Resensi Film: Hichiki, Karena Menjadi Murid itu Sulit

by

Kalau dalam dunia militer dikenal ungkapan: tidak ada prajurit yang salah, maka di dunia pendidikan dikenal juga ungkapan: tidak ada murid yang buruk, yang ada Guru yang buruk.

Wartapilihan.com, Depok– Ungkapan lain yang menarik di dunia pendidikan: Mudah untuk jadi Guru, yang sulit itu menjadi Murid. Ungkapan-ungkapan di dunia pendidikan diatas dapat disaksikan visualisasinya di Film berjudul: Hichiki, produksi tahun 2018.

Hichiki, film Bollywood terbaru yang dibintangi Rani Mukerji ini mengisahkan tentang Naina Mathur, seorang wanita cantik yang menderita penyakit langka bernama Tourette Syndrome. Penyakit ini membuat penderitanya sering mengalami cegukan. Menurut beberapa penggemar film, ini film adaptasi dari Front of the class (2008), hanya tokohnya laki-laki, bule tentu…diambil dari kisah nyata. Hichiki adalah adapatasi versi Bollywood

Kisah dimulai sang tokoh, Naina yang mencoba mencari kerja di berbagai tempat namun selalu berakhir dengan tolakan. Sampai akhirnya, ia diterima sebagai staf pengajar di sebuah sekolah elit, St. Notker’s. Namun, kelas yang harus diajarnya ternyata berisi para murid paling nakal dan pemberontak di sekolah tersebut.

Murid 9F, begitu kelas ini dipanggil, sesuai ruangannya, aslinya adalah anak-anak dari kalangan miskin yang terjebak didalam sekolah elite. Ini terjadi seperti tukar guling lahan sekolah negeri mereka menjadi milik St Notkers, asal siswa sekolah negerinya ditampung. Jadilah mereka sekelompok siswa yang beda kasta, beda perlakuan.

Perbedaan perlakuan ini, membuat mereka bertingkah ala pembuat onar. Bahkan Bu Naina ini tak lepas dari keisengan mereka. Bayangkan, mereka membuat poster berisi nomor HP Bu Naina sebagai ‘wanita panggilan’. Poster ini ditempelkan di tempat-tempat umum. “Feeling Lonely? Call Naina Mathur”, begitulah isi poster-poster itu. Keisengan yang standar di sekolah tentu saja ada: kursi patah, bom molotov, bensin motornya dikuras.

Apakah kenakalan anak-anak ini membuat Bu Naina mundur? Tentu saja tidak. Film ini dibuat tidak untuk menunjukkan itu, bukan?

Serangkaian kenakalan itu malah mengubah persefsi si Ibu Guru terhadap murid 9F. Beliau melihat, semua kenakalan itu memerlukan kecerdasan. Planning, preparation, management aksi, semua diperlukan supaya kenakalan itu terjadi. Hanya saja, kecerdasan ini disalurkan dengan cara yang salah.

Berjuanglah si Ibu Guru untuk memaksimalkan potensi para anak didiknya. Mulai dengan pencerahan, motivasi, metode ajar yang beda, mengenal lebih jauh keseharian mereka dan membersamai murid-murid terkasihnya ini. Ketulusan dan kesungguhan Bu Naina yang ingin mengantar murid 9F menjadi murid sukses, berbuah pada akhirnya.

Film ini pantas ditonton untuk Anda yang mengajar, Anda yang belajar, Anda yang suka dengan orang yang mengajar/belajar.

Yang berminat menonton film ini, dimana bisa menyaksikannya? Di era digital seperti sekarang, penulis yakin Anda akan dengan mudah menemukan jawabanya. Silakan kreatif. Ada Mbah Google yang bisa diajak mencari. Wallahu A’lam

Abu Faris,
Praktisi Media sosial tinggal di Depok
https://www.linkedin.com/in/kus-kusnadi-42214635/

Sumber bacaan:
https://1.bp.blogspot.com/