Olahraga dan Olahjiwa

by

Tanggal 18 Agustus ini akan diadakan Asian Games. Sebuah perhelatan olahraga terbesar se Asia. Acara digelar di Jakarta dan Palembang. Di Jakarta, kotanya dipercantik untuk menyambut para tetamu olahraga fisik ini. Entah berapa semua biaya yang dikeluarkan. Negara kita mengutamakan olahraga daripada olahjiwa.

Wartapilihan.com – Olahraga tentu baik bagi tubuh. Tapi membuat kebijakan olahraga lebih hebat dari olahjiwa (olahfikir) adalah masalah. Lihatlah bagaimana pemerintah senantiasa memberikan penghargaan yang besar kepada para olahragawan bila memenangkan pertandingan di luar negeri. Tapi bagi mereka yang mempunyai prestasi olahjiwa/olah fikir di luar negeri jarang diberi penghargaan atau diberi penghargaan sekedarnya.

Padahal di dalam pembinaan manusia, yang lebih dulu ditekankan adalah pembinaan jiwa/akal. Pembinaan tubuh nomer dua. Lihatlah lagu Indonesia Raya lebih dulu bangunlah jiwanya daripada bangunlah badannya. Berapa banyak orang tua yang tubuhnya renta, tapi karena jiwanya sehat ia banyak memberi manfaat kepada orang banyak. Sedangkan anak muda yang tubuhnya sehat, tapi karena jiwanya tidak terdidik, maka pekerjaan sehari-harinya hanya merusak dirinya sendiri, seperti kecanduan games, narkoba dan lain-lain.

Islam sangat menekankan pembinaan jiwa dan akal sebelum pembinaan tubuh. Lihatlah ayat yang pertama turun, Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat ini menekankan pembinaan jiwa dan akal pada diri sang Muslim. Akalnya diketuk, bacalah tanda-tanda (ayat) di sekitarmu, bacalah buku-buku, bacalah media-media. Jiwanya diketuk, bacalah dengan menyebut nama Allah. Bacalah yang bermanfaat bagi dirimu, bagi imanmu. Bila kau temui tulisan yang kacau, segera balaslah tulisan itu agar masyarakat tidak ikut kacau. Atau tinggalkan tulisan yang kacau itu.

Islam membina jiwa dengan shalat, puasa, zakat, dzikir dan lain-lain. Sedangkan pembinaan akal dilakukan dengan membaca, kajian-kajian, dialog, ‘debat terbuka’, pelatihan jurnalistik/public speaking dan lain-lain.

000

Masyarakat kapitalis memang sangat memuja fisik/tubuh. Maka mereka perbanyak lomba-lomba olahraga, lomba-lomba kecantikan fisik dan lomba bentuk tubuh lainnya. Mereka memuja fisik daripada ruhani. Mereka bahkan ada yang membuat kebahagiaan dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat fisik semata. Rumah mewah, mobil mentereng dan lain-lain.

Ibnu Qayyim menggunakan istilah hidup yang sehat atau kebahagiaan jiwa sebagai ungkapan kesehatan jiwa. Ia mengungkapkan : “Wahyu adalah sumber kehidupan roh, sedangkan roh merupakan sumber kehidupan jasmani. Oleh karena itu orang yang kehilangan roh akan kehilangan kehidupan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Allah memberikan kehidupan yang baik (sehat) bagi hambaNya yang memiliki wawasan serta mencintai dan menyembahNya.”

Allah berfirman,”Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an Nahl 97)

Ibnu Qayyim melanjutkan,”Banyak interpretasi tentang kehidupan yang baik (sehat), diantaranya : qanaah, ridha serta rizki yang baik. Tetapi dari sekian interpretasi tersebut, yang benar adalah kehidupan jiwa, kenikmatan, kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang (sehat) diisi keimanan, pengetahuan, cinta, tobat dan tawakkal kepada Allah. Sebab tidak ada kehidupan yang lebih baik dan lebih nikmat daripada kehidupan akhirat. Bila kehidupan jiwa baik dan sehat dibarengi dengan kehidupan jasmani yang sehat pula, maka secara tidak langsung tercipta jiwa yang sehat. Kehidupan mempunyai tiga tingkatan alam, yaitu : dunia, bazakh, akhirat.”

Selain itu, menurut Ibnu Qayyim, kehidupan yang sehat erat kaitannya dengan kepatuhan kepada perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Ia mengungkapkan,”JIka perintah dan larangan Allah dilanggar, maka akan berakibat negatif, seperti ketidaksempurnaan, kerusakan, kerapuhan, keterpurukan, kehinaan, serta kehidupan yang semakin sempit dan kelam.”

Allah SWT berfirman,”Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)

Ibnu Qayyim mengakui ada kebahagiaan materi atau fisik. Tapi menurutnya kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan internal jiwa. Kebahagiaan ini merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat, bersifat abadi dalam kondisi yang berubah-ubah, serta selalu menemani individu dalam setiap perjalanan ke berbagai alam (dunia, barzakh dan akhirat).

Ibnu Qayyim menjadikan ubudiyyah sebagai ciri utama kebahagiaan. Ia mengungkapkan,”Tujuan diciptakannya makhluk adalah beribadah kepada Allah, yang merupakan ciri kesempurnaan cinta, kepatuhan dan ketundukan hamba-hamba Nya kepada Allah. Konsekuensi ibadah adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta mendapat pahala dan siksa atas perbuatan dunia.”

Ibnu Qayyim melanjutkan,”Jika cinta kepada Allah merupakan hakikat dan rahasia ibadah, maka itu hanya bisa terealisasi dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, sambil meyakini bahwa tindakannya tersebut merupakan bukti hakikat ubudiyah dan cinta.”

Firman Allah SWT,”Wamay yuthillaaha warasuulahuu faqad faaza fauzan adhiima.” Artinya,”Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya maka sungguh dia akan bahagia/menang yang sejati (bahagia di atas bahagia).” (QS al Ahzab 71). Di situ ada kata qad, faaza, fauzan adhiima.

Pepatah latin mensana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, nampaknya perlu diluruskan. Karena di masa modern ini banyak orang yang tubuhnya sehat, tapi jiwanya sakit. Tubuhnya sehat, jiwanya dipenuhi iri dengki, bakhil, tamak/rakus dan lain-lain.

Maka dalam Islam kesehatan jiwa dengan ilmu tasawuf lebih didulukan daripada kesehatan tubuh. Manusia perlu dididik dulu dengan sifat-sifat terpuji, seperti: suka beribadah, jujur, qanaah, ridha, tawakal dan lain-lain. Maka dengan jiwa yang sehat, insya Allah tubuhnya ikut sehat. Pembinaan jiwa jauh lebih utama daripada pembinaan tubuh. Wallahu alimun hakim. II

Izzadina