Relawan Salurkan Logistik Sampai Kaki Gunung

by
Aktivitas relawan LAZIS Wahdah di Desa Rogi, Kec. Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Istimewa.

Akibat ratusan bangunan yang rusak terdampak gempa, warga harus mengungsi di bawah kaki gunung Desa Rogi.

Wartapilihan.com, Sigi — Relawan Wahdah Peduli bersama LAZIS Wahdah kembali menyalurkan bantuan logistik ke daerah-daerah terdampak gempa, salah satunya di Desa Rogi, Kec. Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Sejumlah 20 relawan memasuki desa yang berada di kaki gunung ini, bersama satu tim Trauma Healing.

“Kondisi desa ketika penyaluran terguyur hujan, sehingga semakin menambah semangat kami untuk memberikan kebahagiaan bagi warga,” ujar relawan Wahdah Peduli Rustam Hafid dalam keterangan tertulis yang diterima Wartapilihan.com, Kamis (11/10).

Menariknya, penyaluran logistik ini diawali dengan Trauma Healing oleh Ustaz Masdin Udu, kepada seluruh warga yang akan menerima bantuan.

“Trauma Healing ini dimaksudkan untuk mengembalikan semangat dan ruhiyah warga terdampak gempa agar kebutuhan Ruhani warga juga terpenuhi selain kebutuhan raga,” tutur Ustaz Masdin.

Dalam penyampaiannya, Ustadz asal Belopa, Luwuk Utara ini berpesan, bencana ini merupakan bukti kasih sayang Allah Ta’ala kepada seluruh warga, karena Ujian sejatinya adalah fase peningkatan derajat.

“Maka kita jadikan bencana ini sebagai momen untuk meningkatkan keimanan kita,” tukasnya kepada puluhan warga yang hadir.

Setelahnya, logistik disalurkan kepada warga desa yang memiliki 700 jiwa ini. Bantuan diterima langsung oleh Ketua Pemuda Desa setempat, Ikhsan Idris Sunusi.

Ikhsan mengungkapkan, jumlah rumah yang rusak berat di Desa Rogi berjumlah 409 buah. Kondisi ini menyebabkan warga harus menghuni tenda-tenda pengungsian di kaki-kaki gunung.

“Menjadi kendala utama kami adalah logistik makanan. Maka dari bantuan ini, kami berterima kasih kepada Wahdah Peduli, hanya doa yg bisa kami berikan, semoga selamat ketika kembali nanti,” ujarnya.

Kerugian infrastruktur ditaksir mencapai Rp773,2 miliyar

Penanganan bencana yang terjadi di Indonesia pada dasarnya merupakan tanggung jawab semua pihak. Salah satu institusi yang memiliki peran penting dalam konteks ini adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Ketua BAZNAS Bambang Soedibyo menjelaskan bahwa peran BAZNAS yang dilakukan diawali dengan fase rescue (upaya penyelamatan secara cepat dan tepat), relief (bantuan kebutuhan dasar untuk mengembalikan kemandirian korban), recovery (pengembalian keadaan sebelum terjadi bencana) dan reconstruction (pembangunan kembali sarana prasarana yang rusak akibat bencana).

“Pada saat terjadi bencana, masyarakat yang terdampak akan kehilangan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Asset-asset pribadi maupun umum yang rusak akibat bencana akan menghalangi produktivitas mereka dalam melakukan berbagai hal, misalnya dari segi ekonomi,” ujar Bambang di Jakarta, Kamis (11/10).

Oleh sebab itu, ungkapnya, mereka pun dapat dikategorikan sebagai ashnaf fakir dan berhak untuk mendapatkan zakat. “Selain dapat diberikan uang zakat, para masyarakat terdampak bencana juga bisa diberikan bantuan dari uang infaq dan sedekah yang ada di BAZNAS,” katanya.

Sementara, Direktur Pusat Kajian Strategis BAZNAS (Puskas BAZNAS) Irfan Syauqi Beik, menjelaskan mengenai perhitungan kerugian infrastruktur dan pemetaan potensi kerugian terbesar pada sektor ekonomi di wilayah terdampak yang dialami oleh Palu-Donggala.

“Untuk Kota Palu, estimasi kerugian infrastruktur senilai 23,9T. Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu industri (48% di Kecamatan Mantikulore), peternakan (39% di Kecamatan Palu Utara) dan Hortikultura (40% di Kecamatan Tawaeli). Potensi infrastruktur kesehatan terdampak paling besar di Kecamatan Mantikulore (23%) dan infrastruktur pendidikan di Kecamatan Palu Timur (19%),” paparnya.

Irfan menjelaskan, untuk Kabupaten Donggala estimasi kerugian infrastruktur senilai 773,2 M. Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu perkebunan (38% di Kecamatan Sindue Tambusabora), peternakan (23% di Kecamatan Dampelas), hortikultura buah-buahan (32% di Kecamatan Sindue Tobata) dan Hortikultura sayur-sayuran (30% di Kecamatan Tanantovea). Potensi infrastruktur kesehatan dan infrastruktur pendidikan terbesar di Kecamatan Banawa Selatan (12%).

“Dengan adanya analisis dampak ekonomi bencana ini, maka diharapkan hal tersebut akan memberikan panduan bagi BAZNAS untuk mendesain program intervensi dalam rangka pemulihan perekonomian lokal, baik di Palu-Donggala maupun di Lombok,” tandasnya.

Adi Prawira