Perlukah Tahu Bakat Anak Sejak Dini?

by
foto:istimewa

Oleh : Dr Adian Husaini

Dalam kesempatan ini Dr Adian menjelaskan pentingnya anak-anak menguasai fardhu ain dan fardhu kifayah dalam keilmuan. Silakan menyimak :

Wartapilihan.com, Depok –Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman selamat datang kembali disini, dalam acara KLIPIK membahas masalah-masalah aktual dalam dunia pendidikan kita. Teman-teman banyak sekali ya pertanyaan contohnya seperti ini, perlukah kita mendatangkan seorang psikolog di sekolah, di pesantren untuk membaca bakat santri-santri atau murid-murid sekolah kita atau anak kita?

Jadi ada beberapa pesantren yang mendatangkan psikolog yang bisa mengerti bakatnya. ”Ada seorang orangtua bercerita pesantrennya dihadirkan psikolog dan akhirnya anaknya direkomendasikan untuk masuk kuliah jurusan tertentu karena anak nya itu suka ngomong dan ada lagi anaknya begini nanti masuk kesini, ada yang pakai bakat macem macem dipakai. Dulu ada teori apa namanya stiffin dan sebagainya. Tapi juga ada banyak hal untuk yang penting katanya itu diperlukan nanti agar nggak salah dia dalam mengembangkan potensi nya.

Nah teman-teman sebetulnya memang pendidikan kalau dalam UU kita itu memang untuk mengembangkan potensi, tapi kita perlu ingat ya kalau kita sebagai muslim maka yang paling penting sebetulnya kita memenuhi kewajiban kita. Kita kembali kepada prinsip dasar pendidikan kita adalah “Qu anfusakum wa ahlikum nara” Jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Rasulullah menyebutkanmanusia itu sebagai tambang seperti emas dan perak. Jadi kita orang tua atau guru itu harus mendeteksi ya potensi anak secara umum potensi yang paling penting adalah yang berkualitas.

Ada yang sangat pintar seperti Pak Habibie, ada kurang pintar, ada yang sangat kurang pintar. Itu semua diciptakan oleh untuk saling bekerja sama saling melengkapi kalau semua orang pintar kehidupan tidak akan jalan, begitu juga kalau semuanya bodoh. Di akhirat yang dinilai bukan bodoh atau pintarnya tapi sejauh mana dia mengembangkan potensi itu untuk kemanfaatan dalam beribadah kepada Allah swt itu intinya.

Silakan datangkan psikolog ke sekolah sebagai penganalisis potensi bakat dan seterusnya tapi jangan lupakan kewajiban. Jangan sampai anak ini pintar ngomong bakatnya di sejarah, anak ini bakatnya kedokteran, tidak seperti itu. Pertimbangan utama adalah kewajiban. Ilmu dalam Islam itu menyeimbangkan antara yang fardhu ain dan fardhu kifayah. Jadi, kalau anak ini pintar misalnya dia direkomendasikan masuk ke kedokteran, kedokteran itu fardhu kifayah jangan lupakan si anak ini untuk wajib belajar ilmu-ilmu yang fardhu ain misalnya di kampus itu anak ini sanggup atau tidak. Anak ini harus belajar sastra Arab dan aqidah termasuk tantangannya pemikiran modern.

Pendidikan itu mengembangkan dia menjadi pejuang, dalam Surah Al-Luqman disebutkan “Wahai anakku dirikanlah shalat dan tegakkan amar maruf nahi munkar”. Jadi, memang tugas orang tua dan guru menyiapkan anak-anak dan santrinya menjadi pejuang dan penegak kebenaran.

Itu yang terpenting proporsinya fardhu ainnya harus dapat, jangan merasa cukup ketika tujuannya hanya kuliah disini dan bakat kamu disini dan kembangkan sehingga kamu bisa bekerja di tempat yang mapan dan bisa hidupnya makmur dan cinta dunia akhirat. Kalau dia pintar sekali jangan dididik menjadi tukang misalnya ada mahasiswa yang sangat bagus dalam mengaji dan tahfidz lalu dia kuliah di jurusan Teknik elektro. Kewajiban dia sampai dia mati bukan hanya menguasai teknik elektro dengan potensi intelektualnya dia harus menguasai ilmu-ilmu ulumuddin dan juga ilmu yang menjadi keperluan dia sehingga dia bisa menjadi dai yang baik.

Pernah dalam pembukaan Islamic modern school yang terkenal di Bogor saya sampaikan pada wali murid dan santri tersebut bahwa ke depan jika anak-anak kita ini pintar dan cerdas jangan hanya arahkan menjadi ilmuwan tapi menjadi ulama sehingga mampu secara optimal menjadi pejuang. Kalau dia mampu dia harus belajar ulumuddin harus belajar tafsir, idealnya sehingga ke depan para pemimpin umat seminimalnya punya gelar di bidang ulumuddin atau tafsir dan punya gelar di bidang sains. Social scientist, dia bisa menguasai sejarah, budaya, bahasa, komparatif agama, jadi dia punya basis di bidang profesi sekaligus ahli di bidang komparasi agama.

Gambaran sederhananya Zakir Naik, dia dokter ahli bedah tapi ahli juga di bidang comparative religion. Hal seperti ini di Barat maupun Timur Tengah sudah banyak. Di Indonesia pun seperti di Ibn Khaldun Bogor di bidang pendidikan Islam, ada juga yang ahli fisika. Dulu ulama kita menguasai banyak cabang ilmu, kita jangan terjebak dalam nasihat-nasihat konsultan pendidikan yang mengarahkan jadi ini, tapi hanya sekadar dididik menjadi tukang di bidangnya, menguasai keilmuan secara sempit, tapi tidak mendalami ilmu yang lain. II