Perlukah Anak Kita Masuk Pondok?

by
foto:istimewa

Oleh: Dr. Adian Husaini

Edisi Klinik Pendidikan Keluarga kali ini, Dr Adian Husaini berbicara tentang pesantren yang cocok untuk anak. Simak penuturannya:

Wartapilihan.com, Depok –-Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Teman teman di Klipik (Klinik Pendidikan Keluarga) kali ini kita membahas sesuatu yang sering ditanyakan pada saya “Umur berapa anak kita masuk pesantren?” atau “Wajibkah anak itu mondok di pesantren?”

Apalagi kalau kita melihat pergaulan dan lingkungan sekarang banyak sekali tantangannya. Banyak orang tua berpikir jika anaknya akan aman dimasukkan ke pesantren atau Islamic Boarding School, jauh lebih meringankan orang tua.

Kalau ditanya “Apakah anak harus mondok?” Prinsipnya begini jika ayah atau ibu di rumah masih bisa mendidik anaknya sendiri itu lebih baik. Karena pendidikan terbaik ada di tangan orang tua. Namun, masalahnya kondisi orang tua secara keilmuan dan pemahaman agamanya masih kurang apalagi jika kedua orang tua sibuk bekerja, pesantren bisa menjadi alternatif yang cukup baik.

Hakikat pendidikan di pondok pesantren, saya menyebutnya lembaga pendidikan yang paling ideal karena pesantren memiliki rukun atau ciri ciri utama. Yang pertama mereka harus punya keteladanan kyai atau ustadznya terutama pimpinan pesantrennya. Ketika pesantren tidak punya seseorang yang bisa diteladani terutama kyainya itu menandakan berkurangnya jati diri pesantren tersebut.

Yang kedua, pesantren itu harus ada penanaman adab. Penanaman adab dan akhlak adalah hal utama yang harus diperhatikan secara perlahan dan berangsur-angsur itu harus ada.

Yang ketiga, pesantren harus bisa menanamkan ruh dakwah. Jadi jika para santri di pesantren tidak ditanamkan nilai-nilai perjuangan dan amar ma’ruf nahi munkar menurut saya jati diri pesantren sangat kurang.

Yang keempat, harus ada penanaman tafaqquh fiddin. Ulumuddin harus diajarkan secara serius di pondok pesantren. Ulumuddin bukan ilmu sambilan, kalau dijadikan sambilan itu bukan pondok pesantren namanya.

Jati diri pesantren dari zaman Rasulullah di sejarah Islam madrasah-madrasah klasik, selalu Ulumuddin yang dijadikan utama.

Selain itu yang kelima jati diri pesantren ada persiapan kemandirian. Jadi para santri itu disiapkan jadi pejuang di tengah masyarakat maka dia harus disiapkan mental dan lifeskill kemandirian.

Yang keenam, pesantren harus membekali santri-santrinya dengan pemikiran-pemikiran kontemporer dan kemampuan untuk mengatasinya. Karena mereka akan terjun ke masyarakat dan berinteraksi dengan aneka rupa pemahaman kontemporer.

Paling tidak, enam hal ini yang harus diperhatikan. Jika kita ingin memasukkan anak kita ke dalam pesantren coba ditanyakan dan dicari tahu minimal tahu kyainya siapa dan yang nongkrong disana sehari-harinya siapa. Karena itu yang sangat penting bisa diteladani atau tidak dan sisa kelima poin diatas juga harus diperhatikan. Jadi jangan asal namanya pesantren.

Pertanyaan yang kedua, “Sejak umur berapa anak dimasukkan pesantren?”

Saya sejak SMP sudah dimasukkan ke pesantren di SMA saya full tinggal di pesantren. Pengalaman saya pribadi tinggal di pesantren yang saya jadikan standar untuk anak saya sebaiknya masuk pesantren itu selepas SMP.

Tapi ternyata itu tidak menjamin, anak saya yang baru lulus SD dia minta masuk pesantren. Kemudian saya jadi berpikir “Apakah saya tunda saja?” sebab anaknya yang minta. Jadi ketika itu akhirnya saya berpikir kalau anaknya yang minta ke pesantren kenapa tidak dicoba saja dimasukkan ke pesantren. Kalau anda masih bisa mendidik anak anda sampai tingkatan SMP itu sudah bagus, nanti setelah masuk SMA baru dimasukkan ke pesantren atau Islamic Boarding School yang baik. Namun, jika kemudian anaknya siap lulus SD kemudian anak itu siap tidak masalah. Seperti sekarang anak saya masuk pesantren tingkat SMP. Meskipun ada beberapa anak baru yang dimasukkan pada awalnya menangis namun setelah dua tiga bulan mereka jadi terbiasa.

Ketika anak kita mau masuk pesantren itu sebuah anugerah maka harus disalurkan di tempat yang baik karena ada beberapa kasus dimana orang tua ingin anaknya masuk pesantren tapi tidak mau bahkan ada yang tidak betah dan kabur dari pesantren.

Ada kaitan antara kehidupan sehari-hari. Jika sang anak tadinya terbiasa hidup mewah, dimanja, dan nyaman serta tidak dilatih oleh tantangan nanti di pesantren akan mengalami kesusahan. Yang terberat bagi anak sekarang ketika masuk pesantren adalah ketika harus putus dengan handphone.
Tidak ada yang mutlak terkait masuk pesantren. Yang perlu dilakukan orang tua adalah bertanya pada beberapa orang terkait pesantren yang dituju. Bahkan ketika anak saya keluar dari pesantren dan bertanya tentang kuliah dia bertemu dengan Prof Wan Mohd Noor di Kuala Lumpur dan akhirnya memilih Universitas Al-Azhar Kairo. Saya juga bertanya pada beberapa teman Ustadz seperti Ustadz Bachtiar Nasir dan Farid Nu’man. Harus banyak bertanya dan mencari informasi. Karena kadangkala ada beberapa informasi dan masing-masing anak berbeda kecocokannya pada masing masing pesantren. II