Prabowo dan Jokowi di Tengah Negara Punah

by
foto:istimewa

Petahana coba membangun optimisme di tengah meluasnya pesimisme. Sang penantang mengajak realistis saja. Akankah Indonesia tinggal sejarah?

“Lho… Lho… Kalau mau punah, bubar, bubar sendiri. Jangan ajak masyarakat,” seru Presiden sekaligus Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (3/2).

Ia tampaknya menyenggol pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, yang mengungkapkan Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

“Saudara-saudara. Kita masih upacara. Kita masih menyanyikan lagu kebangsaan. Kita masih pakai lambang-lambang negara. Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030,” ucap Prabowo berapi-api dalam Konferensi dan Temu Kader Nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober 2017.

Rujukan Prabowo antara lain novel fiksi karangan PW Singer dan August Cole berjudul “A Novel of the Next World War: Ghost Fleet”. Baik Singer dan Cole punya latar belakang ilmuwan politik AS. Cole menguasai kebijakan luar negeri, kebijakan dan strategi keamanan AS. Adapun Singer adalah pakar pertahanan yang pernah bekerja di lembaga think tank Brookings Institution. Area risetnya mencakup perang siber, masa depan perang, dan kebutuhan pertahanan AS.

Karena yang menulis seorang yang sangat ahli, novel ini bahkan menjadi perhatian serius petinggi militer di Amerika Serikat. James G Stavridis, pensiunan laksama angkatan laut Amerika Serikat, yang kini menjadi dekan di Tufts University jurusan hubungan internasional, menyebut buku ini (novel) merupakan cetak biru untuk memahami perang masa depan. Pemimpin militer di negeri Paman Sam itu mewajibkan para tentara membacanya.

Negara Gagal

Jared Diamond, seorang pakar biologi evolusioner, dalam bukunya Collapse (2005), memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi menuju negara gagal (the failed state). Indikasinya antara lain: rusaknya tatanan ekologi yang berdampak langsung kepada terjadinya banjir dan kekeringan, pemanasan global akibat efek rumah kaca, hubungan bilateral atau multilateral dengan negara tetangga yang tidak harmonis, rapuhnya desain sosial, buruknya penyelesaian persoalan melalui kerangka hukum, politik, ekonomi, serta melemahnya kepercayaan dan dukungan terhadap pemerintahan yang sah, terutama dari para pelaku ekonomi.

Sedangkan Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan Cortland University, AS, menyebutkan sepuluh tanda kehancuran bangsa yang kesemuanya sudah terjadi di Indonesia. Mantan presiden Asosiasi Pendidikan Moral, anggota Dewan untuk Karakter Kemitraan Pendidikan, dan penulis delapan buku tentang pengembangan karakter,

Tanda-tanda jaman dimaksud adalah: meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, pengaruh kesetiaan kelompok remaja yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya perilaku merusak diri seperti narkoba, alkohol dan seks bebas. Kemudian, semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan bagian dari sebuah bangsa, semakin rendahnya rasa hormat kepada guru dan orangtua, membudayanya ketidak jujuran, dan meningkatnya eskalasi saling curiga serta kebencian antar sesama.

Ajal Bangsa

Al Quran menginformasikan, setiap masyarakat mempunyai usianya sendiri. ‘’Setiap masyarakat punya ajal’’ (QS. Al A’raf [7]: 34). Pada era kenabian, usia masyarakat berakhir dengan kebinasaan secara fisik akibat bencana kiriman Tuhan.

Menurut pakar tafsir Quraish Shihab, salah satu hukum kemasyarakatan adalah bila satu kelompok masyarakat telah mencapai puncak  kebejatannya,  maka mereka  sebagai  satu  kelompok  tidak lama lagi akan binasa.

Bangsa pertama yang dibinasakan secara massal adalah kaum Nabi Nuh. Allah memusnahkan mereka dengan mendatangkan banjir bandang nan besar (Surat Al-A’raaf ayat 64).

Kaum Nabi Luth yang menghuni kota Sodom, mengabaikan nabinya yang menyeru agar bangsa ini menghentikan budaya sodomi. Akibatnya, bumi mereka berpijak diangkat dan dibalikkan, sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Quran Surat Huud: 82.

Bangsa ‘Ad, pada zamannya (sekitar 3000 SM) terkenal sangat maju. Quran Surat al-Fajr: 7-8 melukiskan keadaan bangsa ‘Ad, yang hidup di gedung-gedung tinggi (dzatil imad), yang belum pernah ada tandingannya di negeri-negeri lain (lam yuhlak mitsula fil biladi).

Kepada bangsa ‘Ad, Allah swt mengutus Nabi Hud untuk menuntun ke jalan takwa. Tapi, bangsa ‘Ad membangkang. Mereka merasa punya kekuatan, kekayaan, kemasyhuran sehingga tidak perlu memedulikan ajakan dari orang sederhana seperti Hud. Mereka menyombongkan kekuatan sebagai superpower, dengan menepuk dada seraya berkata, ‘’Man asyaddu minna quwwatan? (Siapa lebih kuat dari kami?) (QS. Fushilat: 15). Mereka juga suka menindas dan menyiksa bangsa lain di luar batas perikemanusiaan (QS. Asy Syuara: 130).

Nabi Hud As mempertanyakan sikap mereka yang atheis materialistis, ‘’Afala tattaqun? (Mengapa kalian tak bertakwa kepada Allah?) (QS. Al A’raaf: 65). Namun Kaum ‘Ad lebih suka menyembah tuhan lain di kuil megah di ibukota Iram.

Keangkuhan Bangsa ‘Ad berakhir, bukan oleh serangan pasukan militer atau krisis ekonomi. Tapi ‘’sekadar’’ oleh hembusan angin dingin selama tujuh malam delapan hari yang mematikan semuanya, yang dikirim Allah swt: “Demikianlah Kami memberi balasan kepada bangsa yang berdosa” (QS. Al Ahqaaf: 25).

Kaum Tsamud adalah kaum yang mengingkari ajaran Nabi Shalih, bahkan mereka menyembelih unta betina yang merupakan mu’jizat Nabi Shalih, lalu menantang kedatangan adzab buat mereka.

Tantangan itu dijawab Allah dengan menimpakan gempa dahsyat atas mereka. “Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (Surat Al-A’raaf ayat 78). Pada ayat lain dikatakan, Allah juga mengirimkan bencana petir yang dahsyat (QS. Fushilat: 17).

Masih menurut Quraish, kehancuran satu masyarakat tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya. Bahkan boleh jadi mereka semua secara  individual tetap  hidup.  Namun,  kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat   berubah   total,   digantikan   oleh kekuasaan, pandangan, dan kebijakan yang berbeda dengan sebelumnya. Punahnya Yugoslavia, bubarnya USSR, bangkrutnya Yunani, sekadar contoh kematian bangsa di era modern.

Dalam bahasa Fazlur Rahman (Major Themes of Al Quran, 1981), Tuhan lebih suka membersihkan lembaran-lembaran sejarah dan menciptakan suatu permulaan peradaban baru ketimbang menolerir suatu simbiosis antara yang dekaden dan yang tegap. Ini misalnya diungkapkan dalam QS. 6:6, 33:27, 28:5, 7:128,137, 39:74, dan QS. 44:28.