminat.

Dewasa ini perkembangan Islam di Korea Selatan cukup baik, buktinya adalah banyaknya masjid berdiri di kota-kota besar Korea, seperti di Gwangju, Busan, dan Daegu. Selain itu juga fasilitas sekolah-sekolah Islam juga mulai didirikan. Mereka juga mulai aktif melaksanakan kegiatan melalui organisasi Muslim Korea yang mereka dirikan.

Ahmad Zuhdi