Mengenal 9 Bagian Otak Anak

by
Perkembangan otak anak. Foto: Neuronesia/Facebook.

Otak adalah alam semesta yang beratnya kurang lebih 1,5 kg. Bila dijabarkan seluas setengah lapangan bola. Di dalam otak berisikan sekitar 100 milyar neuron yang saling behubungan (synapses) dan 900 milyar sel glia sebagai sel-sel pendukung. Maka dari itu, orangtua penting untuk mengetahui perkembangan otak anak.

Wartapilihan.com, Jakarta — Menurut Bambang Iman Santoso selaku Co-Founder Neuronesia Community mengatakan, pada dasarnya pengasuhan adalah proses stimulasi otak anak yang sesuai dengan perkembangannya. Mulai dari bayi dalam kandungan, bayi yang lahir, batita (bawah tiga tahun), balita (bawah lima tahun), pra-remaja, remaja, dan terakhir dewasa remaja.

Di dalam otak terdapat setiap neuron atau sel otak terdiri dari satu badan sel (soma) dengan banyak tangan (dendrite) dan kaki-kaki (axon), yang saling berhubungan dengan neuron-neuron lainnya.

“Kaki suatu neuron berhubungan dengan tangan neuron lainnya. Neuron dapat bertumbuh dan berkembang (neuroplasticity). Karenanya otak manusia sangat plastis, dapat berubah-ubah sepanjang usia,” kata Bambang, di Jakarta, Sabtu, (20/10/2018).

Koneksi-koneksi sinaps antar neuron ini, kata dia, dapat mewakili kebiasaan-kebiasaan baru, merubah dan membentuk “pathway-pathway” baru yang dipergunakan hingga merubah kecenderungan bentuk “connectome” karakter sifat seseorang dalam berpikir dan berperilaku.

Ditambahkan oleh Dokter Amir Zuhdi, ada sembilan bagian otak yang perlu diperhatikan dalam pengasuhan sesuai dengan urutan perkembangan organ-organ otak tersebut, yaitu: 1) bagian sensorik motorik, 2) amygdala sebagai pusat emosi, 3) cerebellum untuk keseimbangan, 4) broca & wernicke area terkait dengan kemampuan berbahasa, 5) lobus parietal dan MN (mirror neuron) bersosialisai, 6) basal ganglia rutinitas, 7) hypothalamus pengatur hormon, 8 ) hippocampus pusat ingatan utama, dan 9) PFC atau pre-frontal cortex otak eksekutif.

“Fungsi masukan informasi lima indra yang sering dikenal dengan sebutan “Panca Indra” menjadi perhatian utama dalam tumbuh kembang anak.

Indra pedengaran, indra penglihatan, indra penciuman, indra perasa, dan indra peraba. Kelima fungsi ini berhubungan langsung dengan neuron otak “sensorik” (primary somatic sensory cortex) dan “motorik” yang ada di bagian atas “neo cortex” (lobus parietalis),” kata Dokter Amir.

“Amygdala” merupakan bagian dari sistem limbik yang terlibat dalam mengatur kehiupan emosi anak. Berbentuk seperti buah Almond. Berada di dalam lobus temporal medial belahan kanan dan kiri. Bagian ini bertanggung jawab atas berbagai aspek mengamati, belajar dan mengatur emosi (semua jenis emosi).

“Amygdala juga berperan penting dalam berinteraksi sosial khususnya behubungan dengan rasa empati (stimuli-reinforcement). Ketika bayi, amygdala relatif sudah terbentuk sempurna, telah mampu menyimpan rangsangan emosional dengan sangat baik. Perlu diperhatikan sedini mungkin agar nanti di usia dewasa mempunyai kecakapan mengendalikan emosi yang baik,” terangnya.

“Cerebellum” atau otak kecil terletak di bagian belakang otak. Melekat pada medulla, pons dan mesensefalon. Bagian ini berfungsi dengan kemampuan mengontrol pemeliharaan kesimbangan postur tubuh dan tonus otot, serta mengatur gerakan yang bekerja di bawah kesadaran.

“Memiliki serat syaraf (koneksi neuron) yang menghubungkan sistem limbik, basal ganglia dan kortex serebri. Cerebellum membantu proses kecerdasan kognisi dan emosi dengan cara mengasah kinestetik,”

Sedangkan bagian otak bernama “Broca & Wernicke area” adalah bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan berbicara. Area wenicke yang terletak di samping kepala (lobus temporalis) berkembang lebih dulu daripada area broca yang terletak di depan (lobus frontalis).

“Kata-kata yang didengar dan yang dilihat dapat dipahami di area wernicke ini. Kemudian dipilih artikulasinya. Merupakan area otak yang menjadi gerbang pertama untuk memahami rangsangan verbal seperti yang didengar dan dilihat.

Sedangkan area broca berperan dalam memproses pembentukan kata-kata dan pembentukan makna kata. Sehingga proses belajar berbahasa pada anak melibatkan kedua area ini (broca dan wernicke),” imbuh Dokter Amir.

Kemudian, “Parietal lobe” atau korteks parietalis adalah bagian kulit otak yang terletak di posisi atas, kanan dan kiri. Bagian otak ini berfungsi mengatur kegiatan yang berkaitan dengan pemetaan ruang, tempat dan mental imaging. Korteks parietalis berkembang pada bayi lebih dulu dibanding korteks serebri.

“Mainan anak-anak dalam bentuk puzzle, rangkaian bangunan dan rumah-rumahan serta sejenisnya sangat bagus merangsang bagian otak ini. Mengunjungi tempat-tempat rekreasi juga akan membantu merangsang bagian otak ini.

Sistem cermin neuron yang terkait erat dengan lobus parietalis tadi, karena memainkan peran kunci dalam kemampuan kita untuk berempati, bersosialisasi dan bagaimana cara mengkomunikasikan emosi kita,”

Selanjutnya pertumbuhan bagian otak yang perlu diperhatikan adalah basal ganglia. “Basal ganglia” berfungsi menyimpan rutinitas, pikiran dan perilaku pengulangan, serta membentuk kebiasaan. Basal ganglia membuat peta kebiasaan melalui pekerjaan (respon) otomatis melalui perkerjaan rutin yang berulang-ulang. Terlibat dalam proses pembangunan umpan balik yang konstruktif.

“Nucleus accumben” juga merupakan pusat kesenangan terletak di kepala depan basal ganglia berfungsi membangun sistem penghargaan (reward system), dan bersama hippocampus membangun arti penting melalui visualisasi yang menyenangkan.

“Kemudian bagian tak kalah penting, yaitu: “hypothalamus” yang mengatur kegiatan seksual (terutama 7 s/d 9 tahun), meningkatkan produksi hormon seksual, dan juga mengatur temperatur otak dan tubuh,”

Selain itu, hypothalamus mengatur sistem hormon, rasa lapar dan haus. Seperti diketahui, HPA axis (hypothalamus – anterior pituitary – adrenal cortex) sangat berkaitan dengan kebiasaan stres kronis yang menimbulkan penyakit dan melemahkan sistem tubuh anak.

“Hal ini terjadi karena adanya umpan balik negatif (negative feedback) yang terus menerus menghasilkan neurotransmitter kortisol,”

Selanjutnya, “Hippocampus” yaitu pusat memori yang berada di lobus temporal medial otak. Berbentuk seperti kuda laut. Berasal dari kata Yunani yang berarti kuda laut raksasa. Merupakan bagian dari sistem limbik yang memiliki peran dalam konsolidasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Bagian otak ini memiliki 3 fungsi utama: inhibition, memory, dan navigator. Hippocampus memiliki reseptor glukokortikoid (cortisol) sehingga rentan dengan stress. Stres kronis (chronicle stress) tadi menyebabkan pengecilan volume hippocampus, karena neuron-neuron di hippocampus dirusak oleh peningkatan hormon kortisol.

“Latihan aerobik teratur dapat meningkatkan ukuran hippocampus pada orang dewasa,” tegasnya.

Terakhir mengenai fungsi “PFC”, dengan kepanjangannya “pre-frontal cortex”. PFC terlatak di otak depan, di bawah ubun-ubun dan di belakang dahi (persis di antara kedua mata kita). Terdiri dari 3 bagian penting; a) dlPFC – dorsolateral PFC, b) vmPFC – ventromedial PFC, dan c) vlPFC – ventrolateral PFC.

Bagian PFC ini menjalankan fungsi eksekutif, memaknai nilai-nilai, merencanakan dan memilih serta mengambil keputusan. Fokus dan perhatian, pengendalian gerak hati dan ketekunan, empati dalam berperilaku sosial, menunda kenikmatan, menyelarasakan pikiran dan tindakan sesuai dengan tujuan.

“Perannya sebagai bos, CEO atau konduktor dalam musik. Pekerjaan yang rutin dan terus-menerus justru akan melemahkan fungsi PFC.

Kondisi tertekan seperti stress dapat juga menurunkan fungsi PFC, menurunkan kreativitas, pemecahan masalah, memori kerja dan proses-proses lainnya. Dengan bermeditasi dapat meningkatkan kapasitas PFC (mindfulness),” ia menyarankan.

Tetapi dia menekankan, ada hal yang perlu dicatat, bahwa lima kebutuhan dasar otak anak: 1) nutrisi yang sehat, 2) lingkungan yang baik, 3) pengalaman emosi, 4) rangsangan rasional, dan 5) aktivitas fisik anak.

“Perkembangan-perkembangan otak anak yang baik ditandai dengan indikator-indikator utama, sebagai berikut: a) ketrampilan pengendalian diri (self-control) dan motivasi diri (self-motivation), b) ketrampilan berkomunikasi, c) ketrampilan kalkulasi, d) ketrampilan berpikir analitik dan berpikir kreatif, e) ketrampilan memilih dan memutuskan, dan f) ketrampilan olah fisik dan musik,” pungkas Dokter Amir.

 

Eveline Ramadhini