Mengenal Biovillage di Bali

by
Kegiatan penukaran poin yang dapat ditukarkan dengan sembako. Foto: dok. Pribadi.

Masalah sampah menjadi masalah paling laris karena tak pernah habis, terutama sampah organik yang mencemari lingkungan sebanyak 60%. Salah satu penanganannya dengan menerapkan Biovillage yang melibatkan maggot sebagai ‘pemeran utama’.

Wartapilihan.com, Jakarta — Biovillage merupakan penanganan limbah melalui pola budaya masyarakat dan teknologi biokonversi. Begitu tutur pemuda yang sering dipanggil Zaky.

Ia menceritakan soal pengalamannya selama dua bulan di Bali, tepatnya di wilayah Badung. Untuk pertama kalinya, maggot dibudidayakan bukan hanya untuk dijual, tetapi untuk kebersihan lingkungan setempat dan bertujuan menyejahterakan petani dan peternak.

“Dari Bali, banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Salah satunya, cara untuk mendekati pemerintahan,” tutur Zaky, kepada Warta Pilihan, beberapa waktu lalu.

Zaky merunut, semua dilakukan mulai dari nol dengan biaya dari organisasi Koloni BSF (Black Soldier Fly) Indonesia yang digawangi Adi Akhmad Abdillah yang merupakan lulusan UPI Jakarta ini.

“Semuanya kami mulai dari nol dengan biaya sendiri. Kami membutuhkan pemerintah untuk melakukan koordinasi. Kami waktu itu hanya menyodorkan video berdurasi 17 menit kepada Bupati Badung. Beliau hanya terdiam, kemudian memanggil ajudannya untuk mengkomunikasikan kepada dinas terkait, hampir seluruh Kepala desa,” tegasnya.

Kegiatan penukaran poin yang dapat ditukarkan dengan sembako. Foto: dok. Pribadi.
Adi, pendiri Koloni BSF Indonesia yang tengah menyosialisasikan kepada masyarakat Bali soal Biovillage. Foto: dok. Pribadi.

Kendati ia telah mencoba berbagai cara untuk menghubungi para pejabat setempat, ia dan timnya tidak menyerah; setidaknya, ia berhasil mengambil hati Bupati Badung untuk menerapkan Biovillage ini secara masif.

“Ada juga beberapa pejabat seperti Gubernur dan Walikota, kurang respek terhadap ide ini. Tapi tidak apa-apa, nanti yang rugi pemerintah,” cerita dia.

Untuk diketahui, hingga saat ini, 50 desa di wilayah Badung, Bali, sudah siap untuk menerapkan pola pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan ini. Setiap hari, Zaky bersama tim Koloni BSF Indonesia mengumpulkan sampah organik rumah tangga yang dapat ditukarkan dengan poin; poin tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan berbagai jenis sembako, atau barang elektronik.

“Itu cara yang efektif untuk membuat masyarakat suka untuk mengumpulkan sampah dan semangat. Akhirnya, ada juga yang ngumpulin sampah punya tetangganya,” kenang Zaky antusias.

Soal konsep Biovillage, pertama kalinya baru diterapkan di Badung, Bali. Konsep ini ke depannya, ia harapkan, dapat melibatkan banyak pihak, dan juga banyak peran yang terlibat. “Meski menguras waktu, kami menghargai setiap waktu yang dilewati tanpa ada merasa sia-sia,”

Zaky berharap, di tahun 2018 ini dapat menjadi awal pengembangan teknologi biokonversi yang selama ini difokuskan untuk dunia pertanian dan peternakan.

“Penerapan terhadap permasalahan sampah akan kami lakukan secara masif dan serentak di seluruh Indonesia, dan seluruh pihak yang akan bergabung kemudian,” pungkas dia.

Adi yang merupakan penggagas Koloni BSF Indonesia pun menambahkan, pihaknya memiliki visi besar untuk membangun Konsep BioVillage di setiap desa dan kota di Indonesia untuk menyelesaikan masalah sampah dan biaya tinggi dalam produksi peternakan (biaya pakan).

“Awal Agustus semua clear berjalan. Cianjur tahun sekarang juga barengan, di kota lain sedang dipersiapkan. Sejahtera peternak & bersihlah Indonesia secara massif akan kongkrit dengan konsep BioVillage I BioCity,” tandasnya.

 

Eveline Ramadhini