Mengintegrasikan Tani dan Ternak

by
Limbah pertanian yang diolah menjadi pakan ternak. Foto: dok. Pribadi.

Pertanian dan peternakan sebagai salah satu penunjang ekonomi masyarakat di pedesaan turut menimbulkan dampak, yaitu limbah, baik limbah ternak berupa feses dan juga limbah organik yang sebetulnya bisa dimanfaatkan.

Wartapilihan.com, Jakarta — Hal tersebut disampaikan oleh Riki Frediansyah, seorang alumni Institut Pertanian Bogor (IPB). Riki mengatakan, pada dasarnya limbah pertanian dan peternakan yang tidak dimanfaatkan akan kembali ke lingkungan sekitar dan dapat menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara.

“Padahal dari limbah (sampah) menyimpan sebuah potensi besar untuk menjadi sirkulasi (tijarah) energi,” kata Riki, kepada Warta Pilihan, Rabu, (4/7/2018).

Limbah pertanian dan peternakan, menurutnya, dapat dijadikan sumber energi bagi makhluk yang lainnya.

Sisa produksi dari limbah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak, pupuk padat, pupuk cair organik (POC), suplemen organik cair (SOC) dan lainnya.

“Hal ini akan menjadi nilai tambah yang bernilai ekonomis bagi petani dan peternak,” terang pegiat lingkungan di Komunitas Walungan di Kampung Pasir Angling, Bandung, Jawa Barat ini.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dengan adanya upaya sirkulasi energi, dengan demikian energi tidak hilang, namun hanya berubah bentuk.

“Tampak bahwa materi tersebut mengalir dari mahkluk hidup ke dunia ‘tak hidup’, dan kemudian kembali hidup. Ada asma Nya, al Hayaat,” tutur dia.

Ia menekankan, pada dasarnya komoditi tanaman, hewan, manusia dan benda lainnya hidup bersama dan saling membutuhkan dalam suatu lingkungan.

“Berapa luas lahan hijauan, berapa luas lahan tani, berapa jumlah penduduk, berapa kebutuhan air, dan lain sebagainya untuk menunjang itu semua akan membentuk sebuah ekosistem,” tukasnya.

Lingkungan yang baik yang sesuai, lanjut Riki, akan menopang produktivitas pertanian dan peternakan jika kedua sektor ini berada dalam satu wilayah.

“Kualitas genetik dari komoditi pertanian dan peternakan akan muncul jika lingkungannya sesuai. Integrasi pertanian dan peternakan sebuah keniscayaan yang dapat menjadi salah satu solusi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penting adanya sinergi dan keterlibatan para pihak yang meliputi masyarakatnya, para pemerhati lingkungan, pemerintah dan para pihak lainnya, baik individu maupun kelompok.

“Sebuah desa dengan perekonomian nya di dukung pertanian dan peternakan maka para pihak tadi perlu terlibat. Terlibat sesuai dengan perannya masing masing,” tukas dia.

Ia menerangkan, perlu diperhatikan dengan cermat soal suhu, kelembaban, curah hujan, tekanan udara, arah angin dan kondisi lingkungan yang terekam di pasangkan dengan komoditi pertanian dan peternakan.

“Kapan waktu menanam, kapan komoditi tertentu di tanam, kapan waktu mengawinkan ternak dan seterusnya sebuah data lingkungan yang sangat penting,” tegasnya.

“Keseimbangan ekosistem tercipta. Meminimalkan asupan dari luar. Menggali inovasi inovasi yang Allah hidangkan,” pungkas Riki.

 

Eveline Ramadhini