Sekolah Khusus Orangtua

by
Para orangtua yang menemani anak-anaknya membersihkan sampah di sungai Ciliwung, Depok, Ahad, (22/4/2018).

Orangtua yang biasanya mencarikan sekolah untuk anak. Tetapi, di SDA Kampung Sawah Depok, ada sekolah khusus untuk orangtua. Bagaimana sekolah tersebut?

Wartapilihan.com, Depok – Tuntutan zaman yang semakin kompleks membuat para orangtua milenial harus menyiapkan bekal untuk mendidik anaknya. Salah satunya di kawasan Depok. Tidak hanya anak yang disekolahkan di sini, tetapi para orangtuanya wajib mengikuti kurikulum khusus untuk orangtua, yaitu pendidikan berbasis fithrah. Berikut cuplikan wawancara Warta Pilihan bersama Yuli Pinasthi, penggagas sekolah Kampung Sawah Ini.

Sekolah untuk orangtua ini sudah ada sejak kapan?

Untuk sekolah Kampung Sawahnya sudah dua angkatan. Sekarang baru kelas dua, tetapi sekolah untuk orangtuanya baru angkatan pertama.

Apa yang diusung dari Sekolah Parents ini?

Di Parent School, orangtua menerima materi tentang pendidikan berbasis fitrah, kami hendak mengembalikan pendidikan ke fitrahnya, orangtua harus belajar, tidak hanya anaknya. Belajar dulu, setelah itu mengasuh anak di rumah jadi lebih rileks, dan paling tidak orangtua menerima bahwa setiap anak unik. Kami melakukan ini dengan harapan, orangtua tidak menitipkan obsesi mereka kepada anaknya.

Dari siapakah Anda terinspirasi mendirikan sekolah parents ini?

Saya dulu muridnya Pak Harry Santosa. Sekolah ini juga dibimbing Pak Harry Santosa, saya muridnya beliau. Beliau sebagai salah satu pemateri utama, dengan beberapa teman lain yang juga punya kapasitas di bidangnya masing-masing.

Bagaimana sistem pembelajaran orangtua di sekolah ini?

Dalam mengikuti sekolah ini, harus ada kehadiran orangtua. Jika tidak hadir, harus mengulang di tahun berikutnya. Cara mengajak para orangtua, kalau mau sekolah di kami pada intinya harus bekerja sama, hayuk bareng-bareng. Kalau sekolah itu kan mencari sahabat ya, jadi kami menyamakan visi misi dulu. Jika orangtua nyaman, support, kami jalani.
Kami pun disini yang dites bukan anaknya tapi orangtuanya. Maka orangtua di sini setuju untuk menjadi partner. Karena tugas mendidik yang utama adalah di rumah, kami hanya supporter. Sekolah itu sebatas pengajaran, tapi kalau pendidikan itu di rumah. Kalau mau anaknya progress-nya bagus, pengasuhan antara sekolah dan rumah harus bersinergi bersama.

Jadi, sekolah ini khusus untuk orangtua wali murid sekolah. Dan, setelah materi selesai, untuk yang sudah lulus membuat portofolio bakat anak. Kami berharap, orangtua dapat berbahagia dengan pilihan karir anak, dan lebih rileks dalam mengasuh anak.

Berapa jumlah orangtua yang belajar di sekolah ini?

Sejauh ini karena murid kami ada 26 orang, maka tinggal dikali dua saja ya, jadinya 52 orang kira-kira.

Bagaimana soal biaya sekolah ini?

Untuk orangtua, beda biayanya dengan anak. Kurikulumnya pun lebih ke kurikulum kehidupan. Karena kami melihat, banyak hal yang di sekolah yang mubadzir selama ini, karena tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana contoh mengimplementasikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari?

Salah satunya, ketika belajar soal Pancasila, tentu harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dari sila pertama sampai sila ke 5.

Misal, sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Berarti dalam implementasinya berkaitan dengan Allah, syahadat, shalat, hubungannya yang hambluminallah. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, misalnya dengan membantu orangtua di rumah.

Kalau sila ketiga, persatuan Indonesia, bagaimana anak bersikap bersama teman-teman, berbeda suku dan ras tetapi jadi satu kesatuan. Sila keempat, kami selalu melakukan diskusi dua arah antara guru dan murid. Ternyata jika metodenya seperti itu, anak-anak idenya luar biasa ternyata kalau dibiarkan diskusi. Kelima,k eadilan sosial bagi seluruh Indonesia, salah satunya adil dalam bertindak. Guru kan juga harus adil, yang salah harus bertanggungjawab, dan yang benar harus diapresiasi.

Kritik dalam pendidikan masa kini?

Saya adalah produk pendidikan jaman dahulu, diciptakan untuk industri. Pada jaman kolonial dulu, kita dikondisikan sebagai karyawan, terus kita ini diciptakan sebagai robot. Urusan teknis saja, sedangkan sekarang teknis bisa digantikan robot. Value-nya kurang. Seharusnya, apa yang dari dalam kita keluarkan, bukan yang dari luar dimasukkan ke dalam. Sekarang banyak mahasiswa salah jurusan karena tidak mengenal dirinya-sendiri.

Seharusnya anak bisa diajarkan untuk melatih empati, tidak hanya pro kognitif tapi aspek yang lain tidak ditajamkan. Jasad anak kan juga butuh bergerak. Tapi di sekolah sekarang, masuk sekolah lalu belajar, tapi gak memberi kesempatan anak-anak untuk menyelesaikan fitrah jasmaninya dulu, maka seharusnya anak jasmaninya disiapkan fitrahnya, jadi ketika belajar siap. Kalau kebutuhan geraknya masih kurang, nanti biasanya kelas tinggi males-malesan, prestasinya bisa menurun.

Sekolah sekarang juga lebih ke menghafal. Padahal, hafalan kalau lupa bisa lihat google, tapi value-nya gak ada. Matematika harusnya bisa lebih kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kami lebih lihat ke value, pembelajaran sehari-hari apa, supaya lebih terasa manfaatnya.

Semua pelajaran kita koneksikan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak kami buat manja, melainkan harus mandiri. Kami bukan pelayan sekolah, mereka bertanggungjawab pada barang miliknya sendiri, makan cuci piring sendiri, mereka harus paham. Kemandirian jadi observasi kami. Sampai makan jadi pembelajaran di kami, mengajakan adab makan tapi tidak dipraktekkan tidak ada implementasi namanya. Maka kami ajarkan langsung, adab makan bagaimana, makanan yang sehat bagaimana.

Apa maksud dari pendidikan berbasis fithrah?

Manusia lahir sudah membawa fithrahnya masing-masing, bukan kertas kosong. Kita lahir sudah punya modal fithrah. Fithrah itu dari Allah, jadi gini misalkan, gak ada anak yang gak mengenal Tuhannya, orangtua yang membuat anaknya jadi nggak mengenal Tuhannya. Tidak ada anak yang tidak cinta belajar. Allah yang kasih karunia itu, tapi orangtua banyak yang gak belajar. Bekal fithrah sudah diinstal sama Allah sebetulnya.
Fithrah keimanan, fithrah belajar, fithrah seksualitas, fithrah bakat, fithrah keayahbundaan, modal-modal itu sudah diinstall, tinggal orangtua menyadari itu atau nggak. Fitrah itu pun harus seimbang. Orangtua hanya menajamkan bakatnya tapi keimannya enggak, jadi mungkin berhasil tapi nggak berakhlak. Jadi saling berkaitan gitu.

Ketika fitrah seksualitasnya tidak tumbuh dengan paripurna, dia pintar tapi LGBT itu kan gak tuntas juga. Semua holistik harus berkaitan satu sama lain dan tumbuh sama-sama, kalau tumbuh satu aja jomplang jadinya. Pendidikan berbasis fitrah lebih kepada dari dalam kita keluarkan, bersinarlah anak-anak melakukan sesuatu tanpa paksaan. Sekolah menjadi rumah kedua.

Bagaimana soal kurikulum sekolah untuk orangtua ini?

Orangtua kurikulumnya, ada semacam framework-nya dari Pak Harry, kemarin mengajarkan open mind berbasis fitrah. Kemudian fitrah keimanan beliau juga yang isi. Nanti sebelum melakukan pendidikan berbasis fitrah, kita harus menyucikan diri, namanya tazkiyatun nafs. Itu sama ustadz Feruz. Fitrah bakat pakar yang lain lagi. Fitrah bakat nanti diampu Bu Dina Syarifah, praktisi talents mapping. Kalau fitrah seksualitas oleh Bunda Septiana Murdiani, beliau pakar keilmuan keluarga dan sekolah alam. Fitrah jasmani dengan salah satu maestro, beliau yang membuat kurikulum outbond, ada juga pakar gizi.

Kegiatan operasi semut yang melibatkan anak-anak ini menumbuhkan fitrah yang mana?

Semua fitrah, dalam satu kegiatan harus holistik semuanya, tidak hanya satu fithrah saja. Cinta lingkungan, cinta kepad ciptaan Allah, ada juga fitrah seksualitas karena didampingi ibu dan ayahnya. Kemudian juga melatih apa yang harus dilakukan ketika menemukan sampah, bagaimana kalau ketemu orang dan juga lingkungan baru.

 

Eveline Ramadhini