Pro Kontra Imunisasi

by

Oleh : Siti Karomah, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi sebenarnya sudah lama digunakan, namun seiring berjalannya waktu dengan adanya imunisasi, isu ketidakhalalan dilakukan imunisasi mulailah muncul.

Wartapilihan.com, Jakarta –Banyak dari masyarakat yang melihat dan mengalami bahwa orang yang sudah diimunisasi tetap saja masih terpapar penyakit. Banyak ibu yang mengeluh tentang anaknya setelah diimunisasi malah demam dan sakit, ada pula yang mengalami radang. Berdasarkan fenomena ini, benarkah imunisasi memang berguna dan meningkatkan daya tahan tubuh? Jika benar, mengapa ada orang yang justru sakit setelah diimunisasi? Lalu apakah yang sebaiknya dilakukan? Mungkin itulah pertanyaan yang terbesit bagi sebagian masyarakat.

Dalam hal ini para orang tua semakin was-was untuk memberikan imunisasi kepada anaknya karena takut akan terjadi sesuatu yang memungkinkan para orang tua semakin menjauhi imunisasi. Padahal pada dasarnya imunisasi tidaklah merugikan bagi tubuh. Secara umum keluarga yang memiliki balita telah mendapatkan imunisasi baik di layanan kesehatan atau melalui posyandu. Namun disisi lain, terdapat pula masyarakat yang tidak atau hanya setengah saja memberikan imunisasi kepada anaknya karena ketakutan masyarakat mengenai imunisasi.

Pro dan kontra terus berlanjut dari tahun ke tahun. Fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 mengenai imunisasi bahwa hukum dari imunisasi adalah mubah atau boleh, dari pemerintah sendiri imunisasi sebenarnya sudah diperbolehkan. Akan tetapi pandangan dari masyarakat imunisasi tetaplah haram karena kandungan dari vaksin yang dipakai untuk imunisasi terkandung enzim babi didalamnya. Masyarakat beranggapan pemberian imunisasi meskipun timbal baliknya menguntungkan, apabila didalamnya terkandung barang haram tetap bersikeras untuk menolak. Pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat bahwasanya imunisasi dilakukan untuk kebaikan rakyatnya agar rakyatnya jauh dari penyakit yang parah atau mematikan.

Apa salahnya jika mencegah penyakit yang kemungkinan bisa terpapar pada tubuh, akibatnya juga tidak merugikan bagi tubuh. Pemerintah tetap mengupayakan adanya imunisasi ini tetap berlanjut bahwa pihak yang berwajib sudah mencantumkan pada Permenkes No. 42/2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Hidup sehat adalah hak setiap manusia. Untuk itu, Menkes meminta agar setiap orang baik bayi ataupun sudah dewasa mendapatkan imunisasi. Pemerintah ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas dikemudian hari. Pemerintah sudah mencoba untuk bertindak tegas terhadap rakyatnya dengan mengeluarkan peraturan kesehatan mengenai imunisasi, akan tetapi keyakinan masyarakat masih sulit ditangani.

Proses pembuatan vaksin amatlah kompleks. Enzim tripsin babi digunakan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Kuman tersebut setelah dibiakkan kemudian dilakukan fermentasi dan diambil polisakarida sebagai antigen bahan pembentuk vaksin. Selanjutnya dilakukan proses purifikasi, yang mencapai pengenceran 1/67,5 milyar kali sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Pada hasil akhir proses sama sekali tidak bersinggungan dengan babi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian isu bahwa vaksin mengandung babi menjadi sangat tidak relevan dan isu semacam itu timbul karena persepsi yang keliru. Setelah dilakukannya imunisasi memang sebagian orang akan mengalami sakit seperti demam. Ketika diimunisasi, tubuh akan dimasukkan vaksin yang sudah jinak. Kemudian, tubuh akan memproduksi sebuah respon imun dengan cara yang sama seperti ketika tubuh sedang terkena penyakit, tetapi tanpa tubuh menunjukkan gejala penyakit tersebut.

Dan ketika tubuh terpapar penyakit yang sama di masa datang, sistem imun tersebut dapat merespon dengan cepat untuk mencegah penyakit tersebut berkembang. Saat membentuk respon imun setelah diimunisasi inilah tubuh memberikan respon seperti demam, gatal, radang, dan nyeri pada bekas suntikan. Tubuh membentuk sistem kekebalan tubuh baru gabungan dari vaksin imunisasi yang dimasukkan kedalam tubuh, sehingga menyebabkan suhu tubuh meningkat atau demam. Namun, tidak semua imunisasi memberikan respon demam, beberapa mungkin menyebabkan demam seperti imunisasi campak dan DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus). Tidak semua orang mengalami respon demam karena respon dari setiap tubuh itu berbeda-beda.

Apabila imunisasi ini tidak dilakukan maka bisa berdampak pada penularan penyakit, kecacatan, dan kematian yang tinggi. Nah, dari sini yang harus dilakukan sebelum melakukan imunisasi yaitu selalu beritahu tenaga kesehatan yang bersangkutan jika memiliki alergi atau pernah mengalami reaksi alergi terhadap vaksin sebelumnya. Karena akan ada kemungkinan seseorang bisa alergi terhadap vaksin, tapi sangatlah langka bagi kebanyakan orang. Selain itu, vaksin hanya bisa diberikan pada tubuh yang sedang dalam keadaan sehat, jika tetap diberikan pada orang yang sedang sakit, respon dari vaksin sendiri hanya sedikit tergantung pada jenis vaksinnya.

Para orang tua tak perlu khawatir karena efek dari imunisasi tidak berlangsung lama, hanya beberapa hari saja tergantung pada respon tubuh. Jika terjadi demam, bisa memberikan kompres hangat pada bagian ketiak dan paha, penurunan suhu yang cepat di kompres hangat pada bagian ketiak. Betapa pentingnya imunisasi ini dilakukan untuk mempertahankan tubuh kita dari berbagai penyakit, dari uraian diatas tidak perlu ada yang dikhawatirkan mengenai imunisasi karena aman dan tidak berbahaya jika pemberiannya sudah tepat. II