Propaganda Lewat Semburan Kebohongan atau Kebenaran?

by

Di pilpres Amerika semua survey menjagokan Hillary Clinton, namun ada peneliti yang menyatakan Trump bakal menang berdasarkan penelitian Big data dalam google trends.

WartaPilihan.com,Depok—Demikian cuitan akun @AndiArif__ mengomentari berita yang dimuat laman kitakini.news yang menurunkan berita berjudul: Data Google Trends Pekan Ini, Popularitas Prabowo Ungguli Jokowi.  Disebutkan bahwa berdasarkan pantauan data google trend satu minggu terakhir menunjukkan popularitas pencarian pasangan Prabowo-Sandi Uno lebih unggul dari pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Data ini diambil pada hari Jumat (8/2/2019) Pukul 15.49 WIB untuk periode 7 hari terakhir, mulai tanggal 1 Januari 2019 pukul 15.49 WIB hingga tanggal 8 Februari 2019 Pukul 15.49 WIB.  Selengkapnya silakan klik: https://kitakini.news/7734/data-google-trends-pekan-ini-popularitas-prabowo-ungguli-jokowi/

Apakah keunggulan di google trend ini bisa berdampak sama di Pilpres disini? Beberapa faktor mungkin berbeda dengan  Amerika. Baik dari sisi perilaku warga Amerika sendiri maupun sistem yang digunakan.

 

Seorang kawan yang berkecimpung di dunia jurnalistik memberikan opininya. Menurutnya, ada perbedaan sistem pemilihan presiden di Amerika dan Indonesia. Di Amerika sistemnya pemilih memilih perwakilan. Tiap negara bagian beda-beda jumlah perwakilannya. Sistem ini menetapkan, siapa pemenang di suatu negara bagian, berhak mengambil seluruh kursi yang ada (take all them).

“Kalau dari total suara dihitung perorangan atau popular vote,  Hillary menang. Tapi jumlah perwakilannnya Hillary kalah.  Jadi Hillary kalah strategi dalam merebut perwakilan. Dan di Amerika Trump ‘dibantu’ maraknya fake news”.

Fake News adalah berita palsu yang sengaja diproduksi untuk melemahkan lawan. Suara Hillary melorot dihantam fake news. Bahkan 3 hari sebelum pilpres dihantam fakenewa bahwa Hillary dipanggil Senat setelah emailnya dibongkar. Fakenews itu tidak bisa diantisipasi dalam 3 hari. Demikian sang kawan menambahkan.

Dari jurnal The American Economic Review, Vol. 31, No. 2, Journal of Economic Perpectives pp. 211-236, yang ditulis Hunt Allcott and Matthew Gentzkow, Pada Pemilihan Presiden US 2016, Fake news/ Hoax/ berita bohong menjadi perhatian utama yang tersebar di media social. Bukti terbaru mengatakan bahwa:

  • 62% orang dewasa mendapatkan berita dari sosial media (Gottfried and Shearer 2016);
  • Berita bohong lebih banyak dibagikan di Facebook daripada berita utama yang paling populer (Silverman 2016);
  • Banyak orang yang melihat berita palsu melaporkan bahwa mereka mempercayainya (Silverman dan Singer-Vine 2016); dan
  • Berita palsu yang paling sering dibahas cenderung mendukung Donald Trump atas Hillary Clinton (Silverman 2016). Dengan mengumpulkan fakta-fakta ini, sejumlah komentator menyatakan bahwa Donald Trump tidak akan terpilih sebagai presiden jika bukan karena pengaruh berita palsu (untuk contoh, lihat Parkinson 2016; Baca 2016; Dewey 2016).

 

Kemenangan Trump dibantu juga dengan alat bantu dari Konsultan Cambridge Analytica yang bisa membuat kampanye dengan ‘micro targeting’. Dengan teknik ini, setiap orang akan melihat informasi/iklan yang berbeda. Trump menggabungkan fitur ini dengan analisis Cambridge Analytica. Cambridge Analytica bisa memprofile orang menjadi beberapa kelompok. Sehingga cara kampanye bisa spesifik pada masing-masing kelompok ini. Misalnya untuk orang kelompok konservatif, saat kampanye agar dia mendukung Trump, akan dibikinkan iklan yang beda dengan yg lain, yakni bahwa Trump bisa membuat Amerika ‘Great Again’. Beda iklan bila untuk orang kelompok bisnis: iklannya soal pemotongan pajak dan sejenisnya. Jadi iklan spesifik dibuat sesuai karakter kelompok.

Bagaimana dengan situasi di Indonesia? Kawan saya kembali memberikan opininya.

Dalam soal pilpres/pilkada Indonesian, lebih ‘advance’ ketimbang Amerika dalam soal perang di sosmed. Di Amerika, ‘hype’ perang di facebook baru terjadi di era Trump. Di Indonesia sudah terjadi di era Jokowi maju pilpres 2014.

Era Pilkada, yang paling seru tentunya saja pilkada gubernur DKI. Ini sering disebut orang Pilkada rasa Pilpres.  Pilkada DKI 2016, bersaing Basuki Tjahaya Purnama vs Anies Baswedan. Trend di Facebook tak bisa sepenuhnya jadi patokan. Karena di Facebook kalem, di whatsapp kenceng.  Yg terjadi, pendukung Ahok merasa menang di sosmed, tapi lupa gerakan 212 membuktikan adanya gerakan arus bawah di whatsapp.

“Trend whatsapp sejauh ini blm bisa dimonitor. Kalau bisa memonitor ini, dan ada alat untuk mempengaruhinya, akan dahsyat pengaruhnya’, imbuh Sang Jurnalis menerawang.

Seoarang kawan lain, Pengusaha properti sukses yang berkecimpung juga di dunia ‘Startup’ berpendapat, WhatsApp bukan sepenuhnya mesin medsos, tapi merupakan perpanjangan dari simpul-simpul tokoh dan pengikutnya atau komunitas-komunitas dengan kohesivitas dan ‘trust building’ yg dibangun di alam nyata bukan alam maya.

Rupanya setiap ajang kontestasi diperlukan berbagai cara yang terintegrasi. Tidak mungin hanya menggunakan satu cara. Yang memanfaatkan teknologi sampai yang sangat tradisional harus ditempuh. Istilahnya, menggabungkan serangan dari bebagai saluran: udara, darat, laut, dan dari hati ke hati. Wallahu A’lam

Abu Faris,
Praktisi Media sosial tinggal di Depok
https://www.linkedin.com/in/kus-kusnadi-42214635/