Saksi Sejarah: Merah Putih Tauhid Pernah Dipasang Hizbullah di Bambu Runcing

by
Pak Aziz: Foto AKun Facebook Ibnu Dawam Aziz

Wartapilihan.com, Depok – Lelaki itu sudah berumur. Janggutnya berwarna putih dan senyumnya merekah. Ia adalah Ibnu Dawam Aziz. Pria kelahiran Magelang 69 tahun silam ini mendadak ramai diperbincangkan setelah membuat Surat ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Tulisan itu dibuat sebagai respon atas kriminalisasi bendera berlafazh tauhid dalam aksi bela ulama. Sang pembawa bendera, Nurul Fahmi, kemudian diringkus kepolisian pada Kamis (19/1) dan dijerat dengan Pasal 66 jo 24 subsider 67 Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Menurut Pak Aziz, biasa beliau disapa, bendera yang dibawa Nurul Fahmi persis dengan bendera yang dibawa laskar Hizbullah saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sewaktu kecil ia biasa diceritakan oleh pakdhe dan ibunya tentang perjuangan bangsa Indonesia, terutama mengenai Hizbullah.

“Saya memang tidak merasakan dan ikut berjuang. Tapi, saya sering diceritakan mengenai para pejuang Hizbullah, ibaratnya sudah ‘mutawatir’,” kata pemilik nama aseli Multazam Fikri ini saat berbincang dengan Warta Pilihan, Selasa lalu (25/1) di Depok.

Pak Aziz menceritakan, para pejuang di masa itu sering menaruh bendera merah-putih di bambu runcing sebagai senjata. Namun, bendera tersebut tidak hanya berwarna merah-putih, tetapi juga bertuliskan kalimat tauhid.

Menurut Pak Aziz, tak mungkin pada waktu itu memasang bendera tauhid dan bendera merah putih di bambu runcing secara bersamaan.

“Jadi, di bambu runcing itu dipasang bendera merah-putih, lalu dituliskan lafaz tauhid. Karena ndak mungkin dipasang dua bendera,” imbuhnya.

Lebih lanjut Pak Aziz mengisahkan, para pejuang memilki motivasi tersendiri memasang bendera tauhid berbarengan dengan bendera merah putih.

“Kalau cuma bendera merah putih itu ndak marem (tidak puas),” lanjutnya. “Karena mereka juga berjuang berdasarkan keyakinan agama, makanya dikasih tulisan tauhid.”

Ketika ditanya mengenai perbedaan tulisan tauhid di bendera merah putih, pensiunan BKKBN ini menjelaskan banyak sekali ragam tulisan tauhid yang dibawa pejuang.

“Variasi tulisan tauhid di bendera merah putih banyak kok,” imbuh anak dari ulama Mohammad Dawam ini.

Pak Aziz yakin, perbuatan Nurul Fahmi meletakkan kalimat tauhid pada bendera merah-putih tidak dilandasi dengan niat kebencian, tetapi bentuk kecintaan terhadap bangsa Indonesia dan agama Islam.

Di akhir perbincangan, Pak Aziz berharap umat Islam bersatu agar tidak terus dipojokkan.

Dalam catatan sejarah, bendera merah putih yang dituliskan lafaz tauhid dipakai oleh Laskar Hizbullah dan Sabilillah saat berjuang. K.H. Wahid Hasyim bersama tokoh Masyumi membuat Laskar Hizbullah sebagai kelompok pemuda paramiliter. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air dan agama Islam. |

Reporter: Muja Adzim

Redaksi: Pizaro