Taushiyah MUI Menyambut Idul Fitri

by
Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin (tengah), didampingi Ketua LPPOM-MUI Lulmanul Hakim (kanan) dan Wasekjen Bidang Hukum Rofiqul Ahmad (kiri). Foto: Zuhdi.

MUI mengajak kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menjadikan hari raya Iedul Fitri sebagai momentum menjaga kohesi sosial, perdamaian, memperkuat, dan mengokohkan kembali ikatan ukhuwah.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Menyongsong datangnya hari raya Iedul Fitri 1439 H/2018 M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat menyatakan umat Islam serempak melaksanakan hari raya Iedul Fitri 1439 H / 2018 M pada Jumat (15/6).

“Secara umum (kesamaan hari raya) ini mengurangi ketegangan, dengan tidak ada perbedaan. Iedul Fitri menjadi momentum shilaturahim umat Islam pada khususnya,” ujar Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (12/6).

Lebih lanjut, kata Ma’ruf, MUI Mengajak kepada Umat Islam setelah menjalani serangkaian ibadah selama bulan Ramadhan dapat lebih meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam dan kepeduliannya terhadap sesama terutama kepada kaum dhuafa, fakir-miskin dan anak yatim-piatu, dengan mengeluarkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

“MUI menghimbau agar dalam pembagian zakat, infak dan sedekah dilakukan perencanaan secara baik dan benar dan diperlukan dikoordinasikan dengan aparat keamanan terkait, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan,” saran dia.

Selain itu, MUI mengajak kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menjadikan hari raya Iedul Fitri sebagai momentum menjaga kohesi sosial, perdamaian, memperkuat dan mengokohkan kembali ikatan dan hubungan antar sesama saudara seagama (ukhuwah islamiyah), saudara sebangsa (wathaniyah), saudara sesama manusia (insaniyah).

Terlebih, ungkap Ma’ruf, Iedul Fitri tahun ini dekat dengan agenda politik nasional berupa Pemilukada, Pemilihan legistatif dan Pemilihan Presiden 2019. Perbedaan aspirasi politik merupakan hal biasa yang harusnya dipandang sebagai rahmat dalam kehidupan berbangsa dan bemegara. Bukan menjadi penyebab terjadinya saling marah (taghadhub), salah paham (su’uttajhhum), serta saling mencerca dan mencaci maki (takhashum).

Semangat Iedul Fitri diharapkan dapat mendorong terbangunnya pemilu yang lebih damai, saling memahami (husnuttafahum) yang dilandasi nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesantunan dan keadaban.

“Majelis Ulama sifatnya mengimbau, kalau ada yang diduga melakukan pelanggaran (politik praktis), maka itu menjadi wewenang Bawaslu dan Kepolisian untuk menindak,” terangnya.

Karena itu, MUI mengharapkan kepada pemerintah, khususnya pihak kepolisian, agar dapat menjamin keamanan dan kenyamanan umat Islam dalam merayakan Hari Raya ledul Fitri, baik pada saat perjalanan pergi dan pulang mudik, malam takbiran maupun pada saat pelaksanaan shalat ldul Fitri di lapangan, di masjid, surau, atau tempat lainnya.

“Para khatib shalat Iedul Fitri selain menyampaikan pesan peningkatan keimanan dan ketakwaan, persaudaraan dan kedamaian kepada para jamaah, juga mengingatkan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya terorisme, narkoba, minuman keras, LGBT dan segala bentuk perbuatan mungkarat lainnya,” seru Ma’ruf.

“Serta memanjatkan do’a untuk seluruh umat Islam di dalam negeri maupun luar negeri, khususnya umat Islam di Palestina, Rohingya, Kashmir, dan Syiria yang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi kemanusiaan,” sambungnya.

MUI, simpul Ma’ruf, mengingatkan kepada masyarakat, khususnya saat menggunakan media sosial untuk tidak menyebarkan mformasi yang berisi kebohongan (hoax), ghibah, fitnah, namimah (adu domba), aib, ujaran kebencian, dan hal-hal sejenis yang tidak layak disebarkan kepada khalayak.

“Hari raya adalah yaumul marhamah, hari kasih sayang. Karena itu tidak boleh dinodai oleh hal-hal yang dapat merusak kesucian kita (umat Islam) kembali kepada fitrah,” tandasnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur LPPOM-MUI Lukmanul Hakim menanggapi maraknya makanan parsel (bingkisan) lebaran dan daging sapi impor menyerukan umat Islam untuk memilih parsel dengan produk yang telah tersertifikasi halal.

“Untuk daging impor, semua ada pengawasan dan itu sudah tersertifikat halal. Tetapi (daging) oplosan ini yang harus kita hindari. Kita berharap petugas di lapangan yakni aparat kepolisian dapat mencegah hal itu beredar,” ujar Lukman.

Guna mengawasi peredaran daging oplosan secara massif, LPPOM-MUI terus melakukan upaya koordinasi dengan aparat kepolisian tidak hanya menjelang bulan Ramadhan. Tapi juga secara berkala dan mengimbau masyarakat terkait kepatuhan halal.

“Sebab, kejadian ini terus berulang. Dimana ada kesempatan disitu ada kasus, sehingga kita terus menjalin komunikasi agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Turut hadir Waketum MUI Zainut Tauhid Sa’adi, Wasekjen Bidang Kerukunan Najamuddin Ramli, Wasekjen Infokom Amirsyah Tambunan, Wasekjen Ekonomi Lukmanul Hakim, Kabid Infokom, Kabid Fatwa, dan Wasekjen Bidang Hukum Rofiqul Ahmad.

Ahmad Zuhdi