Mengapa Pesantren Model Lembaga Pendidikan Terbaik?

by
foto:istimewa

Oleh : Dr Adian Husaini

Pada Klinik Pendidikan Keluarga (Klipik) kali ini, Dr Adian menjelaskan tentang peranan kyai dan kurikulum utama pesantren. Silakan simak penuturannya :

Wartapilihan.com – Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Teman-teman di program Klipik hari ini spesial, saya sedang berada di Brastagi menuju Kota Medan. Kami di perjalanan ini bersama orang-orang hebat. Ada Ustadz Solihin Direktur Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah Pesantren Raudhatul Hasanah sebuah pesantren yang besar dan terkenal di Medan. Ada Ustadz Charles Ginting lulusan UIA (Universitas Islam Antarbangsa Malaysia) jurusan komunikasi alumni Raudahatul Hasanah juga, sekarang menjadi Wakil Direktur Muallimin. Ada Ustadz Miftahudin alumni Gontor 91, ada Ustadz Habibi alumni Raudhah.

Kami sedang berbincang masalah perguruan tinggi dan pesantren. Tadi malam juga membahas masalah umat dan pondok. Berbicara tentang pesantren, pesantren Raudhah Hasanah ini berdiri pada tahun 1983 termasuk pesantren yang tidak terlalu tua, memiliki santri sekitar 3000 lebih dan sekarang ada perguruan tingginya.

Ini salah satu contoh, alhamdulillah kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sudah baik. Ini wakaf semua, dulu malah perjuangannya dari 4000 meter pada tahun 1983 sampai sekarang sudah ada 11 hektar berada di Kota Medan yang mayoritas penduduknya adalah non-Muslim.

Dulu tahun 2007, sudah 10 tahun saya tidak ke Pesantren Raudah Hasanah. Saya pernah menyinggung ada bedanya pesantren dan Boarding School dengan sekolah biasa. Setelah meneliti model pendidikan dari zaman Rasulullah dan ulama, saya berkesimpulan bahwa pesantren sesungguhnya bukan asli berasal dari Indonesia. Sistem pendidikan pesantren ini asli dari zaman Rasulullah. Saat itu kita mengenal ashabu suffah adalah sahabat-sahabat nabi yang jumlahnya ratusan dan ditampung di Masjid Nabawi dan langsung dididik oleh Rasulullah SAW.

Mereka secara langsung melihat keseharian Rasulullah, sering memberikan makanan pada mereka dan Rasulullah adalah teladan. Sistem ashabu suffah adalah prototype dari pesantren. Hal yang penting dari sistem ini adalah keteladanan dari kyai jika di pesantren. Di pesantren tidak hanya ada kyai tapi harus ada kyai yang patut dicontoh ibadah, ilmu dan akhlaknya serta lebih baik lagi jika bisa dicontoh keluarganya. Pesantren itu utamanya adalah penanaman nilai dan adab atau akhlak. Orang sekarang menyebut adab sebagai karakter, intinya bukan pengajaran namun penanaman nilai. Faktor paling penting dalam penanaman nilai adalah keteladanan.
Rasulullah langsung mencontohkan keteladanan, misalnya mencontohkan pentingnya bersedekah, beliau sendiri yang melakukannya sehabis shalat Rasulullah ingat ada benda yang belum dishadaqahkan beliau kembali ke rumah mencontohkan itu. Jadi, keteladanan kyai itu penting di suatu pesantren. Jadi kyai bukan hanya bertindak sebagai manajer.

Saya pernah menginap di asrama Oxford (Inggris) tepat di depan kamar saya ada ruang seorang profesor dan ada mahasiswa dari Indonesia yang kuliah disana dan dia mengatakan bahwa sistem ini seperti pesantren, profesor dan mahasiswa hidup bersama. Saya katakan ini berbeda, karena anda tidak tahu apa yang dilakukan oleh Profesor anda, anda hanya bertemu Professor di laboratorium dan tidak tahu kesehariannya. Nah, itu bedanya dengan pesantren, santri mengenal kehidupan kyainya sampai kesehariannya. Saya dulu di pesantren sampai tahu pagi hari kyai kasih makan ayam dan mencontohnya.

Yang kedua, di pesantren harus ada tafaqquh fid diin atau pendalaman terhadap agama. Yang ketiga penanaman tentang dakwah, karena santri disiapkan jadi orang baik dan membawa perubahan di tengah masyarakat dan menjadi agent of change dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan rahmatan lil a’lamiin di tengah masyarakat. Yang keempat, harus ada persiapan kemandirian untuk terjun ke masyarakat. Yang kelima, harus ada pemahaman terhadap pemikiran kontemporer karena nanti mereka akan keluar dan berinteraksi dengan masyarakat dan dunia global, apalagi di era internet sekarang harus dibekali ilmu akan tantangan pemikiran itu dan cara menjawabnya. Bagaimana mereka mampu menyelamatkan aqidah dan akhlaknya agar tidak terpengaruh di dunia modern sekarang. Ada juga yang menambahkan nilai-nilai pesantren yang diperlukan yaitu nilai kesederhanaan. II