Sekolah Diliburkan Untuk Asian Games?

by
foto:http://assets.akurat.co/

Pemerintah berencana meliburkan sekolah untuk membantu kelancaran lalu lintas Asian Games yang akan berlangsung pada 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018. Setidaknya ada 9 hari belajar yang akan jadi hari libur bagi anak-anak sekolah selama acara Asian Games tersebut.

Wartapilihan.com, Jakarta –Menanggapi hal tersebut, Azas Tigor Nainggolan selaku Analis Kebijakan Transportasi mengemukakan, kemacetan lalu lintas di perkotaan memang sebuah tantangan bagi pemerintah yang menjadi panitia Asian Games tersebut.

“Tantangan itu jelas berat dan harus dipenuhi di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta yang sudah akut ini,” tutur Azas, kepada Warta Pilihan, Kamis, (19/4/2018), di Jakarta.

Dalam Asian Games, Azas menjelaskan, memang ditetapkan standar waktu perjalanan bagi atlit selama acara adalah 30 menit. Pengalaman banyak negara di Asia yang pernah menjadi panitia Asian Games juga mesti membuat kebijakan pengendalian dan rekayasa lalu lintas demi terpenuhi standar lalu lintas tersebut.

“Memecahkan masalah kemacetan sebenarnya adalah tuntutan hak bagi warga dalam bertransportasi yang harus dipenuhi pemerintahnya. Tuntutan mecahkan masalah kemacetan seharusnya bukan sekedar untuk tuntutan standar lalu lintas Asian Games,”

Terlebih lagi, dalam hal meliburkan sekolah anak menurut Azas artinya pemerintah menempatkan masalah lalu lintas anak sekolah sebagai sumber kemacetan utamalalu lintas di Jakarta dan sekitarnya, hingga perlu meliburkan sekolah.

“Pertanyaannya, apakah memang benar proses belajar ke sekolah menjadi sebab utama kemacetan di Jakarta dan sekitarnya? Seberapa besar kontribusi lalu lintas anak ke sekolah menyumbang kemacetan lalu lintas? Apakah memang perlu meliburkan proses belajar mengajar sekolah diliburkan untuk alasan kelancaran lalu lintas Asian Games?” Ia pun bertanya-tanya.

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) ini menegaskan, pendidikan adalah sebuah kegiatan yang penting untuk mempersiapkan anak-anak yang adalah masa depan bangsa agar bertumbuh dengan dengan baik karena mendapatkan asupan pendidikan yang baik, konsisten dan bermutu untuk masa depan anak- anak dan bangsa.

Maka dari itu, ia mengharapkan, pihak sekolah atau pun guru bisa membangun alternatif pendidikan atau kegiatan mendidik bagi si anak menggunakan kegiatan Asian Games untuk mendidik dan membangun karakter anak.

“Melihat model alternatif pendidikan yang dapat dilakukan selama Asian Games seharusnya anak-anak tidak perlu diliburkan jika pemerintah telah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya,” tukasnya.

Azas menekankan, Indonesia perlu belajar dari pengalaman Cina yang pernah menjadi panitia Asian Games justru menjadikan momen Asian Games untuk memperbaiki suatu masalah kemacetan di kotanya secara nasional.

Salah satu cara pengendalian yang dilakukan adalah menaikkan tarif parkir hingga tiga kali dari sebelumnya dan membatasi ruang parkir bagi kendaraan bermotor pribadi.

“Nah, untuk Indonesia sebenarnya bisa saja menjadikan Asian Games menjadi momen memperbaiki kemacetan Jakarta dan sekitarnya,”

Cara pengendalian yang dilakukan, misalnya bisa dengan mengendalikan kendaraan pribadi tidak boleh lewat pada koridor jalan di lokasi-lokasi Asian Games.

“Dapat juga dilakukan dengan melarang dan menghapuskan parkir di badan jalan (on street) sebagaimana di atur oleh UU agar meningkatkan kapasitas jalan. Sekarang kita serahkan kepada pemerintah untuk memilih dan membuat kebijakan yang bijaksana untuk kepentingan bangsa ini dan kepentingan perhelatan Asian Games,” pungkasnya.

 

Eveline Ramadhini