Sanksi Atas Perdagangan Manusia Rohingya

by

Pejabat militer Thailand didakwa terlibat dalam perdagangan manusia setelah sebelumnya ditemukan kuburan massal etnis Rohingya di perbatasan Thailand-Malaysia.

Wartapilihan.com, Thailand – Pengadilan di Thailand telah mengeluarkan vonis bersalah atas perdagangan manusia selama krisis pengungsi Rohingya tahun 2015. Lebih dari 100 terdakwa diadili atas tuduhan termasuk perdagangan manusia, penculikan, dan pembunuhan.

Menghadapi penindasan yang parah di Myanmar, Muslim Rohingya telah bertahun-tahun melarikan diri dari negara tersebut dengan membayar penyelundup manusia untuk membantu mereka keluar.

Pada tahun 2015, ribuan orang terdampar di laut dan ditinggalkan di kamp-kamp hutan.

Krisis meningkat setelah tekanan internasional memaksa pihak berwenang Thailand menindak jaringan penyelundupan.

Hal tersebut menyebabkan para penyelundup meninggalkan para pengungsi dan membiarkan mereka berada di jalur laut dan darat tanpa negara tetangga yang mau membawa mereka masuk.

Peradilan tersebut dipicu oleh ditemukannya kuburan massal pengungsi di kamp-kamp hutan dekat perbatasan Thailand-Malaysia.

Sebagian besar yang didakwa berasal dari Thailand, namun beberapa warga Myanmar (juga disebut Burma) dan Bangladesh juga ditahan.

Di antara terdakwa adalah seorang pejabat tinggi militer Thailand, Letnan Jenderal Manas Kongpan.

Seorang polisi senior yang memimpin penyelidikan perdagangan manusia di Thailand, Mayor Jenderal Paween Pongsirin, melarikan diri ke Australia karena takut hidupnya berbahaya dari tokoh-tokoh berpengaruh yang terlibat dalam perdagangan manusia di negaranya.

Warga Rohingya, kelompok etnis Muslim yang tidak diakui kewarganegaraannya, telah melarikan diri dari Myanmar selama beberapa dekade ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang menjadi tujuan yang paling dikehendaki.

Sementara mereka mengatakan bahwa mereka adalah keturunan pedagang Arab yang telah berada di wilayah ini selama beberapa generasi, pemerintah Myanmar bersikeras bahwa mereka bukan kelompok etnis asli melainkan migran Bengali.

Di antara para pengungsi yang terdampar selama krisis tahun 2015 juga banyak migran ekonomi dari negara tetangga Bangladesh.

Moedja Adzim