Politik Islam 212

by
foto:istimewa

Oleh: Iqri Sulizar, Mobile Apps Dev & Digital Preneur

Reuni akbar mujahid 212 #AksiBeliTauhid212 berakhir sudah. Berakhir dengan dengan baik, tertib, teratur. Berakhir dengan senyum bangga bahwa orang islam itu bisa membuat acara besar yang dihadiri berjuta juta orang, dengan panitia terbesar dalam sepanjang sejarah Indonesia dan mungkin dunia.

Wartapilihan.com, Jakarta —Peserta yang datangpun dari segenap penjuru negeri dengan berjalan kaki, naik mobil, bis, truk, pesawat, kereta api, motor menuju satu titik bernama MONAS di Jakarta. Peserta yang datang ada yang sudah berkendara motor beberapa hari sebelumnya, ada yang menyewa hotel seputar tempat acara karena datang dari ujung timur dan barat Indonesia, ada yang harus berangkat dari setelah magrib bagi peserta jabodetabek banten semua rela berkorban untuk menuju satu titik yang bernama MONAS.

Tak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk menuju MONAS,. Bagi peserta yang datang jauh seperti RIAU, terdengar kabar mereka menyewa pesawat. Dan kalau dilihat dari ragam moda kendaraan yang mereka gunakan, mereka datang dari berbagai kalangan pendududuk kaya dan miskin. Deretan mobil mewah peserta di jalan menteng dan sekitar menunjukkan reuni ini dihadiri juga kalangan muslim kaya.

Lantas apa yang menarik dari acara reuni akbar mujahid 212 di MONAS ? Ada magnet apa yang membuat peserta rela berkorban ? Jawabannya bisa beragam.
1. Barangkali ada pembagian nasi bungkus dan bagi bagi sembako buat peserta ? Rasanya alasan ini naif.
2. Peserta didatangkan dengan bayaran dan pulang dapat uang untuk mendukung kandidat presiden tertentu ? Alasan ini juga tak masuk akan ya, wong kemarin menggalang dana buat biaya. Berarti ya bokek lah. Tak ada pun poster kandidat dan partai tertentu yang berkibar di acara reuni akbar 212, yang ada justru bendera merah putih, al liwaa, ar raya yg banyak dan bendera ormas seperti FPI, DDII, dll.
3. Peserta datang karena merasa ada yang tidak beres dalam pengaturan negara ini, dari segala sudut terasa makin ruwet dilihat dari segala sudut. Kemudian ada persekusi ulama yang berbicara islam, pelecehan simbol simbol islam, membuat mereka datang dengan panggilan KEIMANAN.

Saya kira pilihan saya jatuh pada pilihan ketiga. Ada semacam transformasi politik besar pada muslim Indonesia, terutama pada point perlunya PERSATUAN ISLAM dalam berpolitik. Mereka sadar perlunya persatuan dalam berpolitik. Persatuan dalam ucapan saja tidaklah cukup, karena itu sama artinya dengan buaian mimpi. Persatuan itu ternyata semakin dibukakan jalan dengan ada peristiwa pembakaran bendera Tauhid pada suatu acara, kaum muslim seakan diingatkan dengan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menengakkan bendera tauhud. Masyarakat terhentak dan makin merasakan perlunya bersatu membela PANJI RASULULLAH.

Hari ini saya saksikan kibaran Ar Raya besar di sudut kanan panggung utama acara reuni 212 yang diisi oleh orang orang penting negeri ini mulai dari para Ulama, pak Anies Baswedan (gub jakarta), pak ketua MPR, pak Amien Rais, dll. Terharu melihat kibaran Ar Raya dan Al Liwa di saat peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ya proses transformasi politik muslim menemukan jati diri mereka sedang terjadi di negeri ini. Menandakan kembalinya Politik Islam ke panggung politik. Politik yang sesuai dengan ajaran Islam.

Semoga para ulama semakin intensif untuk membumikan kembali politik islam lewat dakwah dakwahnya di negeri ini. Setelah penduduk paham akan apa itu Panji Rasulullah yang harus mereka jaga dan bela, saatnya mentransformasi ide ide lainnya, karena dengan paham maka akan menerima dan menerima berarti memperjuangkannya untuk terwujud. Bukankah masyarakat terbentuk dari kesatuan pemikirian, perasaan dan aturan yang sama.

Wallahu a’lam