Pileg 2019: Pilih Makanan, Obat, atau Penyakit?

by

Tidak mudah memilih calon legislatif yang terpercaya untuk mengemban amanah mewakili kepentingan rakyat. Tipe caleg seperti apakah yang kita perlukan?

Wartapilihan.com, Depok– Setelah ditetapkan KPU, ada 7.968 orang yang tercantum dalam daftar caleg. Jumlah ini berasal dari 20 partai politik yang mengikuti Pileg 2019. Dari jumlah itu, terdapat 4.774 caleg laki-laki dan 3.194 caleg perempuan. Proporsi ini tentunya sudah memenuhi kuota 30 persen caleg perempuan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu (https://nasional.kompas.com/read/2018/09/21/09113201/infografik-serba-serbi-caleg-dpr-ri-peserta-pileg-2019-dalam-angka.)

Ada 575 kursi DPR yang akan diperebutkan. Ditangan 575 orang inilah, rakyat menaruh harapannya untuk kehidupan yang adil dan makmur. DPR adalah lembaga yang penting, simak fugsi utama DPR berikut:

  1. Fungsi Legislasi, DPR memegang kekuasaan dalam membentuk undang-undang bersama Presiden.
  2. Fungsi Anggaran, DPR membahas dan memberikan sebuah persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap sebuah rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh presiden.
  3. Fungsi Pengawasan, DPR melaksanakan sebuah pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan ABN.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya tersebut, khususnya terkait pelaksanaan fungsi pengawasan, DPR dibekali 3 (tiga) hak, yakni:

  1. Hak Interpelas

Hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

  1. Hak Angket

Hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang/kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

  1. Hak Menyatakan Pendapat

Hak DPR untuk menyatakan pendapat atas:

  • Kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional;
  • Tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket; atau dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum.

Begitu pentingnya tugas anggota DPR ini sehingga diperlukan orang-orang unggulan. Tipikal seperti apakah yang sebaiknya ada di DPR?

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali rahimahullah pernah berkata dalam kitab Bidayah al-Hidayah bahwa ada tiga macam manusia. Pertama yang diibaratkan seperti makanan, selalu dibutuhkan setiap saat. Kedua, bagaikan obat, kadang diperlukan, kadang tidak. Ketiga adalah manusia yang bagaikan penyakit. Ia sama sekali tidak dibutuhkan, tetapi terkadang digunakan untuk menguji orang lain. Perkataan Imam al-Ghazali ini bukan tanpa dasar. Malah Imam al-Ghazali mendasarkannya dari firman Allah dan sabda Nabi. Allah SWT berfirman, “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum” (Sesungguhnya orang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa). (QS. Al-Hujurat: 13). Bersabda Nabi Muhammad SAW, “Khayrunnas anfa’uhum linnas” (Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya) (HR. Imam Ahmad).

Kita tentu membutuhkan makanan, apalagi disaat sedang kelaparan. Begitu juga dengan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi orang lain. ia akan selalu dibutuhkan oleh siapapun, dimanapun, kapanpun. Ulama, guru, dan orang baik lainnya sebagai contoh kecil akan selalu dicari setiap saat untuk dimintai nasihatnya, dipelajari ilmunya, diambil manfaatnya. Tipe-tipe orang seperti mereka ini biasanya sangat dirindukan dan akan ditangisi kepergiannya ketika wafat. Mereka yang masuk ke dalam golongan ini biasanya memiliki andil yang besar dalam kehidupan. Contoh besarnya adalah Rasulullah SAW. Michael H. Hart—seorang penulis asal Amerika Serikat—lewat bukunya yang berjudul  The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History yang terbit pada tahun 1978, memilih Nabi Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Hart mengakui bahwa Rasulullah sukses menjadi pengaruh bukan hanya dalam kehidupan beragama, tetapi juga yang diluar itu. Semacam politik, sosial, perdagangan, dan lain-lain. Sampai saat ini dan mungkin seterusnya Beliau selalu dirindukan oleh umatnya lewat shalawat.

Yang kedua ini adalah manusia yang tergolong biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu tinggi level taqwa-nya—dalam artian masih khilaf terkadang—dan kemampuan yang ia miliki biasa saja. Dikatakan hebat, tidak. Dikatakan buruk pun juga tidak. Kemungkinan besar kita termasuk golongan ini. Terkadang kita dibutuhkan oleh orang, terkadang tidak juga. Tergantung waktu dan kondisi.

Tipe manusia yang ketiga ini adalah yang berbahaya. Ibarat penyakit, mereka hadir untuk diambil manfaatnya dari hikmah atas keburukan yang mereka perbuat. Dari hikmah inilah kita dapat mengambil pelajaran untuk menjauhinya. Manusia-manusia seperti Abu Jahal dan Abu Lahab pada masa Rasulullah hadir untuk menjadi pelajaran bagi kita untuk menjauhi kekafiran dan kemusyrikan yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Mereka juga menjadi pelajaran bahwa, kerabat Nabi seperti mereka sekalipun tetap menjadi kafir dan musyrik.

Sekarang, tipe yang manakah kita?  Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh pada kebaikan, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” Sudah sepatutnya kita berusaha untuk menjadi yang terbaik, seperti yang Allah firmankan. Menjadi manusia yang ibarat makanan, selalu dibutuhkan, tentu merupakan dambaan setiap orang.. Kalau pun belum mampu setidaknya kita menjadi yang kedua, ibarat obat. Jangan sampai kita menjadi golongan yang ketiga, seperti penyakit. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqi al-`Ubudiyyah berkata, “Sesungguhnya, orang yang berakal bisa melihat perubahan zaman dan menunjukkan adab sesuai zamannya.” Maka, kita harus memperdalam ilmu dan memperbaiki adab kita.

Bila kita sendiri berusaha menjadi manusia bertipe makanan atau minimal tipe obat, maka anggota DPR yang akan mewakili kepentingan kita pun harus demikian. Apa jadinya kalau orang yang mengemban tugas ini bertipe penyakit?

Di era keterbukaan informasi ini, mudah saja bagi kita untuk mengetahui rekam jejak caleg-caleg ini. Jangan cap-cip-cup atau memilih hanya karena pertimbangan emosional belaka. Semoga Allah mudahkan untuk melihat dengan jernih caleg mana yang sebaiknya kita pilih. Wallahu `alam bisshawab.

 

Muhammad Faris Ranadi

Santri PRISTAC, Ponpes AtTaqwa (www.attaqwa.id)