Menjadi Ibu Bahagia

by
Ibu bahagia. Foto: muslimah.co.id

Ketika seorang ibu ditanyakan, apakah ia bahagia mempunyai anak? Hampir semua ibu akan menjawab ‘ya’. Benarkah hal itu?

Wartapilihan.com, Jakarta –Seorang psikolog dan peneliti perilaku, Peter Ubel yang merupakan guru besar psikologi di Unervitas Michigan, Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 900 orang dengan status sebagai ibu yang memiliki anak.

Hasil penelitiannya melaporkan, ibu dari anak-anak di bawah usia 3 tahun mengalami kondisi tertekan. Terlalu letih, frustasi dan terkadang mudah marah menjadi menjadi jawaban terbesar para ibu dalam penelitian tersebut. Akibat negatif lainnya yaitu menjadi mudah cekcok dan konflik dengan pasangan.

Hal itu disampaikan Ummu Rochimah, Konsultan Rumah Keluarga Indonesia Setiabudi. Ia mengatakan, ternyata mengurus anak hanya sedikit lebih menyenangkan ketimbang pekerjaan rumah tangga.

Kendati demikian, menurut Ummu, kebahagian seorang ibu bukanlah hasil pemberian dari orang lain, meski suami sekalipun. Kebahagiaan tersebut ia harus diupayakan oleh si ibu sendiri.

“Karena secara turun temurun, laki-laki atau suami hanya memberikan sedikit bantuan yang diburtuhkan oleh seorang perempuan atau istri. Suami berperan dalam memberikan nafkah dan pelindung. Namun dalam kenyataannya suami hanya dapat memberi dalam porsi kecil bantuan yang dibutuhkan oleh istri saat mengalami stres,” terang Ummu Rochimah, Senin, (12/3/2018), di laman keluarga.or.id.

Bila diibaratkan kebutuhan hormon bahagia seorang istri atau ibu layaknya sumur yang harus diisi, maka suami atau ayah hanya dapat mengisi kurang lebih 10%nya saja. sedang sisanya sebesar 90% menjadi tanggung jawab istri atau ibu untuk mengisinya.

“Ketika seroang istri hampir terpenuhi sumur kebahagiaannya, maka suami akan termotivasi secara alami untuk melengkapinya hingga mencapai 100%. Namun, di sisi lain, bila sumur itu sama sekali kosong, dan suami mengisinya 10%, maka sang istri akan tetap merasa kosong,” tukas dia.

Ummu pun memberi tips untuk menjadi seorang istri atau ibu yang bahagia, pertama ialah menghargai apa yang dilakukan saat ini dan membuat pekerjaan tersebut menjadi lebih menyenangkan.

“Ketika seorang istri atau ibu sudah menemukan cara yang menyenangkan dalam melakukan pekerjaannya, maka bukan saja ia akan melakukan hal terbaik untuk diri sendiri, tapi juga akan menjadi istri dan ibu yang lebih menyenangkan bagi suami dan anak-anak,” paparnya.

Ia pun memberi contoh, saat anak yang masih kecil menginginkan minum susunya dengan gelas yang berwarna merah, sementara saat itu gelas merahnya terselip entah di mana. “Jika hati sedang kusut, mungkin saja sang ibu akan mengatakan, ‘Duh, mau minum aja pakai pilih-pilih gelas, pakai yang ada aja!’ Tentu hal ini akan membuat suasana hati keduanya menjadi tidak nyaman, hati ibu dan anak,” tutur Ummu.

Tapi, jika sang ibu bersikap positif, maka bisa saja ia menggunting kertas merah dan menempelnya pada gelas tersebut. terbitlah kebahagiaan di hati keduanya, ibu dan anak.

Kedua, sang ibu perlu untuk mengakui saat stres. Berterus terang pada pasangan dan anak-anak, karena kejujuran tersebut belum tentu menjadikan seorang istri buruk, karena istri juga manusia.

 

Ketiga, sesuai pandangan Norbert Schwart, PhD dari Universitas Michigan, uang yang banyak tidak terlalu berpengaruh terhadap kebahagiaan ketimbang istirahat atau tidur yang cukup.

“Seorang ibu dari anak berusia satu tahun bercerita, suatu ketika suaminya mengambil alih tugas pengasuhan anak selama dua jam di akhir pekan sehingga ia bisa istirahat dengan tidur siang yang nyenyak. Ketika diminta tanggapannya terhadap apa yang telah dilakukan oleh suaminya, ia mengatakan, ‘Nyata sekali bedanya. Ia menjadi lebih siap melakukan sesuatu secara lebih aktif’,” imbuh Ummu.

Keempat, sang ibu perlu mempertimbangkan skala prioritas agar suasana hati lebih positif sehingga bisa melakukan hal yang disukai. “Ketidak mampuan seseorang dalam menetapkan skala prioritas dalam kehidupannya akan membuat ia selalu berada dalam keadaan hectic, seolah-olah perkerjaan tidak ada habisnya, bingung harus memulai dari mana, semua menjadi penting atau semua menjadi tidak penting.”

 

Kelima, ia menekankan agar lebih banyak menikmati ‘kesaatinian’ atau ‘kedisinian’ agar memberi makan emosi positif. Ia menyarankan agar meluangkan waktu dua hingga tiga menit untuk menikmati waktu.

“Pada pagi hari misalnya, dari pada memilih untuk mencoba menyelesaikan sepuluh hal seperti belanja ke pasar, memasak, mencuci baju, menyetrika dana seterusnya. Cobalah ambil segelas kopi atau teh, duduklah sejenak untuk menyeruputnya dengan nikmat sambil melihat si kecil bermain,”

Dengan cara sesederhana ini, menurutnya akan membuat istri atau ibu merasa lebih tenang dan nyaman. Pasalnya, akan memperpanjang hormon bahagaia bersemayam dalam diri istri atau ibu.

Hal terakhir yang tak boleh luput dari pandangan seorang ibu dan istri ialah senantiasa bersyukut. Ummu mengungkapkan, senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini adalah salah satu pendongkrak semangat.

“Dengan bersyukur memiliki suami saat ini akan menghantarkan seorang istri lebih menghargai dan menghormati suaminya. Bersyukur dengan anak-anak yang dimiliki saat ini, akan membuat seorang ibu menghargai setiap waktu yang mereka miliki untuk senantiasa mengisinya dengan kebaikan-kebaikan sebagai jejak cintanya kepada anak-anak,” pungkas dia.

Eveline Ramadhini