Para Pengusaha Sejati

by
foto:istimewa

Oleh Inayatullah Hasyim

Jika kita membaca sejarah Nabi dan para sahabatnya, ada satu hal yang sering terlupa. Bahwa Rasulallah SAW dan para sahabatnya adalah enterpreneur sejati. Mereka pedagang yang tangguh, negosiator yang ulung dan mujahid yang tak kenal rasa takut.

Wartapilihan.com, Jakarta –Tentang kemampuan berdagang Rasulallah SAW tentu sudah sangat dihafal. Mari kita lihat sekilas sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulallah SAW langsung masuk surga. Ternyata, tujuh dari sepuluh sahabat Nabi itu adalah para pengusaha yang sukses. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam.

Abu Bakar, misalnya. Saat sudah dilantik jadi khalifah, dia masih berdagang hingga Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarah menemuinya. Umar berkata, “Mengapa engkau masih berdagang sementara sekarang kau sudah menjadi amirul mukminin?” Abu Bakar menjawab, “dari mana aku nafkahi keluargaku?” Umar kemudian mengusulkan untuk mengambil gaji dari baitulmal. Para sahabat Nabi menyetujuinya.

Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang sangat sering bersama Rasulallah SAW. Suatu hari, di masa kekhalifahannya, Abu Musa Al-Asya’ri berkata bahwa Rasulallah SAW mengajarkan, jika bertamu, mengucap salam maksimal tiga kali. Jika diizinkan, masuk. Bila tidak, kembalilah. Umar bin Khattab minta Abu Musa untuk datangkan saksi bahwa Rasulallah SAW mengajarkan demikian. Abu Musa pun membawa para saksinya. Umar berkata, “Engkau benar, waktu itu aku sibuk di pasar (berdagang)”.

Utsman bin Affan tentu sudah sangat dikenal dengan kekayaannya. Namun, ada satu kisah menarik saat Abdurrahman bin Auf wafat dan, sesuai wasiatnya, ahli warisnya membagikan sebagian harta Abdurrahman kepada para sahabat Nabi yang ikut perang Badar. Utsman ikut antri. Ketika ditanya, mengapa ikut antri padahal Anda sudah kaya raya. Utsman menjawab, “harta Abdurrahman halal dan berkah. Setiap makanan yang kita beli dari uangnya pasti mendatangkan keberkahan dan kesehatan”. Sebuah bukti bahwa Utsman selalu berjuang mencari yang halal.

Adapun Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang selalu pandai membaca peluang berbisnis. Bahkan, Ali pernah berkata, “Andai baju yang kukenakan dibeli orang, dan aku mendapat keuntungan darinya, niscaya aku jual”.

Demikian halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia adalah seorang yang pedagang yang sukses. Padahal, saat hijrah, Abdurrahman tak banyak memiliki perbekalan. Sampai di Madinah, ia dipersaudarakan oleh Rasulallah SAW dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang tokoh di Madinah.

Sa’ad berkata, “Aku adalah salah satu penduduk Madinah yang kaya. Aku bersedia membagi setengah hartaku untukmu. Isteriku juga ada beberapa. Jika kau mau, aku ceraikan salah satunya agar kau nikahi”. Tetapi, Abdurrahman bin Auf tahu diri. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dari sana dia berdagang, tak lama kemudian dia sukses dan memberi tahu Rasulallah SAW bahwa ia akan menikah. Rasulallah SAW pun berkata, “dirikanlah walimah…”. Itulah cikal-bakal anjuran berwalimah.

Lalu Thalhah bin Ubaidillah. Pada perang Uhud, Rasulallah terdesak hingga beliau terus naik ke bukit Uhud. Di saat demikian, ada dua sahabat nabi yang terus setia menjaga beliau. Salah satunya adalah Thalhah bin Ubaidillah.

Pada detik-detik kritis itu, Thalhah berhasil mengalahkan sepuluh orang kafir Mekkah yang mengejar Rasulullah. Karena itulah, setiap kali disebut perang Uhud, Abu Bakar berkata, “perang itu milik Thalhah”. Ya, demikianlah, sebab Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid dan masih berjalan di atas muka bumi, lihatlah pada Thalhah”.

Selain dikenal berjiwa heroik, Thalhah juga seorang pedagang yang sukses. Setelah dia meninggal, Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya pada Musa, salah satu putera Thalhah. Katanya, “Berapa ayahmu mewariskanmu?”. “Beliau mewarisi seratus ribu dirham perak, adapun dinar emas sebanyak dua ratus ribu dinar”. Muawiyah berkomentar, “Berbahagialah almarhum ayahmu. Saat muda, dia hidup terpuji, saat tua penuh kemuliaan, dan meninggal dalam keadaan syahid”.

Adapun Zubair bin Awwam saat meninggal memiliki warisan yang melimpah. Tahu berapa? Mari kita simak sekilas. Selama empat kali musim haji, Abdullah bin Zubair, anaknya, keliling kepada setiap yang haji untuk berinfak, sekaligus bertanya, apakah orang tuanya meninggalkan hutang. Setelah mendapat kepastian tak ada lagi hutang, Abdullah baru membagi warisan ayahnya yang tersisa yaitu lima puluh juta dua ratus ribu dirham!

Namun demikian, para enterpreneus sukses itu adalah para dermawan yang tak pernah segan berinfaq. Mereka menjadikan harta sebatas titipan. Kata Ibnul Qayyim, “Ketika harta hanya (sampai) di tanganmu, dan bukan di hatimu niscaya ia tidak akan merusakmu walaupun sangat banyak. Namun, ketika harta ada di hatimu, ia merusakmu meskipun engkau tidak menggenggamnya sedikitpun”.

Sekarang ini, kita sering diajarkan untuk hidup zuhud dengan pemahaman yang keliru. Zuhud seakan hidup sederhana, compang-camping, miskin kreativitas, menerima keadaan tanpa pernah berusaha, dan lain-lain. Padahal, kata Ibnul Qayyim lagi, “zuhud itu bukanlah engkau meninggalkan dunia dari genggamanmu, tetapi hatimu terus memikirkannya. Zuhud adalah engkau meninggalkan dunia dari hatimu, meskipun ada dalam genggamanmu!”.

Untuk itulah, Rasulallah SAW berpesan, “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit (kurma) maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya”. (HR Imam Ahmad).

Wallahua’lam.